Senin, 30 Agustus 2021

Buku Keempat



Saya bukanlah orang yang ahli dalam membuat puisi. Bukan pula penyair yang hebat. Namun saya hanya bermodalkan menulis. Kemudian ada kesempatan yang baik selalu kuambil.

Menulis yang awalnya dari kata dan kususun menjadi kalimat sederhana. Yang menjadi beberapa baris dan bait. Lalu menjadi sebuah puisi.

Menulis yang setiap hari saya lakukan, entah mengalir begitu saja. Intinya tetap menulis. Dan itu proses belajar, yang selalu kuyakini akan berbuah manis.

Selalu ada jalan untuk mengabadikan momen. Dengan segala rasa yang telah terlewati. Menahan segala kekecewaan kutuangkan dalam tulisan.

Maka terwujudlah buku ke empat ini. Buku ini berjudul "Kulepas Kau Lekas" . Masih dalam nuasa menulis bersama atau antologi puisi. Dengan segala isi dari dua belas penulis. Memberikan warna-warni bunyi indah dalam rangkaian kalimat.

Semoga memberikan semangat khususnya buat saya sendiri. Ayo terus berkarya dengan menulis. Jangan lelah dan jangan bosan, teruslah belajar dengan banyak membaca dan menulis.

Teruslah berjuang, salah satunya untuk mewujudkan buku solomu. Dan fokus untuk menjadikan cita-cita yang maya menjadi nyata. Semangat

Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

Kedatanganmu

 


Aku Akan Menunggu

Hingga Kau Datang

Datang Dengan Memeluk

Penuh Dengan Kerinduan

 

Maka Datanglah

Untuk Kami Yang Telah Menunggumu

Yang Selalu Bersipu Memohon

Bersujud Di Hadapnya

 

Keyakinan Kutanamkan

Bahwa Waktu Akan Menjawab

Dan Mewujudkan

Dan Hanya Allah Yang Maha Mengabulkan

 

Kamis, 26 Agustus 2021

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 4

 


Empat minggu berjalan, tiba-tiba Bu Zaitun ke sekolah dengan membawa mobil yang masih bernomor polisi berwarna putih dan merah. Artinya itu mobil baru, dan siapa sangka Bu Zaitun bisa menyopirnya sendiri. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Bu Zaitun, sudah lama bisa menggunakan mobil bahkan mempunyai SIM.

Ketika membawa mobil di dalamnya ada beberapa judul buku yang merupakan hasil karya buku solo dari Bu Zaitun yang akan diberikan sebagai hadiah kepada semua rekannya.

Mungkin beberapa rekan yang lain tidak kaget, namun yang sangat terlihat kikuk dan salah tingkah adalah Bu Kia. Bu Melisa dengan kekhasannya mengatakan “Bu Zai, besok saya nebeng ya, kalau berangkat sekolah, itung-itung naik mobil baru”

“Boleh Bu Melisa, tapi jangan lupa membawa jeruk hehe” kata Bu Zaitun yang bercanda dengan Bu Melisa yang dirumahnya juragan jeruk.

Dengan mata sewot dan judesnya bu kia berkata “Itu mobil pinjaman ya Bu Zaitun? Sehari berapa sewanya?”

“Maaf bu, tidak saya sewakan” kata Bu Zaitun dengan santai

Tiba-tiba ada seorang bapak guru memanggil, beliau bernama Pak Subhan “Bu zai, ini bukunya dibawa kemana? Kok banyak sekali?”

“Minta tolong ya Pak Subhan, diangkat dan diletakkan di ruang guru saja, nanti saya bagi kepada bapak ibu guru yang lain” kata Bu Zaitun.

“Oke” kata pak subhan

Ketika sampai di kantor, semua kardus dibuka dan setiap rekan kerja Bu Zaitun mendapatkan dua sampai tiga judul buku karya Bu Zaitun. Ada yang sangat senang dan mendukung, namun kenapa harus ada lagi yang menyepelekan karyanya.

Pak Layu berkata “Sudahlah, kalau buku seperti ini malas untuk membacanya, dari pada buku mending dikasih uang saja”

Pak Subhan “Wah tinggal terima saja kok repot, kalau tidak mau, jatahnya Pak Layu buat saya saja”

Bu Melisa “Ini karya Pak, wajib kita apresiasi, lah Bu Kia tanpa karya saja anda apresiasi lho Pak, masa yang seperti ini anda malah tidak bisa mengapresiasi, kalau tidak bisa mengapresiasi cukup dengan diam pak”

Pak Layu “Ok, saya juga bisa membuat karya begini saja”

Bu Zaitun “boleh Pak, dengan senang hati kalau karya saya bisa memotivasi Bapak untuk ikut membuat karya yang lebih bagus dari pada punya saya, saya tunggu karya bapak dengan sangat senang”

Bu Kia “Yakin Pak? Menurut saya, Pak Layu kok belum mampu ya?”

“Jangan dipatahkan Bu, semangatnya Pak Layu” kata Bu Zaitun

“Karena dia hanya suka berkelana lewat mimpi tanpa realita lo Bu” kata Bu Kia

Semua guru tertawa dengan suara keras terutama Pak Subhan.

Banyak hikmah dari cerita singkat Bu Zaitun. Seiring berjalannya waktu, di ruang guru yang biasanya ada sekat antara satu dengan yang lain, suasana menjadi sangat produktif. Semua berlomba-loma dalam kebaikan salah satunya menghasilkan karya. Bu Melisa yang selalu berusaha mengembangkan kemampuan menggambar dan melukisnya, selalu mengupdate berita perlombaan untuk siswanya. Lalu Bu Kia yang awalnya sangat sentimen kepada Bu Zaitun, dia berubah menjadi ramah meski Bu Zai masih sering menggunakan sepeda pancalnya. Pak Layu yang selalu aktif bertanya dengan dunia tulisan mencoba membuat karya-karya pantun lucunya. Sedangkan Pak Subhan yang terus mengembangkan senam-senam kreatifnya.

Kita mungkin sering sekali menilai orang hanya pada yang terlihat saja. Hal demikian menurut saya sangat tidak baik. Karena belum tentu yang kita nilai itu selalu baik apalagi yang tak terlihat oleh mata kita. Kemudian peran ganda sebagai ibu dan guru sangat tidak mudah. Sehingga pandangnlah semua guru itu mulia, tanpa harus memandang materi yang dia punya. Lalu jika tidak bisa berkata baik, cukup menahan dengan diam.

Ada dasar paling penting dalam kitab suci Al Quran Surah An Nisa Ayat 32 bahwa:

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”

 

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 3

 


Ketika di kelas Bu Zaitun mengajar dengan professional dan tepat waktu. Pada waktu itu materi yang disampaikan adalah tentang puisi. Sehingga Bu Zaitun yang hobi menulis mengajak anak didiknya untuk berkarya dengan membuat puisi. Setelah satu minggu dan terkumpul semuanya, Bu Zaitun mencoba untuk mengetiknya dan mengantarkan ke sebuah festival literasi menulis tingkat nasional. Awalnya tidak tidak ada yang mengetahui hal demikian. Banyak dari sekolahnya yang mencibir dan tidak mendukungnya sehingga biaya yang dipakai mengikuti festival itu adalah uang pribadi Bu Zaitun.

Namun siapa sangka dalam festival itu ada sebuah semacam penghargaan atas karya terbaik yang telah dikumpulkan. Dan keajaiban Allah telah nyata Bu Zaitun berhasil mendapatkan penghargaan terbaik pertama dan diberikan fasilitas untuk mendapatkan sejumlah uang tunai dan menerbitkan buku.

Bu Melisa mengetahui hal tersebut, namun Bu Zaitun berkata untuk tidak membocorkan kepada siapapun terutama pihak sekolah dan Bu Kia sekalipun. Karena Bu Zaitun takut akan mendapat cemooh untuk kedua kalinya. Karena Bu Kia ini sangat pintar untuk meracuni dengan gosip yang ia sebar dan disalurkan kepada teman-teman yang lain termasuk pimpinan sekolah.

Namun siapa sangka Bu Melisa memberikan kabar bahagia itu kepada guru lain, kecuali Bu Kia dan pimpinan. Dengan sangat cepat, semua guru memberikan ucapan selamat dan rasa bangga melalui pesan singkat di handphone.

Satu bulan berlalu, tiba-tiba ada distributor buku menyalurkan buku hasil karya Bu Zaitun dengan siswa kelas V. Lalu Bu Zaitun membagikan dengan semua murid kelas V dengan gratis, dan semua guru termasuk Bu Kia.

“Anak-anak inilah hasil karya kalian, yang bisa membuat bangga semua orang tua dan guru. Bu guru mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasamanya, sehingga tak menyangka kita mempunyai buku karya kelas V ini. Bu Guru sangat bangga pada kalian” kata Bu Zaitun ketika di kelas sinambi membagikan buku karya puisi bersama kelas V.

Ada salah satu muridnya Gibran berkata “Ayo, kita tepuk tangan” (semua bertepuk tangan bahagia, dan diambil foto bersama oleh Bu Zaitun)

Tiba-tiba Sania mengangkat tangan dan berkata “Bu zaitun, apakah buku ini boleh di bawa pulang?”

“Tentu saja Sania, buku ini milik kalian, tanpa Bu Zaitun minta ganti uang” jawab Bu Zaitun dengan ramah”

Gibran dan Didik berkata dengan keras lagi “mari teman-teman, kita ucapkan bersama-sama, Terimakasih Bu Guru”

Bu Zaitun berkata “sama-sama semoga barokah dan manfaat”

Serentak siswanya menjawab “Amin…..”

Namun siapa sangka kejutan terjadi lagi ketika waktu istirahat tiba. Dan semua guru berkumpul di ruang guru.

“Oalah buku kayak gini aja bangga, kan ini bukan karyanya sendiri, tapi anak-anak” kata Bu Kia yang sedang terlihat ngobrol dengan beberapa guru lain dan ada juga pimpinan sekolah.

Bu Melisa mendengarnya langsung berkata “Yang penting ada bukti karya berupa buku, dari pada hanya ngobrol hal yang tidak penting” (sambil berlalu dan bergabung di obrolan bersama Bu Zaitun)

Bu Zaitun hanya terdiam dan mencoba tidak mendengarkan karena masih banyak guru yang sangat mengapresiasinya dan ingin mengikut jejaknya. Sambil bercerita dan bertukar informasi serta cara-caranya.

Waktu terus berjalan, kehidupan seseorang tiada yang tahu. Bu Zaitun masih dengan sosok pribadinya, yang dikenal dengan guru sepeda pancalnya. Bu Zaitun masih terus berjuang seperti hari biasa, sedehana, bijaksana dan penuh prestasi.

Sejak saat itu Bu Zaitun terus menggerakkan siswanya untuk berkarya baik dalam tulisan atau gambar serta di bidang lain. Meskipun belum menyeluruh satu sekolah, setidaknya kelas yang Bu Zaitun pegang selalu selangkah lebih maju terbukti dari karya-karya anak kelasnya yang selalu ditempel di dinding kelas hingga terkesan berantakan, tapi sebetulnya itu merupakan hasil karya siswanya.

Lalu di kelasnya selalu ada pojok baca, dan siswanya ketika waktu istirahat di usahakan untuk membacanya. Bu Zaitun meyakini dengan menulis dan membaca akan membuka jendela dunia dan prestasi yang tidak disangka-sangka.

Menjadi ibu rumah tangga sekaligus guru merupakan pekerjaan yang tidak sederhana. Ladang rizki akan bertebaran dimana-mana. Yang paling utama ditanamkan adalah niat dalam setiap langkahnya karena Allah. Dan hal demikian akan menghantarkan kepada kebermanfaatan. Kalau di sekolah Bu Zaitun sangat menjiwai sebagai guru, ketika di rumah beliau meninggalkan status menjadi bu guru. Iya, selayaknya ibu rumah tangga yang biasa, dan tidak sungkan pergi ke sawah, membantu suami di kandang ternaknya.

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 2

 


Keluarga Bu Zaitun yang sederhana ini memiliki kehangatan, kedekatan, kekompakan, kasih sayang dan perhatian terhadap satu sama lainnya. Sehingga pekerjaan rumah cepat selesai, karena keluarga Bu Zaitun juga sangat menerapkan kedisiplinan yang tinggi.

Ketika pukul enam lebih lima belas menit pagi, semua anggota keluarga harus dipastikan sudah sarapan meski dengan lauk yang sederhana seperti tahu atau tempe, sambel urap dengan teh hangat. Lalu semua menuju tempat kerja dan kegiatan masing-masing. Putranya bersekolah dan Ayah menuju sawah. Bu Zaitun menuju tempat kerja menggunakan sepeda pancal setianya yang sudah menemaninya hampir sepuluh tahun. Ia mengayuh dari rumah sampai menuju tempat kerjanya, salah satu sekolah swasta yang berada tepat disebelah desanya.

Sering tetangga-tetangga menyapa “Bu Zai,,,,berangkat? Hati-hati ya bu”

Dengan ramahnya ia menjawab “Terimakasih, sambil olahraga ini, Bismillah semangat”

Yang menarik dan menjadi ciri khas Bu Zaitun adalah botol air minumnya yang tidak akan pernah terlupakan. Ia dengan semangat mengayuh sepedahnya untuk bertemu semua anak didiknya. Bu Zaitun yang mempunyai hobi menulis, selain seorang ibu rumah tangga yang dengan seambrek kegiatan ia juga mengabdi sebagai guru kelas V di salah satu sekolah swasta. Sama halnya seperti di rumah, ia sangat menerapkan kedisiplinan yang tinggi kepada anak didiknya. Dan ia berusaha memberikan contoh kecil kepada anak didiknya, seperti dia tidak pernah terlambat ke sekolah.

Di sekolah ini Bu Zaitun merupakan guru yang terkenal dengan ketegasannya dan kedisiplinanya. Selain penyayang, dia juga tidak segan menegur dan menasehati anak didiknya yang masih kurang benar dalam berperilaku. Namun tidak jarang ada salah satu dari rekan kerjanya yang merendahkannya hanya karena sepeda pancalnya.

“Bu Haduh,,,,ini siapa masih pagi bau kecut?” kata Bu Kia kepada Bu Melisa

Beberapa guru yang di kantor terdiam. Memang dari seluruh guru yang menggunakan sepeda pancal hanya Bu Zaitun, yang terlihat berkeringat otomatis Bu Zaitun. Tapi dengan kelembutan hatinya Bu Zaitun menjawab “Mungkin saya Bu Kia, maaf ya?”

Bu Kia masih menjawab dengan sewotnya “Makannya guru itu harus rapi, harus wangi, beli dong sepeda motor atau pakai mobil, jangan pakai sepedah pancal”

Bu Zaitun terdiam, namun ada Bu Melisa yang berkata “Eh Bu, tolong dijaga perkataanya, jangan berkata kasar, roda kehidupan berputar lo”

Bu Melisa mencoba menenangkan Bu Zaitun yang tertunduk terlihat malu. Lalu Bu Zaitun meninggalkan kantor menuju kelasnya. Bu Melisa mencoba mengejarnya dan berkata kepada Bu Zaitun “Bu, jangan difikirakan, Allah Maha Tahu, terus semangat dan jangan lelah untuk mengabdi”

“Baik bu, tidak apa-apa memang saya punyanya masih sepeda pancal Alhamdulillah tidak jalan kaki” kata Bu Zaitun sambil tertawa kecil.

Namanya manusia biasa, pasti hatinya Bu Zaitun saat itu terluka. Tapi dia adalah wanita tangguh yang tidak bisa meneteskan air mata di hadapan manusia. Tapi di dalam hatinya terbesit doa “Ya Allah Engkau Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi saya dan Engkau Maha Kaya dan menjamin Rizki semua hambaMu” sambil menghela nafas yang panjang.

Cerpen Kisah Bu Zaitun Part 1

 


Catatan kecil perjuangan seorang wanita ibu rumah tangga yang merangkap menjadi seorang guru. Sudah menjadi pilihan dan keputusan jika peran ganda telah dipilihnya dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi. Namun, seiring berjalannya waktu, jalan mulus tidak terus ditemuinya. Banyak kerikil-kerikil kecil yang menyertai dalam peranannya.

Dini hari yang sunyi menunjukkan pukul tiga pagi, membangunkan sosok perempuan tangguh ini. Dia biasa disapa dengan sebutan Bu Zaitun. Menyegerakan untuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Bermunajat di sunyinya malam membuatnya menjadi semakin kuat. Lirih, lembut suara memohon doa yang dipanjatkannya “Ya Allah berikan aku kekuatan, kesehatan agar semua berjalan beriringan dan membawa keberkahan”. Tetes air mata tangguhnya tak pernah terlihat oleh manusia. Karena ia sadar bahwa yang berhak tahu atas segala yang terjadi padanya hanyalah TuhanNya.

Ketika seisi rumah masih terlelap dengan mimpinya, ia harus menuju dapur, untuk mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya. Memasak nasi, membuatkan lauk pauk dan minuman hangat untuk suami dan anak. Meski itu tugas wajib seorang ibu rumah tangga, ia meyakini bahwa pengabdian kepada suami dan keluarga tidak akan pernah terlewatkan. Namun sekali lagi itu tidak mudah.

Ketika fajar tiba, dengan penuh kasih sayang ia membangunkan semua anggota keluarganya untuk bergegas sholat berjamah di masjid terdekatnya.

“Ayo nak, segera bangun, kita kejar pahala dari Allah”

“Ayo mas, bangun, bersama-sama kita memberi contoh ke anak-anak agar tidak malas ke masjid ketika subuh”.

Dua kalimat inilah yang sering diucapkannya ketika membangunkan keluarganya. Meski sudah berumah tangga lama, Bu Zaitun ketika membangunkan suami tetap menggunakan kata “Mas” sebutan mesranya. Namun, sangat berbeda di depan anaknya ia sering menyapa dengan sebutan “Ayah”.

Setelah selesai berjamaah, Bu Zaitun masih sibuk dengan bersih-bersih rumah seperti mencuci baju, menjemur, menyapu dan beberapa kegiatan lain dibantu oleh suami dan anaknya. Ayah memberi makan hewan-hewan ternaknya, sedangkan putranya menyiapkan sepedanya untuk bersekolah dan sepeda ibunya untuk bekerja.

Merdeka Belajar

 


Sudah Waktunya Kita Bangun

Dari Mimpi Dan Masa Lalu

Sudah Waktunya Semangat Kita Bangun

Untuk Menjadi Generasi Yang Unggul

 

Jangan Hanya Berpangku Tangan

Menerima Dan Mau Menjadi Bahan Bulan-Bulanan

Tunjukkan Bahwa Kita Merdeka Belajar

Menjadi Penerus Tanpa Harus Menjatuhkan

 

Menjadi Memimpin Tanpa Harus Menindas

Merdeka Belajar Sejatinya Menanamkan

Nilai Keadilan Dan Kejujuran

Karena Aku Tahu Negeriku Kini Jauh Dari Itu

Rabu, 25 Agustus 2021

GENERASI ISNPIRASI



Bukti Semangat Menjadi Pemuda

Membuat Segudang Karya

Tentu Karya Yang Membangun

Mengajak Khalayak Lain

 

Jangan Hanya Diam

Jangan Hanya Melamun

Jangan Hanya Mengandai-Andai

Bangun Dari Itu Semua

 

Tunjukkan Dengan Karya

Sesuai Bidang Dan Bakatmu

Sudah Jangan Kau Tunda Lagi

Cukup Buktikan Saja

 

Sekarang Waktunya

Bukan Nanti Atau Besok

Jadilah Generasi Yang Mengispirasi

Jangan Hanya Membuat Emosi

Selasa, 24 Agustus 2021

Teknologi



Sekarang zaman semakin canggih. Berjalan beriringan terus dengan teknologi yang semakin canggih. Mau tidak mau harus mengikuti, jika tidak akan tertinggal.

Apakah hal tersebut bisa dipastikan? Tentu iya, sekarang seperti contohnya kalau mau daftar apapun, kebanyakan harus melalui online. Jika tidak bisa online, kita akan kesusahan, misal menerima resiko antri panjang dan terbelakang.

Lalu apa yang harusnya kita lakukan? Baik, teknologi semakin canggih, manusia pun harus juga semakin canggih, dan semakin bijaksana menggunakannya.

Teknologi memang buatan manusia, yang manusia sendiri di karuniai ilmu serta otak dan hati untuk berfikir. Namun, sekali lagi produk apapun yang dikeluarkan oleh tangan manusia, pasti ada kelebihan serta kekurangan yang mengiri. Kata sempurna tetap hanya milik Sang Kuasa Illahi Robbi.

Maka, kita harus bisa melakukan kerjasama yang baik dengan teknologi. Apa artinya, teknologi yang maju, harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dalam kebaikan. Salah satunya menuntut ilmu. Banyak jalan untuk mendapatkan ilmu, dengan sharing secara virtual bertukar pengalaman hal tersebut juga ilmu. Melihat, mendengar perkembangan segara berita itu juga akan menambah informasi dan wawasan. Namun, sekali lagi kita yang menggunakan jangan menyimpulkan secara langsung, atau menyimpulkan tanpa mengoreksinya, kalau bahasa kita sehari-hari "sakplek".

Itulah pentingnya suatu benteng diri dalam menggunakan teknologi. Manfaatkan sebaik mungkin, tinggalkan yang membuat suatu yang berbahaya atau kurang baik dalam menggunakan teknologi. 

Minggu, 22 Agustus 2021

Buat Apa Kawan



Topik Sama

Lagu Sama

Suasana Sama

Semua Serba Sama


Hilang Tanpa Jejak

Tanpa Bekas Jika Tak Dilakukan

Buat Apa 

Keyakinan Menipis Pesimis


Cita Setinggi Langit

Gema Gemuruh Tanpa Fakta

Buat Apa Kawan

Jika Tak Mampu Memahami Diri

Tak Sewajarnya



Berfikir Tak Sewajarnya

Berjalan Tak Pada Jalurnya

Tak Banyak Yang Memahami


Sisi Kecintaan 

Bahkan Cara Sisi Membungkam

Diam Mengusik Benak


Binasalah Rasa Itu

Binasalah Di Muka Bumi

Menghilang Menyepi


Tanpa Menyisakan Mimpi

Keegoisan Rasa Yang Tinggi

Tak Senormal Manusia Pribumi

Tetap Bersamanya



Aku Menyukainya

Lalu Aku Mengaguminya

Kemudian Aku Takut Jika Tanpanya


Meskipun Hanya Sementara

Lalu Dengan Sederhana

Aku Mulai Mengenalnya


Tumbuhlah Rasa Sayang

Menjadi Cinta Yang Halal KarenaNya

Selamanya Akan Kuarungi Jalan Kehidupan

Dengan Tetap Bersamanya

Menulis Itu Keren



Menulis saja, apa saja yang ingin kamu tulis. Mengalir ke sana kemari yang tanpa ujung, tapi tetap ditulis. Yang intinya sama satu hal saja kok repot-repot, lalu diulang-ulang dengan menulis.

"Segitunya dengan menulis". Sindir mereka, loh mereka tidak faham dan belum mengalami, bahwa menulis itu menyenangkan. Menulis itu meringankan beban, menuangkan segala beban pikiran. Dan terangkai dalam kata dan dirangkai menjadi kalimat. Bahkan menulis itu menghilangkan stres.

Tidak percaya? Ayolah praktek menulis. Jangan cuma nyinyir saja. Tampil dengan sebuah tulisan menurut saya pribadi, itu sangat mengesankan tentu bangga. Bagaimana tidak? Manusia akan mempunyai ujung cerita begini dan begitu lalu akan berakhir dengan sebuah kematian. Untuk menghadap TuhanNya. Sesingkat itu.

Dikenang dengan kebaikan, prestasi, dan karya yang nyata itu sebuah jariyah. Apalagi dengan menulis, menulis yang isinya ilmu-ilmu yang dibaca oleh banyak orang, tentu akan menjadi jariyah tersendiri dan  akan terus mengalir.

Kalau punya prinsip "jadi orang itu biasa-biasa saja, tak usah muluk-muluk dengan keinginan" menurut saya itu harus kita ubah "jadilah orang yang luar biasa untuk bermanfaat bagi orang lain". Banyak contoh seperti, guru-guru kita, dosen bahkan guru besar kita yang selalu mengabadikan keilmuannya dengan menulis lalu dijadikan sebuah buku. Dan terus digunakan sebagai referensi.

Lalu masih meragukan lagi, menulis itu tak ada manfaatnya?

Lalu masih berkata "halah, nulis ae!"

"Tulisan ngunu ae, bangga!" 

Hati-hati yang berkata demikian, jika berani berkata demikian, tunjukkan dulu karya tulisanmu.

Jika tak mampu melawan

Maka menulislah

Jika tak mampu berkata

Maka menulislah

Karena dengan menulis akan meringankan 

Jumat, 20 Agustus 2021

Membangun Literasi Membaca



Alhamdulillah sudah dua hari kami menerapkan lima belas menit untuk membaca. Banyak hal yang saya temukan. Buku yang tersedia judulnya berfariatif.

Ada buku-buku pengetahuan, sejarah, legenda, fabel dan beberapa buku puisi. Membangun kebiasaan membaca memang sulit. Karena memang masih awal.

Namun, saya yakin betul, dari membaca anak-anak kelas saya akan mempunyai pengetahuan lebih serta pengalaman baru yang mereka temukan. Mendapat informasi terbaru, kemudian letak-letak suatu tempat, jika mereka melihat atlas. 

Hal sepele tersebut, saya pribadi sangat bangga. Kendala dalam membangun literasi membaca pasti akan ditemui. Jika sudah terbangun kebiasaan membaca, sebagai guru atau fasilitator kita harus lebih kreatif misal menanyakan soal-soal isi buku, dan minimal kita sudah pernah juga membacanya.

Kendala yang kali ini saya hadapi ialah, ternyata di kelas VI yang harusnya bisa membaca memindai, membaca dengan teliti serta memahami lalu minimal bisa menyimpulkan ternyata ada beberapa yang masih belum bisa di tahap tersebut. Mengapa demikian? Karena ternyata, sebagian kecil dari mereka mencari buku yang banyak gambarnya dan teksnya yang sedikit. Padahal di tahap demikian itu kelas satu sampai kelas tiga.

Apakah termasuk terlambat untuk membangun kebiasaan literasi dengan membaca ini? Jawabannya, tidak, karena membaca itu tidak ada batas, mungkin sedikit sempoyongan iya.

Jadi, tetap semangat untuk membaca, membaca jangan hanya dari gambar saja. Mungkin gambar memang bisa membantu, namun isi atau teks kalimat, paragraf dan isi daripada penjelasan gambar harus difahami. Difahami dengan tentu dibaca, tidak hanya di bolak balik lembarannya.

Semangat literasi..

Merah Putih



Melangit Meninggi Di Bumi

Merah Putih Berkibar 

Yang Tegak Berdiri

Dan Kokoh Menjadi Jati Diri


Merah Yang Berani

Membuktikan Kewibawaan Di Mana Pun

Putih Yang Suci

Menjadi Tulang Kekuatan Diri


Jangan Pernah Berani

Mengkhianati NKRI

Demi Negeri Tercinta Ini

Karena NKRI Harga Mati

Selasa, 17 Agustus 2021

Acara Yang Tak Terkonsep



Belajar dari pengalaman dan pengamatan. Pasti akan ribet dan ruwet, begitulah kiranya kalau acara yang tak terkonsep. Kemudian, semua akan merasa repot. Bedakan antara yang repot beneran dan sok repot.

Gemes, jika mengadakan suatu acara tanpa ada persiapan yang pasti. Tanpa konsep hanya mengandalkan satu orang. Dijamin pasti akan berantakan.

Lalu apa yang harus kita lakukan jika sudah terlanjur berantakan. Iya dilakukan saja meski berantakan. Dan itu akan sangat terasa di acara itu tersendiri. 

Baik dari jalan acara, baik dari sisi perlengkapan apalagi dari sisi konsumi. Otomatis akan berantakan.

Solusinya bagaimana, jauh-jauh hari minimal H min satu minggu harus ada persiapan. Mulai dari kepanitian, koordinator masing-masing sie, harus tersusun secara rapi. Misalkan ketua panitia, sekretaris berurusan dengan surat menyurat, bendahara lalu di susul dengan koordinator masing-masing sie acara, sie konsumsi, sie perlengkapan, sie humas. 

Nah, seperti demikian akan mudah untuk mengkoordiner, lalu kerjanya pun juga akan lebih jelas. Intinya harus di persiapkan dengan baik agar acara berjalan dengan baik dan lancar.

HUT RI Ke 76



Sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan didapatkan untuk kedua kalinya. Di musim yang seperti ini Upacara Bendera adalah sebuah momen penting dan istimewa. Karena di musim pandemi mungkin tidak bisa kita adakan semeriah sebelum-sebelumnya.

Upacara dengan mematuhi protokol kesehatan. Mencuci tangan dan memakai masker adalah aturan yang wajib kita laksanakan. Semua petugas upacara pun demikian, menggunakan masker. Lalu setiap pleton barisan menjaga jarak.

Lalu tempat upacara kita adakan di bumi perkemahan yang langsung ke alam dan terbuka. Tidak semua anggota hadir pada komunitas-komunitas yang ada. Namun semua hanya perwakilan.

Dan siapa sangka, saya dan teman-teman perwakilan mendapat kesempatan lagi yakni menjadi tim paduan suara. Mungkin terkesan tidak persiapan, namun saya pribadi sangat bangga dan senang bisa menyanyikan lagu tiga nasional.

Lalu, kami bertemu dengan teman-teman yang lama sudah tak berjumpa lama. Dan mengabdikan momen dengan berfoto bersama.

Saya rasa bentuk penghormatan kepada negara bermacam-macam bentuknya. Masih teringat rasa nasionalisme dan patriotisme. Kurang lebih seperti itu, dan semua akan kembali kepada pribadi orang masing-masing.

Namun, saya yakin banyak terbesit doa dan harapan bahwa ada doa serta harapan untuk negeri tercinta ini, yakni pandemi ini segera berakhir, sehingga pulih dengan lebih baik dari berbagai aspek negara. Mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan masyarakat dan berbagai urusan sosial. Amin

Senin, 16 Agustus 2021

Merdeka



Merdeka Bukan Untuk Sorak Berbahagia Semata

Merdeka Bukan Pula Untuk Berfoya-foya 

Merdeka Bukan Juga Untuk Satu Nama


Merdeka Melainkan Untuk Berjuang

Merdeka Untuk Menunjukkan

Kualitas Bangsa Dan Negara Kita


Boleh Ditanya Sampai Mana Perjuanganmu

Mengharumkan Tanah Air Indonesia

Boleh Direnungkan Seberapa Pedulimu

Dengan Rakyat-Rakyatnya


Maka Merdeka Di Tujuh Puluh Enam Ini

Sudah Waktunya Menunjukkan Kualitas Diri

Menjadi Generasi Yang Tak Takut Mati

Hanya Demi Kebenaran Yang Hakiki

Pojok Baca



Tidak bermaksud untuk membandingkan. Namun hanya berdasarkan pengalaman saja. Bahwa setiap proses harus kita hargai harus kita jalani.

Berproses untuk menjadi lebih baik dalam segala bidang. Salah satunya kualitas diri. Berdasar pengalaman saya yang pernah diberi kesempatan Allah untuk ke luar Negeri yakni negeri Jiran Malaysia, tepatnya di pusat Ibu Kotanya Malaysia yaitu Kuala Lumpur. 

Melihat kelas serta siswanya yang begitu nyaman dan "krasan" atau betah untuk di kelas. Ternyata ada yang sangat menarik di ruang kelas tersebut. Yaitu Pojok Baca, ada sebuah rak yang yang ternyata isinya berbagai buku, majalah, novel anak dan beberapa buku yang menarik.

Lalu, ditambah lagi ketika mengajar di salah satu sekolah dasar Islam Plus di Malang hal demikian juga saya jumpai. Malah diwajibkan sebelum pelajaran di mulai, harus membaca satu halaman. 

Nah, ini sudah lama dan sudah banyak kita jumpai. Iya namanya adalah gerakan literasi. Begitu pentingnya literasi untuk generasi muda kita. Literasi notabennya bukan hanga untuk membaca, namun memahami, mengambil hikmah serta ilmu dari buku yang telah kita baca.

Apakah literasi hanya membaca? Tentu tidak menulis pun juga bagian dari literasi. Kali ini saya mencoba sedikit demi sedikit mengajak anak-anak Madrasah ditempat saya mengabdi, untuk gemar membaca. Dari lingkup kecil dulu yakni di kelas yang saya pegang.

Allhamdulillah saya sangat bersyukur siswa di kelas saya sangat antusias mengikuti kebiasaan baik yang saya bangun. Dulu di kelas V, saya sering mengajak untuk menulis puisi dan masih berlanjut sampai saat ini.

Lalu, kali ini saya mencoba menghidupkan kelas, meski fasilitas tak seperti sekolah luar negeri, minimal nyaman dan anak-anak bisa membangun kebiasaannya baru di kelas yakni dengan menjumpai pojok baca, dan harus membaca.

Mungkin, bagi yang membaca tulisan ini gerakan itu sudah kuno dan sudah lama. Betul sekali, namun saya masih terhitung baru di tempat saya mengabdi, dan madrasah ini pun juga masih usia muda sehingga setidaknya saya mampu memberikan hal positif kepada siswa saya dan bagi mereka ini trobosan baru. 

Sehingga saya mempunyai mimpi besar serta harapan di kelas yang saya pegang selama ini, benar-benar berkualitas baik hafalan Al Qurannya maupun akademisnya, lalu mereka semua bisa melanjutkan disekolah terbaik sesuai dengan yang mereka cita-citakan dan yang paling penting setidaknya kami bersama mempunyai karya bersama selama kurun waktu tiga tahun berjalan bersama,yaitu satu buku. Iya dari kelas empat semester genap saya bersama mereka. 

Semoga Allah selalu memberikan jalan kemudahan untuk mewujudkannya, dan membawa keberkahan bagi semua. Dan saya yakini betul-betul bahwa semua mimpi dan cita-cita kami akan terwujud. Aminn 

Mohon Doa dan supportnya.

Sabtu, 14 Agustus 2021

Siapa Yang Menutupi Perkara Akan Sengsara




Siapa Yang Menutupi Perkara Akan Sengsara. Hidup pasti akan ada perkara atau masalah. Jika tidak ada perkara/masalah maka tidak hidup. Begitulah singkatnya.

Lalu adanya masalah pasti ada jalan untuk menyelesaikannya. Mungkin diam juga solusi. Tapi bukan menutupi, betul saja yang akan menutupi bakal sengsara.

Sengsara karena ditahan oleh diri sendiri. Jika masalah itu timbul dalam suatu komunitas atau organisasi. Hal demikian sangat tidak pas. Yang terbaik adalah sisi keterbukaan. Dan perlakuan yang sama antara anggota satu dengan anggota lainnya.

Keterbukaan dalam arti penjelasan di awal jika ada suatu masalah. Barangkali jika sudah ada penjelasan terlebih dahulu semua anggota yang lain akan memahami. Bahkan ada kalanya akan lahir sebuah solusi.

Bukan ditutupi demi kemaslahatan. Bagaimana menjamin kemaslahatan atau kesepakatan jika tidak ada penjelasan di awal. Harus kita fahami betul, mungkin di komunitas atau organisasi tersebut belum ada yang faham. Atau sudah faham, dan sudah mengutarakan tapi tidak dihiraukan.

Jadi, cukup dijadikan pengalaman dan pelajaran saja ketika hal demikian terjadi. Baiknya secara terbuka atau hanya menutupi. Toh jika ditutupi lama kelamaan akan terbuka sendiri.

Menulis Walau Hanya Sebaris



Aktifitas satu ini memang terlihat sepele. Tapi tidak banyak orang yang melakukannya. Kadang terngiang apa yang akan mau di tulis.

Sama seperti saya dulu mengawali kegiatan menulis ini. Dan saya baru menekuni satu tahun berjalan. Sebenarnya sudah lama ingin menulis, tapi hanya sebatas ingin.

Karena Allah saya mengawali tulis menulis di kota tercinta ini dengan mengikuti salah satu seminar literasi tahun lalu. Mungkin itu titik awal yang harus saya mulai. Dan mengejar mimpi yang telah lama terkubur setelah pulang ke kota lahiran.

Iya, betul apa yang akan di tulis, topik, tema dan rangkaian kata menjadi kalimat kok kayaknya sulit. Jangan berkata sulit dulu, lakukan saja. Kalau sulit topik ya intinya menulis.

Kalau menulis story WA tidak akan sulit. Bisa saja kita siasati tulis saja semua di story WA, lalu pindahkan dalam suatu lembaran dan jadikan suatu paragraf. Intinya hanya satu lakukan saja menulis itu.

Iya seperti dalam seminar itu beliau mengatakan "pokok e nulis". Nah sama seperti slogan dibawah ini "tiada hari tanpa menulis, walau hanya satu bari". Jadi tidak ada yang sulit untuk menulis.

Siapa sangka dari menulis pasti ada sesuatu yang indah dan tak terduga. Seperti yang saya alami, saya banyak belajar dari menulis. Dan tak menyangka sudah buku ke empat untuk antologinya. Sedang buku solo masih on proses insyallah akan jadi dua buku istimewa.

Yuk tetap menulis, semaangat.

Jumat, 13 Agustus 2021

Masih Terus Belajar



Cukup sekali belajar dari angkatan sebelumnya. Banyak kelebihan dan kekurangan yang banyak buat pelajaran. Untuk melangkah selanjutnya bersama di kelas akhir di madrasah ibtidaiyah.

Tak mudah memang, namun harus optimis. Lalu dikerjakan dengan optimal dan semaksimal mungkin. Dan tak kalah penting adalah fokus.

Mungkin di luar sana mudah sekali menilai dan memberikan sebuah label. Angkatan pertama begini. Angkatan kedua begitu. Mari kita lihat angkatan ke tiga dengan guru yang berbeda pula.

Tugas komentator adalah komentar. Selebihnya yang tahu kendala dan karakteristik siswa yang kita hadapi adalah yang setiap hari yang bertatap muka. Iya tak lain adalah guru kelas itu sendiri.

Lalu, apakah hanya cukup guru kelas yang berperan? Tentu tidak, semua harus menyengkuyung bersama karena siswa adalah anak didik bersama. Jangan semena-mena dan lepas tangan, lepas tanggung jawab. Minimal saling mendukung, memotivasi dan ditanya bagaimana perkembangannya atau bagaimana kendalanya. Saya rasa hal demikian minimal akan mengurangi kesulitan-kesulitan yang dialami. Jangan acuh dan tak acuh, tanpa evaluasi, berjalan tanpa dukungan atau motivasi.

Lalu, yang suka berpendapat nilai tidak penting? Jangan berkata demikian di kalayak umum, jika beropini demikian cukup buat diri sendiri saja. Selanjutnya jika nilai dianggap tidak penting, buktinya saja, ijazah sebagai bentuk lembar kelulusan tetap ada nilainya berupa angka. 

Tentu angka yang berupa nilai itu punya makna, esensi dan diskripsi, serta arti sebuah untuk kualitas, kefahaman, penguasaan sebuah mata pelajaran. 

Masih terus belajar, berproses bersama meraih kesuksesan bersama demi masa depan anak bangsa. Yuk, terus semangat, aku yakin kalian hebat.

Rabu, 11 Agustus 2021

Pentol Bakso Bumbu Lada



Awalnya saya gemas sendiri melihat bahan-bahan di kulkas kalau tidak segera di masak. Salah satunya pentol atau bahan dari bakso. Mungkin masak bakso dengan segala pelengkapnya mie, bakso, kuah, saos tomat dan kecap sudah biasa.

Kali ini saya mencoba memasaknya dengan cara yang berbeda. Saya terinspirasi oleh tayangan kompetisi masak di Indonesia yakni MasterChef. Salah satu tontonan favoritku. Bahan yang sederhana jika diolah dengan baik dan benar, hasilnya pasti enak.

Nah, sepulang kerja hari ini, seperti biasa sarapan sekalian makan siang. Jangan dicontoh ya, saya sarapan itu memang sepulang kerja sekalian makan siang yakni sekitar pukul 10.00 WIB.

Setelah itu saya melihat meja dapur ada sayur-sayuran sisa dari pesanan tumpeng. Iya, saya dan umi di rumah membuka pesanan tumpeng. Monggo yang mau pesan, sangat bisa.

Setelah itu saya menemukan bawang bombai, selada dan tomat. Lalu di kulkas ada pentol. Sejenak saya berfikir, buat camilan ringan tapi berkuah dan enak. Lalu bereksperimen dan langsung eksekusi untuk mengolahnya.

Mau tau kan bahannya dan bagaimana cara membuatnya. Yuk terus baca sampai akhir ya.

Bahan-bahannya diantaranya adalah

1. Satu Buah Bawang Bombai

2. Dua Siung Bawang Putih

3. Dua Buah Tomat Segar

4. Cabai Rawit sesuai selera

5. Garam Secukupnya

6. Pentol Daging, boleh dari daging ayam atau sapi

7. Satu Sendok Margarin

8. Lada Secukupnya

9. Air secukupnya

10. Kecap secukupnya

Kemudian cara membuatnya adalah

1. Cincang kasar semua bahannya bawang bombai, bawang putih, tomat, cabai, 

2. Panaskan teflon dengan satu sendok margarin

3. Tumis bawang bombai dan bawang putih, jika sudah harum dan layu, masukkan cabai dan tomat, tumis juga hingga layu

4. Lalu tambahkan sedikit air

5. Iris Pentol menjadi dua

6. Masukkan pentol jadi satu ke teflon beserta bahan yang sudah di tumis

7. Masukkan lada dan garam dan aduk hingga merata

8. Tambahkan kecap sesuai selera

9. Lalu tambahkan air aduk hingga merata dan harum

10. Siapkan piring yang sudah didasari daun selada segar

11. Jika pentol bumbu ladanya sudah harum dan matang, siap dituangkan di piring yang sudah di dasari daun selada

12. Siap untuk dinikmati

Bagaimana mudah kan untuk membuatnya. Ayo mencoba dijamin pasti lezat dan mantab. Kalau saya seleranya berkuah tapi kuah yang tidak terlalu banyak. Oh iya seladanya mentah ya, jangan ikut di masak di teflon, mengapa demikian? Selada sudah cukup enak dan segar untuk dinikmati secara mentah, dan jenis sayur ini akan cepat layu, terkena siraman kuah tadi saja sudah layu. Namun sensasi kriuk sayurnya bikin nagih.

Selamat mencoba

PPKM Versi Saya



Versi PPKM ala saya, adalah "Pergerakan Pergi Ke Masjid". Kalau diwaktu sebelumnya ke masjidnya untuk jamaah hanya waktu tertentu dari lima waktu sholat fardhu. Sekarang merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk selalu taqorrub kepadaNya.

Harus semangat, apalagi di musim seperti ini. Semangat sehat, semangat ibadah. Karena apa, musim seperti ini kesehatan adalah prestasi utama.

Sebagai rasa syukur yang berlipat ganda harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Sehat jasmani dan rohani digunakan untuk yang baik-baik. Salah satunya adalah ibadah ke masjid.

Banyak hal yang bisa kita lakukan di masjid tentu dengan amalan ibadah. Salah satunya dengan sholat berjamaah. Sholat berjamaah yang sudah kita tahu banyak fadilahnya, selain banyak pahalanya yakni dua puluh tujuh lipat dibanding sholat munfarid atau sholat sendiri.

Sholat berjamaah itu ringan, tapi juga berat. Loh kok bingung, begini ceritanya juga. Ketika istirahat ada suara memanggil yaitu adzan, kalau awalnya tidak dipaksa pasti berat bangun. 

Kadang-kadang memang harus dipaksa dan harus ada motivasi. Mengingat waktu yang kita dapat sekarang adalah sangat berharga. Belum tentu besok ada kesempatan berharga seperti hari ini. Maka setiap hari itu harus maksimal, maksimal berbuat baik dengan amalan-amalan yang terbaik untuk mencapai ridhoNya.

Oleh karena itu PPKM "pergerakan pergi ke masjid" harus benar-benar ditanamkan. Kita awali dari diri sendiri. Jika berat, harus dipaksa. Menurut saya pribadi, kebiasaan itu harus diawali dengan dipaksa. Diawali dengan dipaksa maka akan terbiasa. Kalau sudah terbiasa, jika tidak dilakukan pasti ada yang kurang.

Di masjid itu tidak hanya berjamaah, bisa kita lakukan membaca Al Quran, kemudian mengikuti majelis ta'lim. Jika di masjid sendiri ada kegiatan madrasah diniyah, taman pendidikan Al Quran rasanya sangat indah dan menentramkan.

Masih ingatkan di jaman Rasulullah. Bahwa masjid juga digunakan sebagai banyak sarana. Untuk pendidikan, untuk musyawarah, dan digunakan dengan kegiatan baik. Rasanya harus benar-benar kita hayati, masjid tidak hanya kita ramaikan di bulan tertentu saja. Melainkan setiap saat.


Senin, 09 Agustus 2021

Tangan Hangatnya



Uluran Manis Lembut

Sebuah Tangan Kecil Suci

Untuk Menggenggam Erat


Melambangkan Kekuatan Batin

Dalam Ikatan Darah Daging

Menjadi Penyatu Segala Perkara


Suci Dan Tak Ternoda

Yang Menjadi Separuh Nyawa

Dan Selamanya Menjadi Separuh Jiwa


Uluran Tangan Hangatmu

Menjadi Obat Mujarabku

Hinggaku Menjadi Kuat


Kutetap Menantimu

Dalam Untaian Doa Terbaikku

Engkau Akan Menjadi Malaikat

Pelengkap Keluarga Kecilku

Untuk Bu Ani




Namamu Indah Bak Paras Baikmu

Engkau Selalu Menjadi Terhebat

Mengorbankan Segala Jiwa Raga

Untuk Generasi Muda


Perjuangannya Letih Lelah Raga

Harus Terbagi Dengan Karir Dan Keluarga

Sekali Lagi Usaha Maksimalnya

Selalu Ia Perjuangkan Dan Pertaruhkan


Sekali Lagi Sungguh Mulia

Menjadi Guru Sekaligus Bunda

Wanita Kuat Dan Hebat

Yang Selalu Menjaga 


Menjadi Teman Sekaligus Sahabat

Sosoknya Yang Sangat Hangat

Membuatku Nyaman Curhat Bersamanya

Spesial Persembahan Terimakasih

Untuk Pengabdian Dan Jasa Muliamu


Ku Yakini Di Tempat Kerja Barumu

Engkau Lebih Nyaman

Dan Menjadi Sosok Selalu Mengisnpirasi

Semoga Barokah Di Manapun Engkau Mengabdi

Untuk Bu Ani

Minggu, 08 Agustus 2021

Cemburu



Wajar Rasa Itu Datang

Menjadi Kekhawatiran Melanda

Atas Nama Sayang Dan Cinta


Kepemilikan Hati Hanyalah Seorang

Sudah Separuh Jiwa Kumenyakini

Bahkan Juga Kerelaan Nyawa 


Mungkin Itu Tidak Akan Datang

Jika Memang Sudah Percaya Sepenuhnya

Namun Itu Bumbu Resep Percintaan

Sabtu, 07 Agustus 2021

Suka Sukamu




Congkaknya Rupa Wajahmu

Sombongnya Lirikanmu

Dan Berkata Inilah Aku


Ini Punyaku

Aku Yang Akan Membayarmu

Segalanya Terkendali Olehku


Suka-Sukaku

Kau Hanya Suruhanku

Maka Tunduklah Kepadaku


Hai Kau Lupa Kawan

Hidupmu Bukan Jutawan

Mati Pun Bukan Untuk Tawaran


Semua Terserah Tuhan

Teruskan Perlakuan Ketidak Adilan

Karena Atas Nama Tuhan

Kau Akan Merasakan Balasan

Jumat, 06 Agustus 2021

Mengembangkan Kurikulum



Sepanjang pengalaman dalam dunia belajar mengajar atau pendidikan akan selalu ada aturan, acuan dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Salah satunya adanya  kurikulum. Kurikulum yang telah lahir dari pemerintah selalu akan berkembang.

Dulu istilah ganti menteri pendidikan pasti identik dengan ganti kurikulum. Nah mau tidak mau guru harus belajar ulang. Meski tidak memungkiri banyak kendala.

Salah satunya yang masih kita pakai hari ini. Awal-awal adanya kurikulum 2013, atau kita sebut dengan K13, semua guru belajar dari awal. Mulai memahami kompetensi inti kemudian buku ajarnya, penilaiannya, admnistrasi kelas, rencana pembelajarannya, silabus, prota, promes dan lain-lain. Semua itu tidak mudah.

Karena saya mahasiswa angkatan 2012, alhamdulillah diberi waktu panjang mempelajarinya lebih awal dan alhamdulillah mengetahui penerapannya seperti apa. 

Nah, hal demikianlah yang dinamakan pengalaman. Pengalaman melakukan secara langsung tentu sangat berbeda dengan hanya teori yang dikuasi. Sehingga sangat perlu kita saling bertukar pengalaman untuk hal penerapan kurikulum 13 ini.

Di kurikulum sebenarnya kita sangat boleh mengembangkannya tentu disesuaikan misal dengan kondisi lingkungan sekolah lalu kondisi siswa. Tidak melulu hanya mengadopsi kurikulum yang telah ditetapkan.

Untuk mengembangkan kurikulum tentu ada aturannya. Tak semudah membalik telapak tangan, tangan semudah dengan ucapan yang sok tahu, tak semudah seperti orang menyuruh beli kopi di supermarket. Apa artinya, butuh proses, penelaaan, pemetaan tujuan pembelajaran. 

Lalu butuh desain, observasi, implementasi, penerapan, dan yang utama adalah evaluasi.  Jika desain saja hanya suatu konsep berupa lisan, tanpa adanya dokumen pemetaan tujuan dan langkah-langkahnya, dari mana dikatakan desain. Harus ada bukti fisiknya.

Kalau desain saja belum punya bagaimana untuk langkah selanjutnya. Yang namanya langkah mengembangkan harus di lalui step bh step artinya di lakukan secara runtut. Jangan langsung asal lari saja.

Sebelum diimplementasikan atau diterapkan setidaknya ujicoba dengan observasi, bagaimana dengan desain yang ada baik atau tidak baik, efektif atau tidak efektif. Hal demikian harus di lihat secara betul dan sungguh-sungguh.

Jika observasi lancar, lalu ke implementasi secara menyeluruh. Di kedua langkah ini menurut saya perlu kerja sama, kekompakan kepda seluruh tenaga pendidik. Untuk memantau, mengamati seberapa jalan dari kurikulum yang telah di kembangkan.

Setelah jalan dengan waktu yang cukup, baru di evaluasi. Tujuannya agar kita memahami kelebihan serta kekurangan dari kurikulum yang kita terapkan. Jangan hanya memahami kelebihan, namun tak mempertimbangkan kekurangan. Hal demikian bisa fatal, soalnya terus menganggap pengembangan yang dilakukan selalu efektif dan terbaik. 

Jangan tergesa-gesa mengatakan dan menilai demikian, karena lagi-lagi belum ada bukti fisik dan penelitian yang nyata. 

Poin yang sangat penting di tulisan ini adalah mengembangkan kurikulum butuh kerja dan proses penelaah yang harus cukup waktu dan dilakukan oleh semua tenaga pendidik, tidak hanya personal. Namung tetap penanggungjawabnya adalah koordinator dan pimpinan lembaga. Kemudian, pengembangan kurikulum menurut saya tidak boleh keluar dari jalur utama kurikulum aslinya. Yang namanya mengembangkan sangat berbeda dengan membuat baru.

Yuk sama-sama belajar, bertanya dengan yang lebih pakarnya, sharing pengalaman. Jangan menganggap dirimu yang paling tahu dan hebat, sehingga dengan mudah menyalahkan orang.

Hujan Jangan Malu




Hujan Jangan Malu-Malu
Membuat Mereka Bercumbu
Dengan Kemesraan Membaru

Hujan Gerimis Mersa
Membuat Hati Bahagia
Mereka Yang Dilanda Cinta

Wahai Pengantin Baru
Selamat Menempuh Perjalanan Indahmu
Akan Terbukti Apa Definisi Cintamu

Kamis, 05 Agustus 2021

Curriculum Development & Design




Belajar lagi, mata kuliah satu ini membuat aku ingat segalanya. Mulai dari kelas, dosen pengampu dan buku-buku yang digunakan. Lalu tugas-tugasnya yang harus menggunakan bahasa Inggris.

Disebabkan kelas kita kelas kecil, yang merupakan kelas pilihan. Dengan label kelas PGMI ICP, pendidikan guru madrasah International Class Program. Berat namun jangan dijadikan beban. Tugas makalah-makalah harus pakai bahasa inggris.

Nah, salah satu bukunya nih "Curriculum Development & Design" karya Allen dan Unwin buku ini berbahasa inggris. Di buku tersebut saya rasa cukup lengkap membahas pengembangan dan desain kurikulum. Tapi harus pegang kamus, ketika menemukan kosa kata yang tak mengerti terjemahnya.

Paling dasar adalah pengertian kurikulum itu sebenarnya apa sih. Kurikulum kalau pengertian tradisional lebih mudahnya adalah kumpulan mata pelajaran. Namun tidak cukup jika kurikulum diterjemahkan demikian. Curriculum is defined as all the planned learning opportunities offered to learners by the educational institution and the experiences learners encounter when the curriculum is implemented.

Kurikulum adalah segala pembelajaran yang terencana dari institusi pendidikan dan memberikan pengalaman pembelajar ketika kurikulum tersebut di terapkan.

Rabu, 04 Agustus 2021

Ketika Kecewa



Manusiawi jika rasa kecewa pasti datang menghampiri. Kecewa akan menjadi amarah jika kita tak mampu untuk menguasainya. Itulah anugerah terindah perasaan manusia.

Kadang suka, bahagia, senang namun air mata kesedihan, kekecewaan saya yakin juga selalu mengiringi. Pintar-pintar bagaimana kita menerima dan menanggapi. Menjadi manusia peka menurut saya merupakan sebuah solusi. Karena kepekaan jika tidak dilatih sejak kecil, akan susah untuk merasakan kepekaannya.

Misal saja, jika kita senang secara otomatis lingkungan sekitar akan merakan energi yang positif, dan itu wajar dan setara. Namun, jika kita kecewa, bagaimana mengolah rasa kecewa tersebut. Susah, memang harus belajar. 

Ikhlas merupakan solusi kedua. Ikhlas merupakan rasa kerelaan menerima rasa kecewa itu sendiri. Jika sudah mampu untuk ikhlas semua beban atas rasa kecewa itu akan reda secara sendirinya.

Yang paling ampuh adalah banyak-banyakin istighfar. Kita tahu kalimat tayyibah ini merupakan permohonan kita kepada Allah untuk meminta ampun atas segala dosa. Biar rasa kecewa itu ada, namun kekecewaan yang kita terima mungkin akan meringankan dosa-dosa kita.

Selasa, 03 Agustus 2021

Pengalaman Menulis Dokumen Penting



Jujur baru pertama kali menulis dokumen penting. Ternyata, tidak mudah. Semua ada aturan yang berlaku.

Dan aturan-aturan itu banyak sekali. Ada buku khususnya, yang ahrus dibaca secara runtut dan teliti. Jujur itu tidak mudah.

Membaca segala aturan dengan jeli dan teliti. Lalu harus praktek di lembaran yang sudah di fotocopy. Bolpoin yang dipakai oun harus bolpoin khusus.

Memang menulis dokumen penting butuh keahlian. Memang tulisanku tak sebagus tulisan orang lain. Setidaknya saya diberi kesempatan merakan menulis dokumen penting ini.

Menulis dokumen penting tidak cukup hanya bisa di baca, namun harus tepat, sesuai dengan dokumen pendukungnya. Misalkan nama, tempat tanggal lahir  harus sesuai akta kelahiran.

Oleh karena itu, menulis dokumen ini merupakan pengalaman berharga. Lalu ketika ada komentar, ini itu, maka harus siap saja. Toh tugas komentator ya hanya berkomentar, mereka belum merakan pengalaman berharga ini.

Selalu Ada



Ucapan Manismu Bukan Ilusi

Kecintaanmu Bukan Basa Basi

Sayang Peluk Menjadi Bukti

Selalu Ada Menjadi Saksi

Kekokohan Pilihan Atas Dasar Illahi

Menjadi Sepasang Suami Istri

Yang Saling Melengkapi

Memang Cinta Tak Selamanya Abadi

Namun Denganmu Menjadi Indah Di Sanubari

Aku Bersyukur Menjadi Istri

Dari Sosok Lelaki Kuat Suami

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...