Selasa, 30 November 2021

Jangan Paksa Kami Untuk Memaklumi




Rasa Diam Kami

Dan Seakan Tak Melihat

Bukan Buta Dengan Segala Kesalahanmu


Ada Aturan

Seharusnya Kau Lakukan Dan Penuhi

Faktanya Kamu Adigang Adiguno

Seperti Rojo Koyo


Lalu Janganlah Paksa Kami

Untuk Selalu Memaklumi

Atas Segala Keegoisan Yang Kau Miliki


Seakan Kami Rela

Jika Tanpamu 

Semua Akan Lebih Baik


Dari Pada Keberadaanmu

Menyiksa Kenyamanan

Mengganggu Kemaslahatan

Banyak Orang


Sekali Lagi

Jangan Paksa Kami

Untuk Selalu Memaklumi


Karena Itu Tak Pantas

Kepada Diri Yang Penuh Keangkuhan

Seperti Manusia Macam Batu Sepertimu

Sabtu, 27 November 2021

Senam Goyang Kewer-Kewer



Ahad manis penuh semangat. Jangan bermalas-malasan meski hujan menyelimuti. Mari mencoba senam kewer-kewer.

Senam ini, kalau dilihat postingannya sudah lima tahun lalu, namun saya baru tahu ketika pelatihan kemarin, untuk menggugah agar kita tetap semangat dan tidak mengantuk. Dan sangat lucu menggugah semangat. Apalagi dibawakan bersama-sama.

Nah, ini alternatif baru, jika di madrasah selesai senam Islam Nusantara kita bisa senam kewer-kewer. Tentu, dengan gerakan yang disesuaikan dan lebih kreatif untuk anak-anak usia madrasah. 

Mengingat, olahraga itu penting dan kaya manfaat, menghindari ketegangan atau stres sehingga ketika berolahraga jangan dijadikan beban. Olahraga harus yang membuat hati senang, ceria salah satunya cari musik atau video yang membuat kita semangat olahraga.

Kita tahu jenis olahraga sangat banyak. Ada yang ringan bahkan ada yang sangat berat, bagi yang belum mengenalnya sama sekali. Intinya, tetap saja gerak, meski hanya jalan selama setengah jam atau empat puluh lima menit.

Menciptakan Lingkungan Literat


Lingkungan literat artinya lingkungan yang berarti memberikan suatu dukungan dalam kegiatan literasi. Guru dan siswa harus bersama-sama mampu menciptakan lingkungan tersebut dengan berbagai cara. Dan tentunya dengan dukungan pimpinan atau teman sejawat.

Bagaimana menciptakan lingkungan demikian? Ibu Wiwin sebagai nara sumber menyampaikan, bahwa setiap peserta memberikan satu atau dua ide untuk bisa diterapkan di sekolah masing-masing  dengan lingkungan literat. Kemudian ide tersebut ditempel dan dibahas bersama.

Sebelumnya beliau memberikan contoh, lingkungan literat itu yang setidaknya memajang hasil karya siswanya misalnya di kelas, di mading sekolah. Tujuannya apa untuk merangsang mereka membacanya, salah satunya. Misalnya dengan berjalan sambil melihat karyanya sendiri, lalu ada rasa percaya diri dan terus ingin berkarya.

Sebenarnya ini pun sudah kami laksanakan, dulu di kelas IV-A penuh karya, di kelas II tiga tahun lalu, kami juga membuat kaligrafi 99 Asmaul Husna dan anak-anak tinggal mewarnai dan kami tempel mengelilingi di dinding kelas, sampai-sampai kelas lain penasaran dan ingin melihat dan membacanya. Tetapi, mungkin ada yang berpendapat, bahwa hal demikian membuat kotor kelas. 

Jika ditemukan demikian, tetap saja lanjutkan berkarya dan menempelkan karya siswa di kelas. Kemudian sering di update, misalkan di sesuaikan tema pembelajaran. 

Kembali, kepada satu, dua ide menciptakan lingkungan literat, yang saya ingat diantaranya:

1. Siswa membuat poster motivasi

2. Setiap Masuk Membuat Satu Kalimat dan di tempel di papan cerita, hal demikian guru harus menyediakan medianya

3. Duta Literasi (diadakan lomba, bisa antar kelas bahkan satu madrasah, di sini guru harus mempersiapkan lombanya apa, jenis penilaiannya, dan reward)

4. Pojok Baca (sudah terlaksana, Alhamdulillah)

5. Menghidupkan kunjungan perpustakaan secara rutin

6. Membuat pohon literasi 

7. Menempel semua karya di dalam kelas

8. Menghidupkan mading madrasah

Sebenarnya ada sepuluh lagi ide dalam rangka untuk menciptakan lingkungan literat. Lagi-lagi mengapa begitu penting literasi, karena literasi akan memberikan peran besar terhadap perkembangan kualitas siswa dan juga gurunya. Jika lingkungan itu tercipta, budaya literasi akan mudah berjalan. Seperti minimal budaya membaca, menulis bukan menjadi suatu beban.

Menciptakan lingkungan literat, harus didukung oleh banyak pihak, tak lain adalah pimpinan madrasah, siswa itu sendiri dan kreativitasnya guru. Tampil pada saat menjadi petugas upacara, perwakilan lomba puisi, pidato, menjadi pembawa acara di suatu acara madrasah, itu merupakan pengalaman berliterasi yang manfaatnya jangka panjang, artinya sampai dewasa akan terbentuk dan sangat berguna. Misalnya  ketika dewasa dia akan menjadi pembawa acara di organisasi yang dia ikuti. 

Nah, kurang lebih manfaatnya literasi sangat besar. Menjadi guru, tidak hanya menyampaikan keilmuan, namun harus memberikan pengalaman berarti. Sehingga mari, terus galakkan kegiatan literasi, dan ilmu yang sudah kita dapatkan di pelatihan ini, diterapkan minimal lima kali dalam satu semester, pesan dari kesepakatan kepala madrasah di rapat KKG. Semoga tidak hanya menjadi sebuah wacana, tapi betul-betul di terapkan.

Pelatihan Literasi III




Pertemuan di pelatihan ini adalah pertemuan untuk dua materi sekaligus penutupan. Di materi awal di sampaikan ada pengertian literasi, kemudian pola berfikir yang harus dimiliki oleh guru dan bagaimana menciptakan lingkungan literat. Semua materi yang disampaikan sangat jelas, mudah di fahami.

Peserta pelatihan tidak hanya menyimak atau mendengarkannya. Tetapi ada tugas yang harus dikerjakan baik secara kelompok dan individu. Sebelum diskusi, ada pemaparan tugas yang kedua, tetapi dari semua peserta di tugas dua ini, mayoritas belum melaksanakan, karena suatu hal. Alhamdulillah dari perwakilan guru perempuan saya sudah menerapkan di kelas, saya laporkan apa adanya dengan dua permainan yakni kotak ajaib dan pola huruf. Lalu ada salah satu Bapak Guru beliau malah lebih kreatif dengan berinovasi permainan menemukan harta karun dengan menyebar. Sehingga siswanya semua aktif dan kelas menjadi hidup.

Di tugas pertama, dipaparkan bahwa literasi itu meliputi banyak hal diantaranya membaca, menulis, menyimak, mengolah informasi, memahami informasi dan berbicara. Ketika nara sumber bertanya? Siapakah diantara Bapak/Ibu guru yang suka membaca, saya mengangkat tangan, dan ternyata saya sendiri dari semua peserta. Karena sendiri, beliau akhirnya memberikan tugas pertama yakni topik membaca.

Diberikan pertanyaan yakni menurut Bapak/Ibu membaca itu bagaimana. Dan ternyata jawabannya memang beragam, ada yang malas, lekas membaca mengantuk, dan rata-rata menyadari membaca itu penting namun, untuk mengawali dengan niat benar dan melaksanakan itu susahnya bukan main. Itu kendala tentang membaca.

Lalu di tugas kedua, ada pemaparan bahwa pola pikir kita itu harus berkembang dan kalau bisa jangan sebaliknya, apa lagi kita sebagai guru pendidik. Bagaimana pola berfikir yang berkembang, kategorinya pun beragam, namun dituangkan dalam sebuah kalimat, lalu kita gunting dan kita tempel pada kolom pola berpikir berkembang. Saya akan memaparkannya pola pikir berkembang, diantaranya:

1. Belajar dari siapapun

2. Sering sharing atau berbagi keilmuan

3. Jangan malu bertanya

4. Teruslah menggali keilmuannya

5. Jangan cepat puas terhadap sesuatu

Sedangkan pola berfikir tidak berkembang, diantaranya:

1. Mudah menyerah

2. Merasa paling tahu dan bisa

3. Tidak mau menerima kritik dan saran

4. Belum berusaha, sudah menyerah

5. Gengsi mengakui kelemahan

Di materi kedua ini, sebagai pendidik harus kita sadari bersama penting sekali membangun pola pikir yang baik dan berkembang. Jika guru itu mempunyai pola pikir berkembang, tentu siswanya pun juga akan ikut berkembang, sekalipun sedikit.

Sebaliknya, jika guru mempunyai pola berpikir belum berkembang bahkan tidak berkembang, misalnya membuat media itu suatu beban, mengajar tanpa ada niat yang betul atau kesungguhan, tidak disiplin, tampil apa adanya, ujung-ujungnya mengarang nilai. Itu suatu hal yang kurang baik dan patut kita hindari. 

Komitmen, kemampuan pedagogik, kemampuan kepribadian, kemampuan profesional dan sosial benar-benar harus dimiliki seorang guru atau pendidik. Lalu kita pegang teguh dan dilaksanakan.



Bagaimana menciptakan lingkungan yang literat, terutama bagi siswa. 

Cek di coretan selanjutnya 😊


Salam Literasi

Jaya

Jaya 

Jaya

Jumat, 26 November 2021

Prasangka




Ada Prasangka

Datang Begitu Cepat

Sekelebat Mata Berkedip


Berani Menyimpulkan 

Tanpa Memperjelas Fakta

Hanya Karena Sesuai Prasangka Mereka


Lagi Tanpa Memperdalamnya

Hanya Terbangun Sesuai Pikiran

Dan Rasa Dirinya


Wajar Atau Tidak

Boleh Atau Tidak

Karena Didukung Fakta Yang Ada


Janganlah Demikian

Sebab Akan Semakin Memperkeruh

Segala Yang Kau Hadapi Nanti

Kamis, 25 November 2021

Fenomena Tanggal Lahir




Orang Jawa biasanya dari generasi ke generasi, mereka sangat memegang penuh adat istiadat serta budayanya. Mereka akan mengingat hari kelahiran orang terdekatnya dan dirinya sendiri. Hari kelahiran yang dihitung menurut hari pasaran Jawa. Misalnya Ahad Pon, Senin Wage, Selasa Legi, Rabu Kliwon dan seterusnya.

Selain hari kelahiran, biasanya juga ada hari wafat atau disebut dengan "nas". Hal ini bertujuan selain untuk mengingat, sebagai tanda misalnya untuk selamatan, tasyakuran dan genduri. Inilah salah satu bagian dari suatu budaya, yang harusnya terus kita lestarikan.

Seiring berjalannya waktu dan zaman yang semakin maju, banyak generasi hari ini yang tak hafal hitungan Jawa, bahkan hitungan hari dan masih banyak lagi jenisnya. Sama dengan bulan-bulan Islam atau Hijriah, sebagian kecil dari mereka belum hafal. Generasi hari ini lebih senang mengingat pada sebuah tanggal umum atau masehi saja.

Lalu, yang lebih mengejutkan adalah ketika ada sebuah data yang mengharuskan siswa di kelas untuk mengisi. Ada data nama, alamat, tempat tanggal lahir serta tahun dari orang tua atau walinya dan nomer handphone. Di data nama, alamat, nomer handphone anak-anak masih hafal dan lancar mengisinya dan menuliskan.

Namun, apa yang terjadi, ketika dihadapkan dengan sebuah data tempat, tanggal lahir dan tahun dari orang tua atau walinya dan pendidikan terakhirnya, sebagian besar dari mereka belum hafal bahkan tidak tahu.

Menurut saya hal ini, sebagai guru kita harus sering menghimbau mereka untuk tahu dan hafal. Fungsinya apa? Salah satunya sebagai bentuk mempermudah kita dalam suatu kebutuhan misalnya mengisi data, bentuk penghormatan untuk selalu mengingat misalkan ulang tahun atau tanda lahir, meskipun tidak wajib untuk merayakannya.

Seakan dunia terbalik, mereka tak begitu mengingat tanggal lahir dari orang terdekatnya termasuk orang tuanya, namun mereka sangat hafal tempat tanggal lahir dari idolanya yang dari publik figur. Hm...yang kita tahu publik figur ini bukan yang lokal saja, melainkan yang internasional. Mereka hafal betul nama, tempat tanggal lahir, warna kesukaan, makanan dan minuman favorit dengan sangat mendetail. 

Pertanyaan besar, mengapa kita mengingat dengan detail ulang tahun mereka? Tapi tidak untuk orang tua kita?

Rabu, 24 November 2021

Hari Guru Nasional 2021



Tak menyangka, ketika berangkat pagi-pagi tujuannya untuk memberikan pengumuman tentang vaksin dan persiapan Penilaian Akhir Semester Ganjil. Ternyata siswa kami sudah mempersiapkan segala bentuk ucapan untuk memperingati Hari Guru Nasional 2021.

Perwakilan dari mereka sudah membuatkan video pendek, dan ada untaian kalimat. Lalu di kelas juga ada kue, dan beberapa bingkisan sebagai simbol dari ucapan mereka. Sebetulnya simbol ini kami sama sekali tak mengharapkan, namun harus kita hormati dan di hargai. Mereka sangat manis sekali, berbagai karakter disatukan dalam keluarga kelas VI. Sudah sekitar tiga tahun bersama wali kelas yang sama, sehingga mereka hafal betul karakter pembelajaran dan seperti apa gurunya ini.

Dalam untaian kalimat mereka, saya menggaris bawahi ada ucapan terimakasih dan mohon doa serta mohon maaf selama menjadi orang tua dari mereka semua, banyak karakter anaknya yang ajaib. Namun, mereka meyakini, bahwa setiap proses yang dilewati bersama akan membuahkan hasil yang bermanfaat. Meski Bu Filza suaranya keras, disiplinnya kuat serta sering menegur, manakala ada dari kami yang kurang benar, itu semata untuk kebaikan dan sayang kepada kami.

Wah, disitu saya yang mendengarkannya terharu, namun menahan air mata, karena setelah acara tersebut, saya masih harus menuju di acara lain, bayangkan kalau saya nangis, pasti akan ribet jadinya. Dari sebagian mereka juga sama, ada sebagian siswa perempuan yang sangat peka hatinya dan terbawa suasana sempat meneteskan air mata. Lalu ada siswa laki-laki dengan kekhasannya mereka, lugu, lucu, senyum dan sedikit heran.

Saya pribadi sangat bahagia, bangga terhadap siswa khususnya di kelas VI ini. Kita saling melengkapi, dan saling bergandeng tangan untuk menuju cita-cita setinggi mungkin, berlomba-lomba dalam kebaikan. 

Saya pribadi, mungkin selama menjadi guru mereka, tentu banyak kekurangan dan belum memberikan yang sesuai keinginan mereka. Namun, saya tak lupa untuk selalu berusaha maksimal dan memberikan terbaik buat semua anak didik di kelas VI, tanpa membeda-bedakan. Saya juga mohon maaf dan beribu terimakasih kepada semuanya. Saya hanya bisa memohon semoga kalian semua sukses, diberikan kemudahan, menjadi anak-anak solih solehah, harapan bangsa yang ahli ilmu, ahli Quran di masa depan.

Buat guru-guru semua di manapun berada, selamat memperingati Hari Guru Nasional Tahun 2021. Semoga tetap semangat, tulus ikhlas dalam mengemban amanah mencerdaskan bangsa, melahirkan banyak generasi yang diharapkan bangsa dan selalu meningkatkan profesionalitas nya. Serta jangan lelah, untuk memberikan contoh terbaik kepada mereka.

Salam semangat.



Don't Gripe



Bisa Karena Terbiasa

Sudah Biasa Bisa

Bentuk Kepercayaan Terhadap Diri Sendiri

Sudah Biasa Mampu

Bentuk Menerima Segala Tanggung Jawab Yang Diampu


Bukankah Segalanya

Sudah Tertulis Untuk Menjadi Sebuah Takdir

Menjadi Fakta

Untuk Membangun Sebuah Hikmah Besar

Dalam Setiap Peristiwa


Lalu Mengapa

Masih Sibuk Mencari Kesalahan

Masih Sibuk Bertanya

Kenapa Harus Aku

Don't Gripe !

Selasa, 23 November 2021

Coretan Senja



Sudah Saatnya Kita Bangun

Mental Sehat Kegigihan Yang Kuat

Untuk Membangun Peradaban

Indonesia Yang Lebih Bermartabat

Menjadi Manusia Yang Sadar

Dan Faham Serta Mengerti

Tidak Semena Pintar Tetapi

Tak Punya Hati Nurani


Tidak Sepatutnya,

Juga Sangat Tidak Wajar, Jika

Kebejatan Moral Dianggap Biasa

Mari Kita Dengan Terang 

Menentang Dengan Segala Upaya

Menegakkan Hukum Dengan Sejelas-jelasnya


Sadarkan

Tegaskan

Bahwa Menjadi Manusia Yang Baik

Tak Ada Ruginya

Jika Memang Tak Mau Menghargai, Menghormati Serta Melindungi

Jangan Coba Untuk Menyakiti

Apapun Bentuknya !

Senin, 22 November 2021

Standar Kompetensi Guru




Berkesempatan untuk membuka kembali buku-buku di bangku kuliah, adalah momen yang langka. Mengapa demikian, karena di hari ini, merasa waktu yang ada terisi dengan kegiatan yang amat padat. Oleh karena itu, waktu yang ada, sambil menunggu jam istirahat malam merupakan waktu yang saya rasa cocok dan nyaman untuk membaca.

Bahkan ada kalanya, jika tidak bisa tidur, dibuat membaca akan terasa kantuknya. Wah, kalau satu hal jangan ditiru. Tentu, membaca di waktu demikian, tidak sekali duduk langsung habis membaca satu buku artinya hanya poin yang menurut saya penting untuk saya pelajari dan sebagai bahan refleksi diri, menyegarkan dan koreksi diri. 

Salah satunya di Bab Standar Kompetensi Guru. Kita tahu guru merupakan salah satu profesi yang mulia. Kita juga tak asing lagi dengan julukannya bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Sekali lagi sebagai pengingat diri saya sendiri, bahwa kadang kita lupa dengan standar yang harusnya kita miliki. Baik standar minimal atau standar yang wajib di profesi masing-masing. Karena, banyak kesibukan, tuntutan dan kegiatan lain.

Maka saya akan mecoba sedikit  menguraikan standar kompetensi guru yang harus dimiliki dan diketahui. Ada kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Di setiap kompetensi itu, ada penjabarannya.

Kemampuan pedagogik, bahwa guru harus mengetahui, memahami, memiliki ketrampilan untuk mengelola segala proses pembelajaran. Di sini, guru dituntut faham serta mengetahui karakteristik serta cara mengembangkan kemampuan siswanya, memahami seluruh perangkat pembelajaran dan evaluasi.

Kompetensi kepribadian, berkaitan dengan tampilan pribadinya yang positif seperti sopan, disiplin, berwibawa, empati dan lainnya. Kompetensi profesional, bahwa di kompetensi ini kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki agar segala tugas yang ada diselesaikan dengan tepat dan baik.

Kompetensi profesional ini berkaitan dengan kinerja atau prakteknya di lapangan dan terus akan berkelanjutan. Artinya, kompetensi profesional tidak berhenti satu dua hari saja. Melainkan secara terus menerus (continue).

Lalu kompetensi sosial, bersikap baik dalam berinteraksi baik lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. Karena, mungkin kita akan berada di lingkungan yang mungkin budaya dan bahasa berbeda. Sehingga nilai kompetensi sosial perlu kita pegang teguh di mana pun kita berada. 

Terus dan terus belajar

Tanpa mengenal lelah

Meski semua catatan di atas saya temukan dibuku kuliah yang super berantakan dalam buku binder, saya uraikan dengan bahasa saya sendiri. Tentu masih banyak kekurangan, yang paling utama adalah terimakasih sudah membacanya.

Salam Literasi

Minggu, 21 November 2021

Dreams




Jadikan Segala Imajinasi

Jadikan Segala Angan Baik

Menjadi Sebuah Mimpi 

Menjadi Doa Dan Kenyataan


Bukan Hanya Candaan

Bukan Hanya Cita

Tapi Benar Adanya Usaha

Ikhtiar Yang Nyata


Dreams

Bukan Muncul Ketika Lelap

Dia Akan Tetap Hidup 

Membara Menjadi Usaha Dan Ikhtiar


Hingga Banyak Orang

Melihat Bersorak Tepuk Tangan

Dan Mewajarkan Bahwa Kesuksesan

Lalu Pantas Keberhasilan Didapat

Jumat, 19 November 2021

Senjata Jitu Untuk Tetap Menulis, Satu Tahun Mengawali Dunia Menulis (Literasi)




Saya mempunyai notepad yang berisi tanggal. Dimana tanggal tersebut akan saya hapus, jika saya sudah berhasil posting satu tulisan. Alhamdulillah dari notepad tersebut, saya bisa melihat seberapa saya rutin menulis. 

Saya rasa ini adalah senjata jitu, jika kemalasan dalam menulis melanda. Ketika di tanggal itu, dan hari itu belum menulis dan memposting, maka tanggalnya akan tetap tertulis. Tetapi, jika sudah berhasil di tulis, di edit dan sudah di publish. Maka list akan saya hapus. 

Jika belum menulis, saya artikan sebagai hutang dalam menulis. Saya pun tak terasa sudah menulis tepat satu tahun di November ini. Bagaimana mengawali dunia menulis ini, masih terus membekas.

Sebenarnya bukan kuantitas yang saya harapkan. Tetapi, membangun kebiasaan yang sekaligus menjadi hobi agar tetap senang melakukannya. Dan mendalami prosesnya.

Bagaimana isi tulisannya, kalau di pikir isinya sebenarnya tidak begitu berat. Kadang hanya sekilas aktifitas yang saya alami. Artinya, tingkatan menulis saya masih sebatas menulis saja.

Satu tahun memperingati, saya menulis ini self reward nya adalah dengan beberapa pesan buat diri sendiri. Diantaranya: 
1. Jangan cepat puas
2. Terus menulis
3. Segerakan buku solonya
4. Tetap semangat

Gambar di bawah ini hanya sebagai motivasi diri, sejauh mana tulisan yang sudah ditulis, lalu bagaimana tindak lanjutnya.



Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua dosen, guru, keluarga serta teman-teman yang selama ini selalu mendukung, dengan membaca atau hanya sekedar mengunjungi blog saya. Lalu kritik serta sarannya akan menjadi masukan yang sangat berarti.

Semangat Literasi

AKG 2021



Assessment Kompetisi Guru yang diselenggarakan Kemenag tahun 2021. Untuk wilayah Tulungagung, hari ini Sabtu 20 November 2021 bertempat di laboratorium komputer MAN 1 Tulungagung. Alhamdulillah dari madrasah kami, ada lima guru yang mengikuti AKG ini.

Ketika sudah sesuai jadwal dan jamnya, kami masuk dalam ruangan. Di pandu oleh panitia untuk mengambil tempat duduk yang kondisi komputernya menyala. Saya berkesempatan duduk di bangku deret ketiga sebelah kanan.

Saya berada di ruang 1, bersama kepala madrasah lembaga kami. Lalu ada teman dari lembaga satu kecamatan. Namun, apa yang terjadi, hingga pukul sembilan kurang seperempat, aplikasi yang digunakan belum bisa dioperasikan.

Kami pun, berkomunikasi teman-teman yang di ruangan 2, ternyata sama. Lalu ada panitia berkata bahwasannya, terjadi trouble itu satu Indonesia. Saya kira hanya satu lokal ternyata malah satu Indonesia.

Memang maklum saja, semua dibawah naungan Kemenag, melaksanakan AKG tentu aplikasi ini yang menggunakannya juta orang.

Laboratorium komputer di MAN 1 Tulungagung sangatlah nyaman. Di komputer yang tersedia, banyak dari kami yang memanfaatkan untuk browsing sambil menunggu bisa login. Banyak dari kita juga bermain gawai. Sedangkan saya sendiri, untungnya membawa permen, sambil makan permen dan menulis di gawai.

Semoga AKG kali ini, bisa selesai sehari ini. Meski kami yang ada di sesi satu, kabar terbarunya akan mengerjakan di sesi kedua. Mari terus bersemangat.

Ternyata, kami menunggu sampai di sesi kedua, tetap belum bisa. Kemudian dari panitia setempat mengumumkan bahwa pelaksanaan AKG kali ini ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Dengan, berat hati semua peserta pulang, namun yang perlu dijadikan catatan adalah, ini sebuah kesempatan berharga agar semua para guru bisa mempersiapkan dengan matang, baik mental dan belajarnya. Sedangkan untuk penyelenggara, agar lebih matang dan siap dengan segala kemungkinannya. 

Salam tetap semangat

Kamis, 18 November 2021

Persiapan ANBK

(foto diambil ketika, waktu simulasi)


Jumat, 19 November 2021 agenda di sekolah adalah kerja bakti. Dalam rangka persiapan untuk ANBK kelas V. Sudah tak asing lagi apa itu ANBK, Assessment Nasional Berbasis Komputer. 

Ada juga AKMI, Assessment Kompetensi Madrasah Indonesia. Alhamdulillah, madrasah kami mempunyai kesempatan untuk mengikutinya. Untuk pesertanya adalah siswa di kelas V, yang wali kelasnya adalah beliau Bu Azizah.

Meski hanya untuk kelas V, kami juga bersama mensukseskan program keduanya yakni ANBK dan AKMI.

Semua bergotong royong, dalam memaksimalkan usaha agar program berjalan lancar. Mulai dari Bu Azizah yang menyiapkan segala kemampuan siswa, mengusahakan pinjam laptop para guru. Karena memang, kami masih belum sepenuhnya mengcover segala fasilitas madrasah. Kemudian ruangan, yang idealnya di laboratorium komputer, kami semua bekerja sama untuk menyulap ruang guru menjadi laboratorium sederhana. Demi kelangsungan assessment ini.

Seperti hari ini, ruang yang kelas VI, dengan penuh kerelaan harus di buat untuk menyimpan barang-barang dari ruang guru. Semua dibantu oleh guru dan siswa kelas V dan kelas VI. Lalu tetap lokal untuk menerima tamu jadi satu dengan ruang kepala sekolah, serta ruang lantai dasar kelas 1, untuk ruang panitia. Alhamdulillah, kerja bakti dan gotong royong berjalan lancar. 

Ruangan pun bersih, dan insyallah nyaman buat anak-anak yang menyelenggarakan assessment. Memang kami banyak kekurangan di sana, di sini, tetapi, kami yakin hal ini tidak akan mengurangi semangat siswa dan para guru untuk terus berjuang mengukir prestasi dan sukses di program ini.

Saya pribadi sangat mengapresiasi kepada guru-guru yang hari ini ikut andil. Pak Muhsin, yang sibuk menjadi teknisi, membuat pemberitahuan, plakat-plakat, mencetak nomor. Pak Muhsin, yang sabar melayani Bapak/Ibu yang suka rempong? Terutama saya, yang suka "menggupuhi" membuat tergesa-gesa dan banyak minta bantuan. Hihihi, terimakasih banyak Pak Muhsin.

Lalu ada Bu Shely, yang menyapu, menyeret-nyeret bangku dan kursi dibantu dengan Mas Novi dan kawan-kawan dan memotong kartu. Bu Azizah, yang menyeka kaca, menyapu, memberi wangi-wangian ruangan, memasang taplak meja. Bu Azizah juga mempersiapkan segala konsumsi buat peserta, panitia ANBK. Saya yang banyak vokal, menginstruksikan kursi diletakkan dimana, membuang tong sampah di tempat pembuangan akhir, mempersiapkan tisu, handsanytizer, air mineral buat tamu, menata barang-barang dari ruang guru di ruang kelas VI. Bahkan Kepala Madrasah pun tak luput dari kerja bakti, beliau ikut memasang gorden, dan Pak Nur memasang kabel-kabel untuk stopkontak laptop. 

Beliau Pak Miswan sempat ada tamu, sehingga beliau masih bersama tamu pentingnya. Bu Choir dan Bu Ela, awalnya masih disibukkan praktek pelatihan lalu ikut mempersiapkan ruangan panitia di lantai dasar, kelas 1. Ada Pak Edi juga, yang membantu mengkondisikan anak-anak di kelas. Semua berjalan lancar dan semua bersih.

Tinggal menunggu hari H, yakni Senin dan Selasa, 22 dan 23 November 2021. Semoga ANBK besok berjalan lancar tanpa kendala apapun. Karena di dua hari itu, saya juga menjadi pengawas ANBK di lembaga lain. Sehingga, tidak bisa melihat secara langsung.

Salam terus kompak untuk Bapak/Ibu Guru.

Semangat Selalu

Rabu, 17 November 2021

Literasi Dengan Media Pola Huruf Dan Kotak Ajaib



Hari ini, kegiatan literasi di kelas VI. Literasi dengan menggunakan media kotak ajaib dan pola huruf serta menempel kata yang ditemukan pada media koran. Literasi di kelas VI ini bertujuan untuk siswa bisa membedakan bunyi huruf, perbedaan suku kata dan kata, serta nanti berkelanjutan pada penyusunan kalimat.

Kenapa hal ini penting, kadang kita tidak menyadari di kelas atas seperti kelas VI, ditemukan anak yang mungkin membacanya masih sekedar membaca. Padahal kita mengetahui, bahwa tahap di kelas VI, harusnya membaca dengan memahami. Untuk itu kegiatan literasi sudah waktunya benar-benar kita terapkan.

Menerapkan kegiatan literasi, tentu harus dengan suasana yang menyenangkan, agar siswa tidak bosan. Kegiatan hari ini, merupakan kegiatan pelatihan yang berkelanjutan. Sehingga tidak semata untuk praktek memenuhi tugas, namun saya benar-benar terjun mengetahui bagaimana pengaruh, peran media, langkah pembelajaran dan sebagainya. 

Karena selama ini, kegiatan literasi kelas VI hanya sebatas membaca di pojok buku di kelas. Hari ini selain membaca mereka juga aktif dalam berbicara, bergerak, bertukar pendapat dan melakukan aktifitas.

Media kotak ajaib dan pola huruf ini, saya peroleh dari materi pelatihan kedua, di tanggal 14 November 2021, Senin lalu. Hari ini saya terapkan kepada anak-anak di kelas VI. 

Mereka sangat antusias melakukan kegiatan literasi ini. Dan mereka tidak terasa bahwa mereka sebenarnya belajar, tapi diselingi dengan bermain. Di kelas VI kali ini untuk media pola huruf, dan mencari kata dalam koran sesuai pola huruf yang dibagikan, dikerjakan secara berkelompok. Ada delapan pola huruf yang saya siapkan, diantaranya :

e, n, a, m, s, k, t, b = diantara delapan huruf, ternyata ada kendala pada huruf "e" yang hanya sedikit mendapatkan kata dalam koran. Untuk yang paling banyak adalah kata yang diawali dengan huruf "m".

Semoga kegiatan hari ini memberikan manfaat. Salam Literasi

Jaya

Jaya

Jaya 



Berkompetisi

Berkompetisi, atau sering kita artikan sebagai berlomba, untuk bersaing dalam suatu kegiatan. Berkompetisi, atau berlomba sejatinya, untuk mengetahui seberapa kemampuan yang kita miliki dalam suatu bidang tertentu. Kita pun, sudah tidak asing lagi, dalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat yang berbunyi 



Mempunyai arti yang sangat jelas, bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan itu diperbolehkan. Kebaikan apa yang dimaksud, kebaikan artinya tentu hal-hal yang tidak menimbulkan mudharat atau bahaya. 

Kebaikan bisa juga kita artikan sebagai hal yang positif, seperti bidang prestasi, seni, olahraga dan masih banyak lagi. Jika sudah berani berkompetisi, maka kita harus berani untuk meningkatkan kualitas diri. 

Jangan hanya bermodalkan berani, namun  kurang memperhatikan kualitas. Disinilah arti penting sebuah persiapan matang. 

Persiapan matang dalam berkompetisi juga harus dibentuk jauh-jauh hari. Seperti bakat yang terus diasah dan berlatih dengan gigih. Jika tanpa keduanya yang matang, tentu hasilnya akan kurang maksimal.

Hasil berkompetisi sudah jelas akan ada yang menang atau juara katakanlah yang terbaik diantara yang baik lainnya. Maka disinilah, poin ke tiga dalam berkompetisi yakni memiliki mental. Mental yang harus dimiliki oleh orang berkompetisi harus juga kuat. Berani berkompetisi, maka harus berani menerima resikonya.

Hasil menang atau kalah seharusnya bukan tujuan utama, namun kita harus dewasa dalam menyikapinya yakni dengan suatu kesempatan yang langka tidak akan datang kedua kalinya. Jika ikhtiar sudah maksimal dan usaha sudah tiada henti, jangan lupa Allah Maha Yang Menentukan.

Kecewa ketika kurang memuaskan dengan hasil yang tak sesuai harapan, sebagai manusia tentu itu wajar. Saya sudah sering mengalaminya, bayangkan saja, dulu ketika pertukaran pelajar ke Jepang di bangku Aliyah, tentu harus bersaing untuk berkompetisi baik akademik dan seni. Sudah kami persiapkan segalanya, dan dibantu para guru bahkan ahlinya. Namun, fakta berkata lain, di tahap ke tiga di Jakarta, saya harus pulang. 

Itu pengalaman luar biasa, pada waktu itu seperti tidak menerima, wajar karena manusia dan umur masih di bangku sekolah.   Tetapi, hikmahnya sangat besar selain pengalaman yang luar biasa, dan diganti yang sangat luar biasa jika kita terus berusaha. 

Mari terus berkompetisi, membangun mental juara yang tahan banting dan tak putus asa. 

Salam Semangat Mengukir Prestasi

Senin, 15 November 2021

Kesadaran Fonologi




Betapa pentingnya ilmu fonologi. Namun, sebelum membahas pentingnya kesadaran fonologi kita harus mengetahui definisi fonologi itu sendiri. Fonologi adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa (Keraf 1984:30).

Di pelatihan pertemuan kedua ini, dibahas tentang kesadaran fonologi. Pada literasi pasti akan berkaitan dengan namanya Bahasa Indonesia. Dan kita tahu, bahwa di Bahasa Indonesia akan mempelajari banyak bunyi. Baik bunyi huruf, bunyi kata dan kalimat.

Maka, sangat penting kesadaran fonologi dibangun sejak dini di madrasah. Karena melatih anak untuk membunyikan huruf-huruf alfabetis dan membantu siswa dalam membaca permulaan (sedang belajar membaca). Ketika bunyi suatu huruf sudah tepat, akan naik kepada suku kata dengan tepat, lalu disusun menjadi kata dan kalimat. 

Maka ketika di tahap kelas atas seperti  kelas empat, lima dan enam membaca dengan memahami sudah beres tanpa kendala. Keilmuan bahasa di fonologi ini harus benar-benar kita terapkan terutama di kelas bawah. 

Dalam menyampaikan bunyi-bunyi huruf, suku kata dan kata ini metodenya pun sangat banyak. Pada pelatihan kali ini dikenalkan ada kurang lebih dengan metode lima permainan. Dan masing-masing dengan tujuan berbeda, ada mengenal awal bunyi huruf, awal huruf suku kata dengan benda atau gambar, menghitung jumlah suku kata dengan suatu benda pada kotak ajaib. Permainan dengan belajar jika diterapkan saya yakin siswa akan sangat antusias.

Kelas atas bisa kita ajak, untuk menemukan kata dengan awal huruf pada koran, dan jumlah paling banyak akan semakin bagus. Melatih ketelitian, dan kerjasama. Artinya, di metode permainan kata/suku kata ini tetap bisa diterapkan di kelas atas.

Itulah secuil catatan penting di pelatihan kali ini. Semoga manfaat, salam Literasi, 

Jaya

Jaya

Jaya

Sabtu, 13 November 2021

Mistis History


Sebelumnya ada sebuah cerita dari kerabat yang mengalami hal mistis ini. Tetapi saya tak percaya. Ternyata, kali ini saya mengalaminya sendiri.

Mau nulis seperti cerita ini, cukup merinding juga dan perlu berulang-ulang saya memikirkannya. Dan tujuan saya bercerita hanya sebagai cerita pengalaman pribadi yang cukup sangat mengejutkan dan baru pertama kali mengalami ini. 

Kejadian ini benar-benar terjadi kepada saya. Awalnya saya mengikuti sebuah acara, kemudian saya dimintai tolong oleh salah satu ibu yang bertugas menjadi koordinator konsumsi. Untuk menyalurkan beberapa nasi kotak untuk tetangga.

Yang bertugas berkeliling untuk menyalurkan nasi kotak, tidak hanya saya namun ada beberapa ibu lainnya. Ketika itu saya membagikan rumah Ibu Afi. Karena di rumah Ibu Afi, tidak ada orang, beliau masih di tempat acara sempat bertemu saya dan berkata "Mbak, nanti kalau mengantar ke rumah saya, taruh saja di meja pintu rumahku tidak dikunci"

Saya berkata "Baik Ibu Afi"

Ketika, sampai di rumah Ibu Afi, saya ketuk pintu dan salam seperti biasa lalu meletakkan nasi kotak di meja. (Saya selalu memberi salam ketika masuk rumah meski tidak ada satu pun orang rumah, ini sudah kebiasaan saya dari kecil)

Setelah keluar dari pintu, di sebelah rumah ada anak Ibu Afi, yang bernama Mas Cepi. Saya pun berkata " Mas Cepi, saya ngantar nasi, saya letakkan meja"

Mas Cepi berkata "Ok, makasih" sambil mengacungkan jempol

Dan saya masih ingat betul Mas Cepi itu, memakai baju warna hijau.

Setelah sampai lokasi acara, ada beberapa panitia laki-laki berkumpul. Dan Mas Cepi, datang sambil berkata "eh, aku kuesel reg, tas muleh teko tegalan"

Nah salah satu panitia laki-laki itu, katakanlah Pak Yupi, tahu kalau saya ngantar nasi, dan saya sempet bercerita Mas Cepi ada di selatan rumah.

Namun Pak Yupi, mendengar cerita Mas Cepi, terkejut sekali. Dan berkata " loh Mas Cepi, tadi mbak Filza, nganter nasi, katanya ketemu sampean"

Mas Cepi pun berkata "aku nek tegalan kawet isuk jam enem, iki tas muleh"

Pak Yupi seketika mlongo dan orang-orang melarang untuk bercerita ke saya. Tapi Pak Yupi tetap bercerita ke saya, dan semuanya mendengarkan saya cerita. Yang berkata "ok terimakasih" dan mengacungkan jempot itu tadi siapa? ,😲

Semua terheran-heran, padahal itu siang bolong terjadinya. Dan lucunya bajunya Mas Cepi juga hijau persis yang aku ceritakan. Kejadian ini tidak sekali terjadi. Sebelum kejadian di saya, ada juga tetangga Mas Cepi, yang pulang jamaah magrib misalnya namanya Yu Jiah, lalu ada Pak Som untuk nebengi naik motor, dan sudah di bonceng motor dan diturunkan di depan rumahnya Yu Jiah.

Ketika Pak Som sampai rumah, tiba-tiba Yu Jiah jalan kaki lewat rumah Pak Som. Pak Som berkata dalam hati "siapa yang aku antar pulang ke rumah Yu Jiah tadi" 

Yu Jiah yang asli itu, yang jalan kaki. Dan Pak Som bercerita ke Yu Jiah, Yu Jiah berkata "aku sek muleh iki lo Som".

Itulah cerita misteri pengalaman aku pribadiku, dan masih pertama kali ini nyata. Kalau di pondok dulu ya pernah tapi tidak yang sejelas ini. Dan menurutku makhluk ghaib seperti itu memang ciptaan Allah, dan saya meyakini kalau kita tidak mengganggunya tentu dia juga tak mengganggu. Namun, kenapa makhluk itu, seneng "membo-membo" atau menyerupai manusia. Wallahua'lam

Semua nama yang tertulis adalah samaran, kecuali nama saya pribadi. Dan kejadian ini terjadi di lingkungan rumah ibu dari suami saya. Tipsnya tidak perlu takut, kemana-kemana Bismilllah.

November Padat



Sudah lama aku menanti, bagaimana padatnya jadwal dan kegiatan seperti bulan ini. Maklum, sudah lama kita mengalami di masa Pandemi, semua terbatas. Alhamdulilah kali ini masih diberi kesehatan untuk melaksanakannya semua. Padatnya kegiatan membuat segala pikiran akan lebih fokus kepada hal positif. Dan tentu dengan prokes kita terapkan.

Padatnya kegiatan akan melupakan dengan namanya negatif thinking, buruk sangka dan bahkan mengurusi urusan orang. Eits, jangan salah, mengurusi urusan orang bukan berarti anti sosial. Ini bermakna kita lebih fokus pada kegiatan yang kita kerjakan.

Jika sudah fokus apakah bisa dikatakan memuaskan untuk hasilnya? Yang bisa menilai adalah Allah, lalu dilihat oleh orang sekitar dan kita sendiri. Jika kita sendiri, berusaha dengan maksimal, tentu akan lega dan senang melakukannya.

Coba saja, kalau kita tidak senang, melakukannya pun akan berat. Satu lagi yang perlu ditekankan, jika bulan ini merupakan bulan yang padat dengan banyak kegiatan, yang paling utama adalah menjaga semangatnya hingga nanti. Misalkan bulan depan tak begitu padat kegiatan, jangan dibuat untuk malas-malasan. 

Banyak contohnya, sekarang menggebu nilai idealis, agar dinilai orang bagus, baik, maksimal dalam segala kegiatan, namun nyatanya, jika tak ada kegiatan, nama dan orangnya tenggelam bak ditelan hujan. Tulisan ini seakan mengingatkan bahwa, segala kegiatan harus benar-benar kita niati dengan ketulusan dan keikhlasan. Belajar dari pengalaman pribadi, jika belajar dari segala kesalahan yang terdahulu, kemudian menerima nasehat, kritik serta saran untuk membangun, harus kita rubah untuk kebaikan.

Jika sudah seperti itu, jangan lupa memberikan reward buat diri sendiri. Minimal, setelah kegiatan ucapkan Alhamdulillah, terimakasih Filza hari ini kamu sudah melakukan kegiatan dengan baik, besok harus lebih baik dari pada hari ini. 

Kalau pun ada kesalahan kejanggalan maka tetap ucapkan Alhamdulillah kemudian, tidak apa-apa hari ini Filza, lanjutkan dengan semangat baru dan lebih baik. Kalimat-kalimat reward buat diri sendiri, akan memberikan energi baik. Dan akan membawa kepada mood, serta kegiatan yang kita lakukan.

Rabu, 10 November 2021

Halaqoh Aswaja Bersama Pergunu



Pergunu adalah organisasi profesi untuk guru atau ustadz di bawah naungan NU (Nahdatul Ulama). Salah satu ciri keprofiannya adalah memiliki ijazah S1 atau D4. Maka sudah jelas bahwa Pergunu harus bersinergi dengan ISNU dan Ma'arif. Ibarat kata Pergunu belok kiri Maarif, belok kanan ISNU. Artinya keduanya sangat berkaitan dan berhubungan.

Di kesempatan ini, saya mengikuti kegiatan Halaqoh Aswaja yang diselengarakan Pergunu yang membahas Seni Mendidik Ala Masyayikh NU Meneladani Para Kyai Pesantren. Sehingga narasumber yang hadir merupakan tokoh-tokoh NU yang sangat hebat di bidangnya. Diantaranya

Bapak Prof. Dr. Fatoni, M.Ag (Rektor UIN SATU), K.H Bagus Ahmadi, (Dari Pondok Pesantren MIA) dan Bapak Dosen Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag (Dosen UIN SATU).

Pemaparan materi dari ketiganya sangat mudah difahami. Sebenarnya saya pun mencatat hampir semuanya yang beliau-beliau haturkan. Namun, saya akan mencoba menuliskan kembali, meski hanya sebuah rangkuman yang mungkin mewakilkan beberapa isi atau poin yang beliau-beliau sampaikan. 

Dari masing-masing narasumber, saya menyimak bahwa perkembangan zaman yang  unpredictable atau tidak bisa di prediksi mengharuskan guru siap untuk menghadapinya. Salah satunya dunia media sosial, yang kalau tidak hati-hati informasi yang kita dapat, tidak sesuai dengan Ahlusunnah Wal Jamaah Nahdiyiin tentu akan membahayakan. Terutama di lembaga pendidikan.

Sehingga sebagai guru sangat perlu mengetahui, meneladani masyayikh di kalangan pondok pesantren. Dari ketiga narasumber semua menyampaikan bawah metode terbaik yakni dari Rasullullah yaitu "Uswatun Hasanah". Memberikan teladan yang baik.

"Uswatun Hasanah" menjadi sangat penting karena akan membentuk attitude atau akhlak, karakter bagi santri atau peserta didiknya. "Uswatun Hasanah" tentu harus dilihat secara langsung, akan kurang maksimal jika hanya sebagai virtual. Akan terasa hasilnya berbeda.

Bahkan ada penelitian di luar negeri bahwa tingkat keberhasilan seseorang bisa dilihat dari, attitude atau akhlak. Disinilah pentingnya "Uswatun Hasanah". Ketika di madrasah atau sekolah yang dilihat siswa "Uswatun Hasanah"nya adalah kyai atau gurunya. Maka sudah mutlak sebagai guru harus memberikan "Uswatun Hasanah", perilaku yang baik.

Yang kedua adalah lingkungan yang bagus, kebiasaan yang bagus pula. Ini akan memberikan peran yang besar terhadap siswa. Bayangkan saja, jika suatu komunitas dibangun dilingkungan kurang baik, itu akan menularkan kepada kebiasaan yang mereka bangun. Maka artinya lingkungan santri atau madrasah harus memberikan dampak yang positif bagi siswa maupun gurunya.

Ketiga, peran guru sangat penting ketika sudah memberikan  "Uswatun Hasanah" semua metode, strategi, pola pendidikan kita meniru Rasulullah, Ulama-Ulama Soleh, maka jangan pernah untuk berhenti berinovasi, kreatif, produktif. Seperti membuat bahan ajar, media pembelajaran yang kita sesuaikan dengan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah Nahdiyyin akan kita sampaikan kepada siswa kita. Maka pesan Pak Rektor UIN SATU Tulungagung "warnailah medsos dengan dengan konten-konten Nahdatul Ulama". 

Berkreasi dengan kreatif, senang berdiskusi juga salah satu untuk selalu berinovasi dalam memberikan terbaik untuk siswa. Sebenarnya kegiatan hari ini, harus ada tindak lanjut dan minimal ada yang kita bawa untuk diterapkan di lembaga.

Keempat, adalah sebagai guru harus bisa rekoso dan riyadhoh. Mendoakan siswa-siswa kita. Karena sebagai bentuk harapan bahwa ilmu yang didapat akan menjadi keberkahan. Selayaknya telur yang pecah di dalam akan terus tumbuh, tambah kebaikan, bukan seperti telur yang pecah di luar hanya sebagai telur ceplok atau telur orek. Dan itu perumpaan di sampaikan oleh Dosen Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag (Dosen UIN SATU).

Beliau juga berpesan yang paling utama adalah sebagai guru harus benar-benar bisa meyakinkan bahwa di Al Qur'an surah Al Mujadalah Ayat 11. 



Ada kata Yarfa' artinya mengangkat, bahwa Allah benar-benar mengangkat derajat orang yang berilmu. Sehingga ketika rekoso atau menemui kesulitan dalam mencari ilmu, harus sabar, ikhlas, jalani prosesnya. Jangan hanya berorientasi kepada hasil.

Itulah hasil mengikuti halaqoh Aswaja dengan Pergunu. Ingat bahwa menjadi guru itu mulia. Sehingga harus dibarengi dan diniati dengan suatu ketulusan dan ikhlasan untuk mendidik serta mengajar.

Salam Literasi


Selasa, 09 November 2021

10 November




Sudah Berapa Puluh Tahun
Mengenang Perjuangan Mereka
Derasnya Darah Merah Mengalir
Bukan Untuk Menjadi Halangan

Teriakan Menjadi Kobaran Semangat
Membuat Para Lawan Mundur Perlahan
Kepalan Tangan Ke Atas
Bukti Kekuatan Sang Maha Penguasa

Merdeka Atau Mati Di Medan Perang
Bukan Suatu Pilihan
Merah Putih Berkibar Di Ketinggian
Akan Terus Maju Untuk Kami Perjuangkan

Salam Hormat Kami
Untuk Para Pejuang Negeri
Kini Harumnya Negeri Ini Tergantung Kami
Semoga Kami Bisa Terus Berpretasi
Di Bidang Masing-Masing
Untuk Semua Generasi


Senin, 08 November 2021

The Crucial Of Self Editing



Belajar lagi, saya masih penulis yang masih belum masuk level. Artinya saya masih pemula, yang masih terus banyak belajar. Seperti kesempatan kali ini.

Salah satu komunitas menulis, mengadakan sebuah pertemuan virtual dengan guru kami yang tak lain adalah Dr. Ngainun Naim, M.Hi. Dipandu oleh moderator Ibu Ekka Zahra, M.Pd dari Blitar, teman dari suami saya sewaktu kuliah. Beliau sudah tak asing lagi dalam dunia tulis menulis dan literasi. Pelopor nulis yang selalu mengesankan bagi siapapun yang mau belajar menulis.

Kali ini membahas self editing, kalau melihat secara langsung artinya adalah mengedit diri sendiri. Nah, apa yang di edit? tentu tulisan. Maka dari itu setidaknya ada toga tahap dalam menulis yakni pre writing, writing dan editing. 

Tiga tahap itu harus benar-benar diperhatikan. Dan ideal seorang penulis itu tidak sama, maka jangan samakan penulis pemula dengan penulis ilmiah. Semuanya mempunyai pakem masing-masing.

Lalu apa yang perlu diedit ketika kita menulis terutama sebagai pemula seperti saya ini? Yakni sebelum di publish sebaiknya dibaca minimal dua kali. Namun, kata beliau sebagai penulis awal, biasanya jika selesai menulis, langsung atau buru-buru ingin di publish. Padahal, jika tulisan diendapkan dulu satu dua hari baru dibaca dalam rangka editing, itu akan lebih baik. Karena biasanya penulis itu, jika buru-buru di publish rasa emosinya masih tertuang secara nyata.

Editor pun juga ada batasannya jika menghadapi penulis pemula, jangan dihabiskan dalam mengedit sampai hilang model dan gaya penulisnya. Jika ini dilakukan akan memberikan dampak besar bagi penulis pemula. Bisa jadi kapok tak mau menulis.

Lalu yang terpenting adalah jangan pernah plagiasi, karena plagiasi seperti bunuh diri. Maka editing disini sangatlah penting. Dan sekarang pun banyak aplikasi-aplikasi yang memeriksa plagiasi.

Di zaman yang sebar era digital, dalam menulis pun juga harus dibarengi kehati-hatian. Exactly, begitulah pentingnya mengapa harus kita baca, kita fahami betul tiga tahap menulis, dan tips utamanya mengedit sebuah tulisan akan lebih lega jika di Laptop. Namun, menulis di gawai, akan cukup membantu karena ide itu datang sewaktu-waktu.

Itulah beberapa poin dikesempatan belajar virtual kemarin sore dibarengi dengan hujan dan signal yang lumayan lancar. 

Minggu, 07 November 2021

Praktek Literasi Menggunakan Big Book





Big Book yang sudah saya selesaikan, hari ini Senin 8 November 2021 pukul 08.40 sampai 09.45 saya praktekkan di madrsah saya mengabdi. Materi yang saya ambil di kelas tiga tema 2 subtema 1 yakni manfaat tumbuhan. Saya niati belajar, berproses dan tentu masih banyak kekurangan. Tetapi saya, mempersiapkan semua ini dengan dengan matang di hari-hari sebelumnya. Alhamdulillah diberi kelancaran. 

Saya dibantu oleh Pak Muhsin untuk mendokumentasikan. Panduan atau modul yang sudah dibagikan tentu menjadi acuan. Tetapi, di praktek berjalannya bukan sama persis seperti pada modul. Karena yang dihadapi, lingkungan dan kondisi siswa pasti berbeda.

Hari ini di awali dengan menyusun rangkaian pembelajaran sederhana. Karena bukan kelas saya, saya pun harus bisa menyesuaikan. Karena memang aslinya saya di kelas VI. Di pembukaan diawali dengan salam, pengenalan nama masing-masing siswa, lalu pengenalan jargon Alhamdulillah masih berjalan dengan lancar. 

Selanjutkan di kegiatan inti, saya perkenalkan Big Book yang saya bawa. Lalu saya menyampaikan tujuan pembelajaran secara sederhana. Kemudian anak-anak seperti tidak sabar menggunakan Big Book ini. Dari halaman awal semua siswa sudah kompak membaca "Pohon Mangga". Bahkan ada yang berkata "Bu, gambarnya bagus".

Halaman selanjutnya ada gambar dan kegiatan serta kalimat sederhana

"Ayah dan Rosa menanam pohon mangga". 

Kalimat ketiga

"Pohon mangga ditanam di halaman".

"Setiap sore Rosa menyiraminya" .

"Pohon mangga tumbuh dengan subur". Berikutnya "Rosa memetik buah mangga". 

Terakhir "Buah mangga rasanya manis" .

Kalimat sederhana dan dibantu gambar di Big Book membuat anak semakin semangat dalam membaca. Di kelas tiga ini semuanya lancar membaca. Setelah dibaca serentak dan nyaring, ada tahap membaca perkelompok yakni membaca berkelompok diawali dengan siswa perempuan lalu bergantian dengan siswa laki-laki. 

Sebelum dilanjutkan di kegiatan selanjutnya. Bacaan sederhana itu dibaca sampai tiga kali. Lalu ada penyusunan kalimat di papan tempel. Siswa akan dibagi kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat sampai lima siswa. Guru menjelaskan cara menyusun kalimatnya, seperti di Big Book yang sudah dibaca. 

Langkah ini siswa akan berusaha mengingat dan mengurutkan cerita? Namun, ternyata ada salah satu kelompok yang terbalik dalam menyusunnya dan lumayan memerlukan waktu lama dibanding tiga kelompok lainnya. Nah, disini guru juga perlu mendampingi dan berkeliling memeriksa kegiatan mereka.

Di langkah inilah bisa dilakukan penilaian dan kita perhatikan dengan saksama antar kelompok. Penilaian yang diambil bisa dari kriteria waktu penyusunan, ketepatan urutan cerita, kekompakan atar kelompok dan kerjasama.

Big Book di praktek kali ini memberikan peran yang besar dalam melatih literasi khususunya dalam kemampuan membacanya. Selain itu, mereka lebih antusias mengikuti literasi secara bersama atau serentak. Lalu peran guru, sangat penting, penguasaan kelas, pembawaan vokal dalam membaca, pengkondisian siswa. Sehingga jargon kecil akan membuat mereka konsentrasi kembali jika mereka fokusnya mulai terbagi. Semoga praktek literasi menggunakan Big Book ini memberikan kontribusi yang nyata dan manfaat bagi siswa dan saya yang masih terus berinovasi belajar di dunia literasi.

Yang saya sayangkan di praktek hari ini adalah kenapa format dokumentasi baru diumumkan, setelah saya menyetorkan laporan kepada koordinator penyelenggara? Seperti format foto ternyata harus ada diskripsi lokasi (GPS). Tapi tak usah sedih dan kecewa, masih ada kesempatan praktek kelanjutan kedua, yang aturannya atau formatnya lebih jelas dan disampaikan jauh-jauh hari. 

Salam Literasi,

Terimakasih

Lima Hal Penting



Menjadikan sebuah pengingat dan nasehat buat diri sendiri. Lima hal pokok yang hari ini saya dapatkan. Isi dari pengajian beliau yang terhormat Ibu Miftahur Rohmah selaku ketua Pimpinan Muslimat Cabang Tulungagung. Sebelum kepada lima hal pokok itu, ada dua dasar di dalam Al Qur'an. Dua dasar itu merupakan ayat Al Qur'an di surah As Shaaf ayat 4 dan At Taubah ayat 20.




Di kedua ayat ini sudah jelas bahwa dalam suatu organisasi diibaratkan seperti bangunan yang kokoh, satu sama lain melengkapi, memberikan peran yang sesuai sehingga mencapai apa yang menjadi tujuan organisasi tersebut. Namun, perlu diingat bahwa dalam suatu bangunan tersebut, ada kata berjuang. Berjuang, perjuangan semua akan menjadi sangat penting.

Ketika perjuangan bersama dilakukan, maka akan tercipta suatu hal yang kuat. Tetapi, sebaliknya jika perjuangan hanya karena sesuatu, misalkan ingin dipuji, ingin menjadi orang "wah" atau bahkan hanya pilih-pilih tugas, hal demikian bukanlah makna berjuang sesungguhnya. Maka dalam berjuang, tidak hanya dalam organisasi namun dalam keseharian hidup, lima hal penting harus kita miliki dan diterapkan. Diantaranya Ikhlas, Sabar, Syukur, Istiqomah, dan Husnudzon.

Hidup harus ikhlas, ikhlas mungkin diantara pembaca disini sudah begitu faham dengan definisi atau pengertiannya. Namun, saya pribadi memaknai bahwa ikhlas itu kerelaan yang tulus. Tidak akan mengharapkan imbalan kepada siapapun kecuali TuhanNya. Ukuran ikhlas itu yang tahu hanya hati kita sendiri dan Allah. Tetapi, bisa kita lihat ikhlas itu dari kesungguhan dalam memaknai dan menjalani suatu hal misalkan pekerjaan atau tugas.

Sabar, saya memaknainya adalah menahan. Menahan segala yang mungkin tidak sesuai dengan harapan. Bisa juga diartikan menerima segala resiko yang dihadapi. Jika ada kritik jangan langsung marah, anggap suatu pembelajaran. Menahan amarah dan lebih menerima lapang dada.

Syukur, apapun yang dihadapi harus banyak berterimakasih dengan Allah. Karena, segala sesuatu yang ditetapkan kepada kita itulah yang terbaik. Kadang hati dan pikiran menata atau menginginkan misalnya huruf A, namun kenyataannya kita harus mendapatkan B. Maka, hal demikian harus bersyukur, karena masih beruntung dapat B, kalau dapat Z jauh dari harapan bukan.

Istiqomah, terus menerus dilakukan, artinya jika hari ini bisa berjamaah maka seterusnya akan berjamaah. Sampai ada rasa dimana kalau tidak berjamaah ada hal yang kurang. Hal demikian merupakan contoh dari Istiqomah.

Husnudzon berbaik sangka, berbaik sangka kepada Allah dan kepada siapapun. Berbaik sangka akan memberikan suatu ketenangan hati. Selain itu akan meringankan beban pikiran yang negatif. Jauh dari mencampuri urusan orang lain. 

Itulah lima hal pokok yang mestinya kita miliki. Semoga bermanfaat dan mari terus memperbaiki diri. Salam semangat berjuang, jangan lupa untuk selalu diniati ibadah karena Allah.

Sabtu, 06 November 2021

Minggu Bermuslimat



Minggu ceria hari ini, alhamdulillah bisa bersama ikut kegiatan Muslimat di Kecamatan Rejotangan. Pada kesempatan ini bertempat di Pondok Pesantren Minhajul Falah Tarbiyatul Qur'an Wal Kutub Kebenraya, Aryojeding, Rejotangan. Yang pengasuhnya tak lain Kyai Jiun Riziqin. Beliau sekaligus tuan rumah. 

Kebetulan Ibu dari suami saya menjadi panitia penanggung jawab konsumsi di acara ini. Dan Alhamdulillah Umi saya sendiri ketua muslimat di ranting Desa Mirigambar di salah satu kecamatan Sumbergempol. Meski berbeda kecamatan, beberapa pengurus Pimpinan Muslimat Cabang Tulungagung saya kenal dan bertemu untuk acara kali ini. Dan berkesempatan musofahah kepada beliau-beliau. Beliau-beliau yang hadir adalah pengurus harian. Kemudian dihadiri oleh ketua MWC NU, Syuriah NU di Rejotangan dan seluruh ibu-ibu lurah di kecamatan Rejotangan.

Acara Muslimat Rejotangan kali ini Pelantikan Pimpinan Acara Cabang dan Pimpinan Ranting serta launching lagu Mars Nadhatul Ulama Indonesia yang diciptakan oleh beliau Dra. Hj. Muhlisoh Fauziyah yang tak lain Ketua Muslimat Kecamatan Sumbergempol. 

Alhamdulillah acara berjalan lancar, antusias ibu-ibu muslimat diacungi jempol. Kemudian ada pemberian penghargaan kepada ranting-ranting atau desa yang berprestasi di masing-masing bidang. Yaitu ada bidang olahraga, bidang pendidikan,  jamaah terbanyak, pembelian kalender yang terbanyak dan sebagainya.

Di kecamatan Rejotangan ini ada sekitar sembilan belas desa, sehingga di setiap ranting mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, semua mendapat kesempatan yang sama dalam mengembangkan, mengompakkan jamaah dalam terus berjuang untuk Nahdatul Ulama.

Semoga acara ini memberikan manfaat, ada petuah bahwa ketika setelah dilantik terus tandhang (dilaksanakan seluruh tugasnya), jangan setelah dilantik malah tidur. Kemudian di sampaikan juga oleh Camat Rejotangan bahwa organisasi Muslimat pasti ada tujuan mulia bersinergi dengan pemerintahan seperti pendidikan artinya anggota ibu muslimat juga banyak yang guru baik di paud, Ra, Mi, Mts dan seterusnya belum lagi di kesehatan, sosial dan semua untuk kemaslahatan umat. 

Membuat Big Book




Big Book kalau kita terjemahkan adalah buku besar. Namun buku besar yang bagaimana dimaksud kita perlu mendalaminya. Pelatihan kemarin memberikan wawasan terbaru bahwa Literasi ditingkat Madrasah Ibtidaiyah sangat membantu.

Apa pengertian sesungguhnya Big Book itu? Big Book adalah buku cerita yang memiliki kriteria khusus salah satunya memiliki ukuran besar dari segi gambar dan tulisan (Karges dalam Solehuddin dkk 2008:7). Adapaun ciri Big Book dalam Katges Bone dalam United States Agent Inyernational Development (2014:53), diantaranya:

1. Cerita singkat (10 sampai 15 halaman)

2. Pola kalimat Jelas

3. Gambar Memiliki Makna

4. Jenis dan ukuran font jelas

5. Jalan Cerita Mudah di fahami

Dari ciri serta pengertian di atas, kita bisa membuat media literasi Big Book dengan konsep yang mudah. Kemudian kita sesuaikan dengan materi yang akan disampaikan ke kelas. Media Big Book ini sangat membantu siswa dalam mengenali hruuf, kemudian kemampuan membaca dan mengingat.

Selain itu, saya sendiri merasakan bahwa membuat media Big Book akan membuat guru lebih kreatif. Mengapa demikian? Karena guru akan membuat sebuah gambar semenarik mungkin, namun juga bermakna. Kemudian dari kegiatan literasi dengan menggunakan media Big Book, kita bisa mengevakuasi siswa dari segi berbicara, menulis bahkan menyusun kalimat seperti pada Big Book yang kita tampilkan.

Kalau kemarin di Pelatihan Literasi saya dan teman-teman guru membuat Big Book secara berkelompok dan mempresentasikannya lalu ada beberapa saran, masukan dari fasda yakni Bu Wiwin. Di kelompok 2 kemarin, kami mengambil materi kelas 4, Tema 2, Subtema 2, Manfaat Perubahan Energi. Sehingga ada gambar TV, perlengkapan TV, manfaat TV. Lalu beberapa masukan dari belaiu adalah diperhatikan gambar, tulisan yang jelas, dan penyusunan cerita yang harus mengandung 5W+1H.  

Untuk hari ini saya membuat Big Book yang akan saya praktekkan di kelas 3. Saya mengambil tema 2, subtema 1 tentang manfaat tumbuhan dan hewan bagi manusia. Saya mengambil yang lebih spesifik yanki manfaat tumbuhan mangga bagi manusia.

Alahmdulillah dalam sehari semalam konsep serta proses membuatnya sudah selesai. Saya akui, saya tidak bakat menggambar, namun saya paksa untuk bisa meski hasilnya tak begitu memuaskan. Gambar mangga yang seperti gambar pepaya. Ah, yang penting percaya diri. Hehehe

Saya memulai menggambar dari kemarin sore sampai pukul sebelas malam. Kemudian dilanjutkan pulang sekolah bersama-sama guru yang ikut pelatihan seperti Bu Choir dan Bu Ela di kantor. Di bawah ini adalah proses saya membuat Big Book



Dibantu Pak Muhsin dengan menyalakan lagu dan kemudian pulang. Bu Ela pun pulang pukul 11.00 sedang saya Bu Choir pulang pukul 13.30. Jika semangat, sekali duduk inginnya selesai dan tuntas. Namun, kita juga harus istirahat. Begitulah cerita hari ini.

Salam Literasi

Jaya Jaya Jaya

Pelatihan Literasi



Kesempatan tidak akan terulang lagi. Meski sudah pernah, tak perlu mengeluh. Ingat saja, ilmu yang akan di ulang adalah tanda ilmu manfaat. Insyallah

Seperti kemarin hari Kamis, 4 November 2021 saya dan teman guru yang lain kecamatan Sumbergempol bisa mengikuti Pelatihan Literasi Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Kegiatan ini dibagi menjadi beberapa kali pertemuan dan praktek di lapangan. Dibagi dua kelompok, pertama kelompok kelas bawah yakni guru-guru kelas 1,2, dan 3. Kemudian kelompok kelas atas kelas 4,5, dan 6.

Kegiatan ini diadakan oleh KKG (kelompok kerja guru) di kecamatan Sumbergempol. Kemudian acara ini difasilitasi oleh fasilitator daerah atau fasda dari Rejotangan Yakni Bu Wiwin. Acara ini sangat menyenangkan, membuat media literasi yaitu BIG BOOK. 

Ada materi Toleransi, dan Pemaparan Tujuan Dilaksanakan Pelatihan Literasi Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang disampaikan oleh beliau yang terhormat Bapak H.Sutyani selaku Kasi Penmad (Kepala Seksi Pendidikan Madrasah) kabupaten Tulungagung.

Kegiatan ini diikuti setiap madrasah mewakilkan dua guru dari kelas bawah dan kelas atas. Sehingga ada hampir tiga puluh dua guru mengikutinya. Di pelatihan ini kami tidak hanya mendengarkan saja. Namun, lebih banyak diskusi dan kerja kelompok. 

Alhamdulillah saya bergabung di kelompok dua. Kemudian saling berkenalan dan bertukar pikiran. Kemudian bekerja sama menyelesaikan tugas.

Pelatihan berkelanjutan, tidak berakhir begitu saja melainkan terus berlanjut artinya ada tugas untuk praktek di lembaga masing-masing. Dan diabadikan menjadi sebuah foto dan video baik proses sampai pada praktek. Kemudian nanti dibahas di pertemuan selanjutnya. 



Rabu, 03 November 2021

Masih Bertanya




Dimana?

Apa?

Bagaimana?

Mengapa?

Kapan?

Siapa?


Masih Terus Bertanya

Soal-Soal Terus Menghampiri

Kadang Sibuk Mencari


Masih Terus Bertanya

Lalu Bingung Untuk Menjawab

Hanya Senyum Kering Terpapar


Seakan Berkaca

Kemudian Balik Bertanya

Lagi-Lagi Tak Menemukan


Sebelum Terpeleset

Jangan Menolak Pertanyaan Itu

Dengarkan Dan Jawab Saja 


Jika Mampu

Jika Tidak Menjawab

Diam Dan Kembalikan KepadaNya

Rahasia

 


Tertutup

Tak Mau Diketahui

Bahkan Tercium Baunya


Tak Mau Terlihat

Sekalipun Tak Sengaja

Semua Tertutup Rapat


Hanya Untuk Diri Sendiri

Atas Segala Izin TuhanNya

Menjadi Rahasia


Kunci Utama

Diam Seakan Tak Mengerti

Dan Lihat Saja Sampai Nanti

Senin, 01 November 2021

Berkecamuk



Silih Berganti Berdatangan

Seiring Nada Tak Beraturan

Seperti Gaung Dan Gema Kehidupan


Mencari Celah Antara Hikmah

Menjadi Pemikir Pelaku Menanam Kebaikan

Masih Ada Bahkan Banyak Kebusukan


Menandakan Manusia Penuh Kehinaan

Berlumur Debu Tak Terlihat 

Tak Terhitung  Akan Dosa Yang Kuperbuat


Berputar Berjalan Bertekad

Aku Bisa Menghadapi Dan Menjalani

Terus Berdiri Dengan Tegap


Seperti Malam Ini

Berkecamuk Menjadi Pecahan Luka

Namun Aku Masih Percaya


Jauh Dimata

Selalu Dekat Di Doa

Salam Jangan Lupa Bermunajat KepadaNya


Tiga Tipe Orang Berbicara



Seiring bertambahnya pengalaman serta bagaimana bersosial dengan berbagai masyarakat. Lalu senang sekali mendengarkan diskusi, mendapatkan ilmu salah satunya dari youtub salah satunya chanelnya Habib Husein Ja'far. Dan di manapun channel dan kolaborasi sama siapapun pokok ada beliau sudahlah saya niatkan mencari ilmu dan simak dan membuat corat coret tulisan atau rangkuman, ada beliau selalu menarik untuk mendengarkan.

Ilmu yang beliau sampaikan sangat mudah difahami. Dan sungguh luas sekali pengetahuannya, beliau juga mempunyai Warung Sejarah RI sejenis perpustakaan yang didalamnya banyak buku-buku tidak hanya sejarah, namun sangat banyak jenisnya bahkan ruangan tersebut juga sering dibuat mahasiswa untuk berdiskusi.

Baru-baru ini saya menyimak kata beliau ketika sedang membahas psikologi dan agama bersama Hasan Askari yakni ada tiga hal,

"Orang Awam Itu,  akan ngomongin orang,"

"Orang beranjak intelektualnya, akan ngomongin peristiwa"

"Orang cerdik cendikia akan, ngomongin ide, pemikiran"

Baru sadar dan seakan tamparan keras. Buat saya pribadi, tiga tipe itu sudah cukup untuk mengamati, mengoreksi diri bagaimana saat kita berbicara dengan siapapun. Apakah tipe pertama, apakah kedua atau ketiga.

Sehingga apa hikmahnya, yakni mengajarkan kita bagaimana berbicara yang baik, yang penting-penting saja, jika tak mampu untuk hal demikian maka diam adalah jalan emas.

Sekian Untuk Hari Ini

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...