Empat
minggu berjalan, tiba-tiba Bu Zaitun ke sekolah dengan membawa mobil yang masih
bernomor polisi berwarna putih dan merah. Artinya itu mobil baru, dan siapa
sangka Bu Zaitun bisa menyopirnya sendiri. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Bu
Zaitun, sudah lama bisa menggunakan mobil bahkan mempunyai SIM.
Ketika
membawa mobil di dalamnya ada beberapa judul buku yang merupakan hasil karya
buku solo dari Bu Zaitun yang akan diberikan sebagai hadiah kepada semua rekannya.
Mungkin
beberapa rekan yang lain tidak kaget, namun yang sangat terlihat kikuk dan
salah tingkah adalah Bu Kia. Bu Melisa dengan kekhasannya mengatakan “Bu Zai,
besok saya nebeng ya, kalau berangkat
sekolah, itung-itung naik mobil baru”
“Boleh
Bu Melisa, tapi jangan lupa membawa jeruk hehe” kata Bu Zaitun yang bercanda
dengan Bu Melisa yang dirumahnya juragan jeruk.
Dengan
mata sewot dan judesnya bu kia berkata “Itu mobil pinjaman ya Bu Zaitun? Sehari
berapa sewanya?”
“Maaf
bu, tidak saya sewakan” kata Bu Zaitun dengan santai
Tiba-tiba
ada seorang bapak guru memanggil, beliau bernama Pak Subhan “Bu zai, ini
bukunya dibawa kemana? Kok banyak sekali?”
“Minta
tolong ya Pak Subhan, diangkat dan diletakkan di ruang guru saja, nanti saya
bagi kepada bapak ibu guru yang lain” kata Bu Zaitun.
“Oke”
kata pak subhan
Ketika
sampai di kantor, semua kardus dibuka dan setiap rekan kerja Bu Zaitun mendapatkan
dua sampai tiga judul buku karya Bu Zaitun. Ada yang sangat senang dan
mendukung, namun kenapa harus ada lagi yang menyepelekan karyanya.
Pak
Layu berkata “Sudahlah, kalau buku seperti ini malas untuk membacanya, dari
pada buku mending dikasih uang saja”
Pak
Subhan “Wah tinggal terima saja kok repot, kalau tidak mau, jatahnya Pak Layu
buat saya saja”
Bu Melisa
“Ini karya Pak, wajib kita apresiasi, lah Bu Kia tanpa karya saja anda
apresiasi lho Pak, masa yang seperti ini anda malah tidak bisa mengapresiasi,
kalau tidak bisa mengapresiasi cukup dengan diam pak”
Pak
Layu “Ok, saya juga bisa membuat karya begini saja”
Bu
Zaitun “boleh Pak, dengan senang hati kalau karya saya bisa memotivasi Bapak
untuk ikut membuat karya yang lebih bagus dari pada punya saya, saya tunggu
karya bapak dengan sangat senang”
Bu Kia
“Yakin Pak? Menurut saya, Pak Layu kok belum mampu ya?”
“Jangan
dipatahkan Bu, semangatnya Pak Layu” kata Bu Zaitun
“Karena
dia hanya suka berkelana lewat mimpi tanpa realita lo Bu” kata Bu Kia
Semua
guru tertawa dengan suara keras terutama Pak Subhan.
Banyak
hikmah dari cerita singkat Bu Zaitun. Seiring berjalannya waktu, di ruang guru
yang biasanya ada sekat antara satu dengan yang lain, suasana menjadi sangat produktif.
Semua berlomba-loma dalam kebaikan salah satunya menghasilkan karya. Bu Melisa
yang selalu berusaha mengembangkan kemampuan menggambar dan melukisnya, selalu
mengupdate berita perlombaan untuk siswanya. Lalu Bu Kia yang awalnya sangat
sentimen kepada Bu Zaitun, dia berubah menjadi ramah meski Bu Zai masih sering
menggunakan sepeda pancalnya. Pak Layu yang selalu aktif bertanya dengan dunia
tulisan mencoba membuat karya-karya pantun lucunya. Sedangkan Pak Subhan yang
terus mengembangkan senam-senam kreatifnya.
Kita
mungkin sering sekali menilai orang hanya pada yang terlihat saja. Hal demikian
menurut saya sangat tidak baik. Karena belum tentu yang kita nilai itu selalu
baik apalagi yang tak terlihat oleh mata kita. Kemudian peran ganda sebagai ibu
dan guru sangat tidak mudah. Sehingga pandangnlah semua guru itu mulia, tanpa harus
memandang materi yang dia punya. Lalu jika tidak bisa berkata baik, cukup
menahan dengan diam.
Ada
dasar paling penting dalam kitab suci Al Quran Surah An Nisa Ayat 32 bahwa:

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah
dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”