Senin, 31 Januari 2022

Menghitung Benih Ikan Lele





Libur kesempatan untuk memasak dan menikmati segala kegiatan di rumah tanpa terbebani tanggungjawab kerjaan kantor. Seperti ibu rumah tangga lainnya. Bersama keluarga dan bercengkrama, bersih-bersih dapur dan rumah. 

Kali ini ada yang berbeda, selepas selesai kegiatan di rumah. Saya di ajak suami untuk ikut kegiatan dan membantu beliau. Beliau membawa drum kecil, saya tahu drum kecil tersebut untuk wadah ikan. Sudah saya rasa nih, bakalan menghitung ikan.

Dan betul, menghitung benih ikan lele. Ikan lele, kita tahu jenis ikan tawar yang banyak dikonsumsi banyak orang. Ikan lele bisa diolah apa saja. Digoreng dikombinasi dengan sambel jadi pecel lele, lele geprek, di buat botok lele, lele asap dan bahkan ada bakso lele, kripik lele dan sebagainya. Sehingga lele banyak diternakkan dan jadi usaha perikanan. Adik ipar membeli benih seribu, kenapa hanya seribu, sebab hanya buat konsumsi sendiri bukan untuk jual beli. Dan dibagi menjadi dua kolam kecil satu punya saya di rumah, makannya kali ini saya ambil benih tersebut dengan menghitung sendiri. Kalau orang yang ternak untuk usaha, satu kolam minimal isinya lima ribu sampai sepuluh ribu. 

Ini pengalaman pertama menghitung benih ikan lele. Ikan lele yang licin dan ternyata kalau masih kecil tidak begitu menakutkan akan "patilnya". Awalnya saya belum diizinkan oleh suami, takut jijik dan heboh. Akhirnya saya memberanikan diri dan ternyata nyaman dan bisa.

Alhamdulillah bisa menghitung dan benar masih hitungan enam puluhan sudah heboh. Dengan dalih panas, hehehe. Namun, cukup asyik juga dan belajar lebih sabar dan utamanya adalah teliti dan ukuran benih yang sama atau racak. 

Sabtu, 29 Januari 2022

Bersih, Rapi Dan Wangi




Saya sangat mengagumi sosok guru yang sangat bersih dan rapi. Seakan bajunya tidak pernah terlihat kusut, bahkan terlihat sangat kimpleng, seakan lalat kepleset jika mau menghinggapinya. Bukan karena barang yang di pakai branded dan mahal. Namun, memang beliau yang sangat bersih dan rapi.

Saya merasakan betul ketika menjadi salah satu siswanya. Menjadi motivasi sendiri, ketika berangkat sekolah untuk bertemu beliau, guru yang bersih, rapi dan wanginya yang khas, lalu kelas dan keperluan sekolah yang serba rapi dan lengkap. Sekolah seakan tidak ada kata malas, terus semangat jika memang ada halangan seperti sakit, seakan ketinggalan dan meruginya minta ampun.

Masih teringat sepatu kulit yang berwarna hitam beliau kenakan bisa untuk mengaca jika waktu upacara dan menjadi bahan perbincangan siswa sebab saking bersih dan kinclong. Lalu motornya, dulu motornya masih manual, berbeda dengan sekarang yang mayoritas matik, seakan tidak ada noda dan sudah di pastikan kinclongnya. Beliau juga mengajarkan kepada siswanya untuk selalu menjaga kebersihan terutama kelasnya.

Beliau tidak segan membantu siswanya untuk menyapu merapikan printilan hiasan, pajangan yang ada di kelas. Tidak hanya menginstruksikan tetapi ikut andil menata, merapikan, bahkan tulisan motivasi beliau tulis sendiri menggunakan kaligrafi dengan Bahasa Arab. Beliau menciptakan kelas yang nyaman untuk belajar dan betah berlama-lama. Dan menghidupkan bakat teman-teman di bidang seni baik lukis, menggambar dan yang lainnya. Sehingga tidak hanya akademik yang beliau tekankan.

Beliau berkata apapun jika bersih dan rapi semua akan membuat nyaman. Baik rumah, baju, kelas, buku, apapun keperluan kita. Semua keperluan sekolah harus rapi, tulisan tangan pun harus rapi dan semua jadwal harus tepat, buku harus di sampul dan dituliskan nama lengkap. Artinya kedisiplinan juga beliau terapkan.

Beliau juga selalu sedia tisu kering dan basah, sisir, minyak rambut dan parfum di tasnya. Hal ini, diperlukan, misalnya jika setelah wudhu, sholat dhuha, dan  olahraga perlu untuk ganti baju. Kalau di sekolah pasti disediakan sabun untuk cuci tangan. Bahkan beliau juga tidak segan untuk menyemprotkan parfum kepada siswanya jika beliau merasakan bau tidak sedap dan membuat tidak nyaman.

Mungkin itu secuil kisah bagaimana bersih dan rapi. Semua harus di awali dari diri sendiri, jika orang tua di rumah bersih dan rapi dapat dipastikan putra-putrinya juga demikian. Sama dengan di sekolah jika gurunya bersih, rapi dan wangi maka kelas dan siswanya pun juga akan mengikuti meski tidak semua. Tinggal bagaimana kita mengkampanyekan bahwa kebersihan, kerapian itu penting.

Belajar Tidak Perlu Takut Salah




Setiap perjalanan dari hidup seseorang tanpa mereka sadari adalah suatu pelajaran. Dalam setiap peristiwa yang terjadi memberikan makna bahwa kita harus belajar. Belajar memaknai, merenungi dan mengambil hikmahnya.

Belajar tidak perlu perlu takut jika salah. Sebab di dalam belajar sudah lumrah jika melakukan kesalahan dan kita hanya manusia biasa. Jika sudah mahir tanpa kesalahan itu namnya ahli. Sebelum menjadi ahli pun dapat dipastikan pasti melalui proses  belajarnya juga sangat panjang.

Belajar bukan hanya di kelas dan di sekolah. Melainkan dari banyak hal, bisa melalui kehidupan yang kita alami langsung atau pengalaman melalui media, sarana dan pada kondisi yang tak tentu. Misalnya saja ketika sudah hidup dalam masyarakat, hal demikian tidak ada dalam pelajaran. Tapi kita bisa bersikap dalam menempatkan diri dan lebih bijaksana dalam segala situasi.

Belajar apapun tidak perlu takut, tak pelu malu dan jangan pernah menyerah apalagi putus asa. Ulangi dan ulangi segala hal yang menurut kita sulit dan belum maksimal. Jangan malah ditinggal karena malas dan tidak begitu disukai. Sama dengan halnya, jika mempunyai kekurangan dan kesalahan kepada sesama maka segera minta maaf. Jika bertemu orang yang sekiranya kurang nyambung dan tidak cocok, cukup bersikap baik dengan tanpa menyela, mencibir cukup hindari saja. Jika perlu, kita hanya sebagai pendengar saja, tidak perlu merespon banyak. Bukan anti sosial, tapi lebih menjaga hati kita dan hati orang lain agar tidak terluka. Sebab, luka hati seseorang tidak akan tahu dan pasti membekas.

Manusia sering sekali menilai orang lain, tanpa melihat dirinya sendiri. Sadari, manusia mempunyai kekurangan, maka kita harus mengubur kekurangan orang lain dengan melihat segala kelebihannya. Tetapi, kepada diri sendiri, selalu lihatlah kekurangan agar diri sendiri selalu tawadu'. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan selalu instrospeksi.

Salam semangat memperbaiki diri dengan terus berprestasi.

Jumat, 28 Januari 2022

Mengenal Aswaja



Banyaknya mata pelajaran yang berada di Madrasah Ibtidaiyah, kadang kita lupa tujuan terdalam dari masing-masing pelajaran. Hanya mengejar selesai di mata pelajaran tertentu, melupakan yang lebih utama karena dianggap sebagai mulok atau pilihan. Kadang sama sekali tidak diajarkan, dengan dalih tidak cukup waktunya. Diajarkan ketika menjelang ujian saja. 

Seperti Bahasa Jawa, Bahasa Inggris dan Aswaja. Padahal kita tahu semua pelajaran itu penting dan saling berhubungan. Salah satunya Aswaja akan berhubungan dengan sejarah Islam. Dan kita tahu Aswaja adalah salah satu mata pelajaran yang berada di lembaga pendidikan naungan Nahdlatul Ulama. Mata pelajaran ini mulai dikenalkan di kelas IV di Madrasah Ibtidaiyah. Aswaja memiliki peran penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia dan para generasi penerus bangsa.

Dimata pelajaran inilah siswa bisa mengenal sejarah berdirinya Nahdatul Ulama, tokoh, serta peran organisasinya. Berkembangnya zaman pada generasi muda kadang kurang menyadari akan pentingnya hal demikian. Meskipun dalam satu minggu hanya dua jam pelajaran, setidaknya harus memberikan bekas yang nyata bagi mereka.

Hal ini diperlukan pemahaman dan kesadaran akan gurunya untuk mengajarkan, menyampaikan materinya. Minimal mereka mengenal apa itu Nahdatul Ulama. Paham Ahlusunnah Wal Jamaah yang kemudian amaliah yang mereka kerjakan, mengandung paham tersebut. Sudah sejak dulu diajarkan tentang akidah, ibadah, muamalah dan akhlak oleh para ulama bermadzhab. 

Kita tahu Nahdlatul Ulama(NU) adalah organisasi penting keagamaan yang anggotanya terbesar di Indonesia. Para pendirinya pun adalah tokoh besar yang kita tahu ada lima belas tokoh dan yang paling kita kenal dan sering kita dengar yakni K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari (Tebuireng, Jombang). Perjalanannya dari zaman ke zaman pun kita harus mengikuti.

Meneladani perjuangan beliau K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari, K.H Abdul Wahab Hasbullah, K.H Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang) K.H Makhsum (Lasem) dan yang lainnya baik dalam peran nasionalnya, peran agamanya dan sebagai guru serta karyanya di kalangan pesantren. 

Semua itu berawal dari diri sendiri, harus kembali banyak membaca, meningkatkan terus kualitas. Jangan menyepelekan, menggampangkan, menganaktirikan mata pelajaran. Semua harus disampaikan secara seimbang apapun mata pelajarannya baik umum atau agama. Sehingga, semua tepat pada sasarannya.

Hal ini juga sebagai sarana dakwah kita sebagai pendidik, pengajar, untuk mengurangi pengaruh globalisasi dengan adanya budaya asing yang masuk ke negeri Indonesia. Sebagai contoh peserta didik lebih kenal dan tahu tentang BTS dari pada tokoh yang membesarkan nama Nahdlatul Ulama. Sering berkunjung ke maqbarohnya untuk berziarah tapi tak faham, sebab hanya sekedar ikut-ikutan saja. Maka, sudah menjadi keharusan sebagai pendidik kita lebih faham dahulu seluk beluk Nahdlatul Ulama untuk disampaikan kepada mereka dengan baik dan benar.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi pengingat kita dalam dunia belajar mengajar di lembaga tempat mengabdi. Semangat berjuang, dengan terus belajar dan berproses menjadi yang lebih baik. Salam Literasi

Kamis, 27 Januari 2022

Kerusakan Alam



Teringat satu dalil dalam Al Quran tentang kerusakan alam. Saya menjadi merenung, perubahan iklim, cuaca semua kini bisa dirasakan. Seperti halnya, dulu iklim sudah dipastikan terjadi di bulan tertentu, sebagai contoh kemarau dari April sampai Agustus. Lalu musim hujan di bulan September sampai Maret.

Kerusakan alam yang terjadi disekitar bisa banyak sebabnya. Faktornya baik dari alam itu sendiri atau faktor dari luar. Kerusakan alam yang di sebabkan alam itu sendiri sebagai bukti penyeimbangan. Sebagai contoh gunung berapi yang aktif akan bisa di diprediksi dengan alat dia akan erupsi. Ini bisa sebagai penyeimbangan. 

Lalu bagaimana contoh alam bisa rusak karena faktor dari luar. Al Quran menyebutkan bahwa kerusakan itu dari akibat campur tangan manusia. Manusia yang tidak pernah puas dengan keinginannya, mereka akan menghalalkan cara sebagai dalih untuk memenuhi kebutuhan. Penebangan besar-besaran hutan secara liar, kayu di jual dengan ilegal tanpa perizinan, tanpa ada reboisasi, mengklaim bahwa tanah yang diduduki adalah milik pribadi. Hal inilah yang bisa mengakibatkan alam rusak. 

Keegoisan sikap manusia menutup kesadaran akan hal tersebut. Seakan menuntut Tuhan, dengan pertanyaan kenapa harus terjadi dan mengapa harus kita? Dengan mudah jawabannya jika di tunjukkan Allah, semua itu terjadi atas kuasa Allah dan terjadi karena ulah dirimu sendiri.

Kesimpulannya adalah jika disekitar kita banyak bencana alam pertama jangan semena-mena menyalahkan Sang Kuasa. Coba kita sadar, dan instrospeksi diri. Bagaimana hubungan kita dengan alam kita, terutama di lingkungan sekitar. Mari, terus menjaga alam, melestarikannya, dengan buang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan dan terus mensyukurinya.

Selasa, 25 Januari 2022

Berbicara




Berbicara sangatlah mudah dalam membahas suatu hal. Berbicara pada awal pertemuan dengan orang lain, bisa menjadi modal untuk membangun keakraban. Berbicara pun salah satu bentuk komunikasi secara langsung.

Sebagian besar orang menilai bahwa berbicara itu sangat penting. Menurut saya, hal demikian melihat konteksnya, kondisinya dan keadaan. Sebab, kadang orang pandai berbicara belum tentu mampu mendengarkan orang lain.

Berbicara apapun kita harus bisa mengendalikannya. Jika kita lepas kendali berbicara, lalu terbiasa berbicara tanpa dasar akan menyebabkan suatu bencana terhadap kita sendiri. Oleh karena itu, ada orang-orang yang mengatakan bahwa malas untuk berbicara, karena alasan tertentu. Namun, bedakan kepada orang yang menyapa, jika kita bertemu kemudian memungkinkan dalam suatu kondisi jangan ragu untuk menyapa. Kalau tidak disapa duluan, bakalan tidak menyapa, menurut saya hal demikian kurang pas.

Maka, berbicaralah sesuai dengan fakta tidak perlu di kurangi bahkan di tambahi. Yang paling utama adalah berbicaralah seperlunya. Mungkin diam akan lebih baik dan memberikan keselamatan.

Hati-hati dalam berbicara

Minggu, 23 Januari 2022

Yuk Menulis



Bukan Waktunya Menangis

Bukan Juga Waktunya Meraung

Seakan Hanya Kami Yang Terluka


Ingatlah Menangis Bukanlah Solusi

Hanya Sebagai Pereda Di Waktu Itu

Jangan Kau Teruskan Air Mata Mengalir


Bukan Waktunya

Jika Sakit Hati Hanya Untuk Membenci

Sudahlah Coba Kau Alihkan 


Belajarlah Membaca Menulis Dan Menulis

Bukan Hanya Menangis

Sakit Hati Bukan Hal Yang Tragis


Ayo Bangkit

Dunia Masih Luas

Menulislah Agar Terasa Ringan

Buku Solo Kedua



"Seratus Sajak Untukmu" adalah buku solo kedua yang telah berhasil terbit. Karya kedua dari tujuh buku. Dan ini melalui proses, tidak seperti sulapan tiba-tiba jadi. Mustahil juga, bila tanpa menulis bisa menerbitkannya.

Tujuh karya dalam dunia menulis, lima diantaranya adalah antologi dan dua buku solo. Tujuh bukanlah suatu yang banyak jika dibandingkan dengan penulis yang sudah menerbitkan buku puluhan, ratusan bahkan ribuan baik secara solo atau antologi. Tapi hal ini memberikan makna terdalam bagi saya karena proses perjuangan dalam menulisnya dan akhirnya berbuah manis. Menurut saya, salah satu dari buah dalam menulis adalah mampu menerbitkannya dan bisa dibaca oleh banyak orang.

Buku solo kedua kali ini memberikan semangat tersendiri untuk terus menekuni dunia menulis. Lalu bagaimana lebih menanamkan keistiqomahan, keuletan, dan tentu dengan terus menulis. "Seratus Sajak Untukkmu" di buku solo kedua ini masih tentang puisi. Banyak cerita lika-liku terbitnya buku ini.

Pertimbangan dalam menerbitkan, sempat ada kata tidak mungkin. Ternyata saya salah, banyak sekali dorongan motivasi untuk melakukannya terutama dari orang terdekat yakni suami. Beliaulah yang selalu mendukung dan meyakinkannya. Belum lagi, ada hambatan di biaya, tapi terus berjuang dan bersabar akhirnya terwujud. Spesialnya lagi, terbitnya hampir bersamaan dengan buku solo perdana saya yakni "Hangatnya Barisan Sajakku". Meski di penguhujung tahun 2021, bukunya pun datang di awal tahun 2022 sebagai kado di awal tahun.

Mengapa masih tentang puisi? Sebab di dalam puisi bagi saya suatu perwakilan cerita luapan perasaan. Kemudian diambil judulnya "Seratus Sajak Untukkmu" yang menunjukkan bahwa di dalam buku itu terdapat seratus judul puisi. Saya awalnya juga tidak menyangka, akan menjadi seratus puisi. Selama saya berproses menulis, terus saja mengalir dan intinya setiap hari menulis. Alhamdulillah bisa di jadikan sebuah buku.

Harapan di buku kedua ini, semoga membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi semuanya. Sebagai penyemangat saya untuk terus berkarya. Nah, bagi yang ingin membaca buku ini, silahkan order dengan  langsung menghubungi kontak di nomer WA 085648203415.

Salam semangat literasi

Sabtu, 22 Januari 2022

Bahasa Jawa


Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Yakni menurut tempatnya memang dari pulau Jawa. Bahasa Jawa memiliki kekayaan bahasa yang yang luas. Bahkan satu makna memiliki kata yang sangat banyak. Misalnya makna yang dimiliki memukul, dalam bahasa Jawa ada ngantem, ngeplak, jotos, mbogem, tonyo,  dan masih ada yang lainnya.

Ini menggambarkan betapa kayanya bahasa daerah kita. Sampai kepada aturan tertentu dalam mengucapkan tutur kalimat juga di atur. Salah satunya tata krama pacelathon/berdialog dalam berbahasa Jawa.

Tata krama pacelathon/berdialog, dilihat dari lawan bicaranya, maka aturannya sebagai berikut:

-jangan sampai menyakiti hati

-lawan bicara harus diberikan kesempatan atau waktu untuk mengutarakan pendapat

-apa yang dibahas mudah difahami dan nyambung

-keluarkan suara yang lawan bicara cukup mendengar, artinya tidak terlalu pelan/lirih atau terlalu keras volumnya.

Tata krama menggunakan bahasa Jawa berdasarkan tempatnya, karena dalam bahasa Jawa sangat mengagungkan sopan santun kepada orang lain maka penggunaan bahasanya juga berbeda dan, sehingga di kelompokkan menjadi:

a. basa Ngoko

digunakan untuk orang tua kepada anak, sesama teman dan seumuran, orang tua kepada yang lebih muda

b. basa Ngoko Alus

digunakan dengan teman yang sudah akrab, dimana lawan bicara juga dihormati, seperti guru dengan guru

c. basa Krama Lugu

digunakan kepada orang yang baru kenal

d. basa Krama Alus

digunakan kepada orang yang sangat dihormati dan dimuliakan.

Pertanyaannya, kenapa kadang kita lupa untuk menggunakannya dan penempatannya yang masih membingungkan. Dan yang paling utama adalah sulit membedakan, bahkan saya pribadi sering sekali, mencampurnya dengan Bahasa Indonesia. Intinya tetap lestarikan bahasa daerah kita dengan semampu kita.

Buku Soloku Pertama

Foto bersama Bapak Prof. Ngainun Naim, M.Hi
Beliau pakar literasi

Saya tidak mengira hal ini bisa terwujud menjadi kenyataan. Buku solo pertama saya akhirnya terbit. Ini kali pertama buku saya terbit dan sudah ber ISBN. Tentu rasanya lega, senang dan bahagia.

Dulu saya juga pernah membuat tulisan dan mencetaknya tentang Enslikopedia Sains untuk anak Madrasah Ibtidaiyah kelas IV dan V. Di waktu kuliyah S1 dan S2 karena sebagai tugas akhir skirpsi dan tesis, tentu belum pada tahap cetak yang banyak apalagi ber ISBN. Tantangan dan tuntutannya tentu berbeda.  Kali ini perjuangan, berjalannya langkah demi langkah untuk selalu menulis hari perhari melalui blog memberikan kesan tersendiri dalam prosesnya. 

Buku solo pertamaku berjudul "Hangatnya Barisan Sajakku". Di buku ini, saya sangat dibantu oleh beliau pakar literasi yakni Bapak Profesor Dr. Ngainun Naim, M.Hi dalam editing, layout dan penerbitannya. Seperti manusia biasa, awalnya saya memiliki rasa kurang percaya diri dan tidak berani.

Lagi-lagi beliau ngendiko "santai wae". Disitulah saya mencoba tidak khawatir dengan segala halnya. Saya kirim file naskah dengan ketentuan yang ada. Hanya berselang berapa hari, beliau sudah mengirimkan covernya. Betapa bahagianya melihat cover saja, belum ke isinya.

"Hangatnya Barisan Sajakku" berisi barisan puisi-puisi luapan kata hati dengan berbagai nuasa dan keadaan. Buku ini juga sebagai bahan pembuktian dawuh beliau Pak Naim "menulis adalah sebuah perjuangan dan mampu merubah hidup kita".   Saya meyakini hal tersebut, sedikit banyak saya sudah merasakan perubahan itu.

Perubahan menjadi lebih sadar akan belajar tanpa batas, tiada henti tanpa membaca, lebih bijaksana, meningkatkan kualitas, prestasi, keprofresionalan dalam berkerja dan bagaimana menjadi manusia yang lebih manfaat dan baik dalam segala hal.

Buku solo saya ini mungkin tidak sebagus para ahli di bidang sastra puisi. Jika ada beberapa atau banyak kekurangan baik dalam susunan kata kalimat yang mungkin belum selaras, belum nyambung, belum sepadan dan lainnya. Saya, sangat terbuka jika ada saran demi kebaikan ke depannya.

Besar harapan buku ini memberikan manfaat bagi para pembacanya. Dan dapat meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuan menulis saya. Semoga terus bersemai jiwa literasi membaca dan menulis saya. Selanjutnya saya banyak mengucapkan beribu terimakasih kepada keluarga Abah, Umi, Mas Hafidz (suami), adik An'im, guru-guru, dukungan teman-teman yang selalu mendukung, dan semua yang terlibat dalam pembuatan buku ini terutama kepada beliau Bapak Profesor Dr. Ngainun Naim, M.Hi.

Nah, bagi yang menginginkan buku ini tentu sangat bisa dengan cara order dan hubungi no WA 085648203415. Terima kasih

Semoga Manfaat

Dan 

Salam Literasi

Rabu, 19 Januari 2022

Prof. Dr. Ngainun Naim Pelopor Literasi

 


Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I, nama beliau tadinya asing bagi saya. Mungkin karena saya juga bukan alumni IAIN Tulungagung. Sempat minder ketika dalam kesempatan workshop literasi bersama beliau, tak begitu tahu, bahkan belum kenal dengan beliau sedangkan sebagian besar peserta mengenalnya, karena alumni kampus IAIN Tulungagung yang sekarang menjadi UIN SATU.

Dulu ketika masih  di bangku kuliah tepatnya di UIN Maliki Malang ketika S1 di pertemuan awal, ada sesi perkenalan, kalau di tanya asal daerah selalu bangga menyebutkan Tulungagung. Beberapa dosen menanyakan, kecamatan apa, desa apa, kenal Pak Ngainun Naim? Jawabku, belum, bahkan tidak tahu, walau kita tetangga desa. Mengapa demikian? Faktanya pada waktu itu, saya memang belum tahu.

Dosen saya bercerita, bukunya sudah banyak, silahkan kalau mau baca karya beliau. Seusai jam kuliyah berakhir, saya penasaran, sehingga saya tanya salah satu judul buku beliau, yang cocok buat bahan makalah dan memastikan apakah betul beliau asli orang Tulungagung. Dan masih saya ingat betul judul bukunya "Rekontruksi Pendidikan Nasional". Setelah itu saya tidak terlalu mengikuti karya beliau selanjutnya.

Skenario Allah sangat indah, disisi lain saya memang bukan mahasiswa beliau tapi ada kesempatan untuk bertemu melalui workshop tentang literasi. Dan ketika itu saya sudah boyong dari Malang, menetap serta bekerja di Tulungagung. Baru sadar, ketika workshop itulah, oh inikah namanya Bapak Ngainun Naim. Dan melalui workshop literasi tersebut, saya mencoba, memberanikan diri untuk menulis dan menulis. Mulai mengikuti menulis bersama atau antologi yang beliau infokan, sekaligus ada yang langsung beliau koordinir. Lalu mengikuti lomba menulis, dan beliau juga salah satu jurinya. Dan tak menyangka saya mendapatkan juara pertama. Dan pengalaman barupun saya peroleh dan tentu membuat hati senang.

Lebih mengejutkan lagi bagi saya, ternyata beliau adalah putra pertama dari guru sekaligus kepala sekolah saya di waktu saya masih Madrasah Ibtidaiyah yakni beliau Bapak Surjadi. Flasback cerita Bapak Surjadi dulu, beliau sering memberikan nasihat kepada kita, untuk rajin membaca dan menulis. Dan beliau bercerita bahwa anaknya menjadi guru dari murid-murid yang sudah dewasa (mahasiswa). Setiap lebaran pun, kami bersilaturrohim ke rumah Bapak Surjadi, ada foto keluarga, sambil bercengkrama beliau membacakan enam putra-putrinya yang nama depannya semua Ngainun. 

Bapak Ngainun Naim, beliau adalah pelopor literasi. Dengan segudang karya melalui buku-bukunya. Beliau selalu menyerukan "pokok e nulis". Dan dalam seminar pertama kali itulah, saya menggaris bawahi dawuh beliau bahwa "menulis adalah sebuah perjuangan dan mampu merubah hidup kita" dan betul semua saya rasakan. Ini merupakan awal bagi saya juga untuk mewujudkan, melanjutkan cita-cita dan harapan untuk lebih baik.

Beliau juga adalah sosok yang sangat welcome kepada siapapun yang mau belajar menulis. Dan jarang saya menemukan sosok seperti beliau yang selalu memberikan semangat, dorongan kepada penulis pemula seperti saya. Bahkan, beliau sering memberikan apresiasi positif di grup-grup menulis. Beliau sangat membantu kami, mengantarkan tulisan-tulisan menjadi sebuah buku. Dan ini benar, saya alami. Buku solo saya pertama juga atas bimbingan, bantuan beliau. 

Workshop literasi perdana bersama beliau, pada waktu itu saya sangat menikmati. Sebab beliau membawakan workshop dengan santai, serius dan iringan jokes atau candaan  "guyon" yang tak membuat kita bosan dan mengantuk untuk mendengarkan materinya. Kalau dari fisik, pasti tidak menyangka kalau beliau suka guyon. Bahkan postingan-postingan di storynya selalu membuat pembacanya ikut tertawa. 

Bapak Ngainun Naim sebagai pakar literasi dan sekaligus inspirasi bagi saya untuk terus menulis. Melalui FB, WA, Instagram, blog pribadinya https://www.spirit-literasi.id/, channel youtubenya beliau selalu istiqomah menyerukan literasi membaca dan menulis. Saya masih ingat betul, buku perdana antologi tentang “Sejuta Cerita Tentang Ibu” tulisanku pun tidak karuan, terlihat sekali jika penulis pemula, namun kata beliau “santai wae, nulis saja”. Di grup kami beliau juga memberikan tantangan dan semangat jika mampu istiqomah menulis dalam waktu ditentukan beliau akan memberikan hadiah berupa buku. Alhamdulillah saya mendapatkan dua buku, salah satunya karya putra beliau. Beliau juga menuliskannya di atas tanda tangan beliau bahwa “Hal sederhana akan bermakna ketika ditulis”.

Itulah Bapak Ngainun Naim yang kiprahnya dalam dunia literasi tidak diragukan lagi dan tak pernah surut. Selalu istiqomah menyerukan literasi menulis. Dan seebagian besar dari kami, sudah lama memanggil beliau dengna sebutan “prof” dan jauh sebelum surat keputusan turun. Inilah bukti, bahwa beliau bergerak di dunia literasi benar-benar nyata dengan segudang karya tulisannya dan buku-buku beliau.

Saya menyambut dengan sangat gembira ada undangan dan kesempatan menulis buku antologi tentang kiprah intelektual Bapak Ngainun Naim. Sebab beliau sangat berperan bagi saya dalam menumbuhkan kembali mimpi dan cita-cita saya dalam bidang menulis yang awalnya di Malang dan kini lebih berkembang di kota kelahiranku. Saya bisa tetap melanjutkannya bahkan lebih baik. Tentu saya turut senang mendengar kabar surat keputusan bahwa beliau menjadi professor. Saya pun berdoa semoga saya bisa mengikuti jejak beliau. Semoga gelar profesor ini membawakan keberkahan bagi Bapak Ngainun Naim.

Selasa, 18 Januari 2022

Sandalku Hilang Dengan Misterius

(Gambar di atas merupakan pengganti sandal saya yang hilang😩)

Sudah dua hari semalam, saya mencari sandal yang masih umur tiga mingguan. Warnanya hijau mint, bentuknya slop, dan berbahan karet, ringan, tentu nyaman di pakai dan anti hujan pula. Saya terakhir memakai senin malam. Intinya hilangnya selasa siang.

Semalam saya ingin memakainya, tiba-tiba tidak ada. Namun, ada sandal hitam yang tulisannya "sandal mushola masjid". Saya pun enggan memakai, karena jelas itu bukan sandal milikku. Sebelumnya saya sudah mencari ke sana ke mari dan bertanya semua anggota rumah. Abah, umi, dan Mas tapi mereka tidak tahu menahu. 

Sandal hitam sudah usang dan tertulis "sandal mushola masjid", jelas juga bukan milik kami. Orang rumah tidak pernah memakai sandal kalau memang bukan hak milik, bahkan kalau pun di masjid sandal kami hilang, mending pulang nyeker atau tanpa alas kaki. Namun, ini cukup aneh.

Apakah di rumah ada tamu, kemarin? Jawabannya iya, sampai-sampai, saya tanyakan kepada tamu tersebut atas saran Umi saya, sandalnya mereka pun juga tidak keliru. Apakah saya menyesal, jika hilang sandal itu? Iya, mungkin pembaca menertawakan tulisan ini dan berfikir sandal di toko juga banyak bahkan ada yang persis, pabrik juga tidak cuma satu.

Apakah saya lupa menaruh, lupa memakai, jawabannya tidak. Saya cukup teliti dengan barang-barang saya. Saudara, perlu diingat hilangnya sandal saya ini cukup misterius, saya pun juga heran. Hilangnya posisinya di rumah dan jelas ada ganti sandal jepit hitam ada tulisannya. Otomatis, pasti ada yang memakai sandalku hijau slop, lalu entah ditukar dimana. Apakah saya mangkel/jengkel? Tentu mangkel, jengkel. Apalagi kalau sudah tanya, mencari ke sana ke mari, bahkan tanpa malu saya bertanya kepada tamu dan pelakunya hanya diam tidak merasa. Sambil menertawakan, "mek gur sandal". Manusia boleh buruk sangka, bagaimana jika buruk sangka itu benar? Saya tahu kok pelakunya, cuma anda gengsi untuk mengakui, karena sudah terlanjur menghilangkan sandalku.

Hikmah dari cerita ini adalah, jangan suka menyalahkan orang, jangan suka buruk sangka, jangan suka memberi masukan atau saran, jika itu pelakunya adalah kamu sendiri. Kedua, barang sekecil apapun, harus kita jaga, agar tidak terlalu menyepelakan, meremehkan, menggampangkan sekali pun kamu bisa membelinya kembali. Karena sudah pasti menjaga lebih baik, dari pada menghancurkan. Dan ketiga jujurlah, pada dirimu sendiri.   Koreksi dirimu sendiri, sebelum mengoreksi orang lain.

Aku Tak Mau Bosan


Mengumpulkan Niat Untuk Tetap Bisa

Melangkahkan Kaki Untuk Berjalan

Menatap Ke Depan Dengan Keyakinan


Sesungguhnya Aku Bosan

Tapi Tak Mau Terhanyut Terlena

Lelah Sudah Pasti


Bukan Tujuan Mengumpulkan Materi

Setidaknya Ada Rasa Terimakasih

Sebagai Tanda Keadilan


Aku Tak Mau Bosan

Ayo Terus Berkarya

Dan Berprestasi


Minggu, 16 Januari 2022

Kelas Dan Guru


Disaat pembelajaran berlangsung di kelas, semua penghuni kelas harus peduli dengan tempatnya. Meskipun belajar bisa terjadi di mana saja, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Tetapi, kelas tetap merupakan salah satu komponen pokok di sekolah dan hak siswa dalam memperoleh fasilitas tersebut.

Kelas adalah milik bersama sehingga semua bertanggung jawab atas kebersihan, kenyamanan, keamanan dan bagaimana menciptakan kelas yang membuat betah di dalamnya. Maka, hubungan pertemanan dalam satu kelas harus kompak. Minimal mempunyai semangat yang sama dalam belajar dan menggapai prestasi.

Kelas yang hidup akan memberikan kesan tersendiri bagi yang menempati. Bagaimana kelas hidup itu tercipta? Tentu ada peran besar wali kelas atau guru kelasnya bekerja sama dengan semua siswanya. Misalnya, mengkoordiner hasil karya siswa untuk dipajang, menempelkan poster-poster pembelajaran seperti rumus-rumus, gambar, poster lingkungan, slogan motivasi, pojok baca dan yang lainnya. Apakah hal seperti itu, tidak membuat kelas menjadi kotor? Tentu, tidak, menurut saya, semakin banyak tempelan menandakan bahwa siswa dan gurunya juga aktif. Bukan hanya jadi guru datang ceramah menjelaskan materi lalu pergi. Tanpa penilaian, tanpa bekas jurnal, sehingga yang disampaikan materinya itu itu saja. 

Sampai siswa mengetahui dengan menandai pola mengajarnya. Menurut saya itu kurang tepat, karena tidak ada tantangan, kejutan, untuk siswa. Ujung-ujungnya bagi mereka pokok berangkat tanpa adanya persiapan, kadang tugas, PR pun lupa, bahkan salah kostum dan buku ketinggalan.

Guru pun juga harus belajar, untuk mempersiapkan apa yang akan disampaikan besoknya. Dan kelas yang banyak gambar, hasil karya siswa atau poster, justru meringkas waktu dalam menjelaskan materi kepada siswa dan siswa akan lebih aktif dan mudah untuk memahami suatu materi.

Tidak hanya itu, wali kelas harus sangat peduli terhadap segala hal yang terjadi di lingkungan kelasnya. Seperti hubungan sosial antar siswa, siswa antar guru, hubungan profesional guru dengan wali murid. Semua harus dijaga dengan baik.

Hal penting lainnya yakni sebagai guru atau wali kelas harus mengetahui karakteristik setiap siswa. Meski tidak mendetail minimal tahu kelebihan dan kekurangan, latar belakang siswa, tipikal belajar, dan kemampuannya. Ini sebenarnya memudahkan wali kelas atau guru kelas dalam menentukan strategi, model belajarnya. 

Kita tahu dalam suatu pembelajaran di sekolah, pasti ada target dan tujuan. Untuk mencapai target yang ditetapkan guru pun harus memanage waktu dengan baik. Maka adanya perangkat pembelajaran bagi guru juga sangat penting. Silabus, prota, promes, RPP, buku absen, jurnal pembelajaran, buku penilaian sikap, buku nilai harus dipunyai oleh semua guru kelas atau guru pengajar mata pelajaran.

Peran besar guru sudah banyak kita ketahui. Dan semua guru mempunyai harapan, doa, cita-cita yang mulya untuk semua peserta didiknya tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya. Guru pun disebut juga sebagai orang tua kedua ketika di sekolah. Terlepas dari itu semua guru juga hanya manusia biasa, mempunyai kelebihan dan kekurangan, jika kita sebagai peserta didiknya, murid, kita harus menghargai, menghormati, tawadhu' kepadanya. 

Karena tidak ada mantan guru.

Dan tidak ada mantan murid.

Salam Semangat Berjuang.

Sabtu, 15 Januari 2022

Demam Layangan Putus



Setiap malam minggu semua menanti series film layangan putus. Seakan histori WA milik teman, semua tentang layangan putus. Salah satunya histori teman berkata "layangan putus seperti barongan 👹👺".

Saya pribadi tak mengikuti secara runtut. Saya hanya menonton part satu secara full. Setelahnya, sampai series ke sembilan saya tak mengikuti.

Review atau cerita ulasan teman, yang cukup saya simak ketika mereka bercerita. Bagaimana luapan emosinya terhadap tokoh Mas Aris, dan Lidya. Bagaimana menggambarkan emosi Kinan yang sangat elegan, menurut mereka.

Emosi tokoh Kinan yang elegan dengan tutur kata yang sangat padat, jelas, tapi cukup nylekit atau menyakitkan. Penonton seakan  hanyut dalam cerita. Bahkan, ada sebagian di media sosial, karena ibu-ibu, atau mama-mama, istri menjadi posesif terhadap suaminya karena film ini. 

Ada yang sedikit-sedikit lihat gawai milik suami. Ada yang ingin mencabik-cabik tokoh Mas Aris dan Lidya seakan mereka memposisikan diri sebagai tokoh Kinan.

Film series ini seharusnya memberikan hikmah, pembelajaran dan manfaat bagi penontonnya. Tidak hanya sekedar menguras emosi. Bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang keren, ibu yang berkarier, cerdas dhohir batin, pinter masak, pinter segalanya, multitalent, tapi juga handal menjadi detektif.

Detektif dalam hal seperti keuangan, keluarga dalam hal mendidik anak, teliti, setiti terhadap segal hal. Film series ini katanya diangkat dari kisah nyata. Terlepas dari itu semua, sekali lagi itu hanya akting untuk bermain peran. 

Kamis, 13 Januari 2022

Jalan Sore

Di sore hari tanpa terencana, saya ikut suami. Entah keman tujuannya, saya nurut saja. Beliau dulu alumni SMK Negeri 1 Blitar, jadi beliau sangat faham jalan di kota Blitar. Langsung pergilah ke kota Blitar.

Sebenarnya sudah berkali-kali ke kota ini. Namun, saya tak begitu faham nama jalan dan jalur-jalur. Kalau ngikut beliau, tinggal jadi penumpang melihat sana sini pemandangan kota. Tempat kuliner pun ngikut, intinya minta makanan yang berkuah dan pedas serta tempatnya recommended yang paling baku yakni bersih. Setelah muter dan sempat mampir ke toko tujuan, saya di ajak ke Kebun Rojo Blitar. 

Kebun Rojo Blitar ini, kalau sekilas seperti taman kota, kalau di Tulungagung seperti hutan kota. Saya juga tidak masuk, namun ada banyak jajanan di pinggir pintu masuk. Seperti cilot, es degan, es buah, batagor, somay, rujak buah dan camilan-camilan kecil.

Setelah itu, parkir di luar, dan saya berjalan mengelilingi jajanan tersebut. Dan pilihanku jatuh di es degan, dan rujak buah. Harganya pun tidak mahal. Es degan satu porsi lima ribu rupiah, rujak buah seporsi sepuluh ribu rupiah.

Es degannya unik sekali, seumur-umur saya tidak pernah minum es degan dengan campuran perasan jeruk nipis. Ini es degan diberikan perasan jeruk nipis. Sebenarnya tujuannya atau manfaatnya apa juga tidak tahu. Rasanya pun menurutku aneh. Tapi cukup melegakan rasa haus kali itu.

Di tempat ini juga banyak muda mudi yang berkumpul berfoto, bercengkrama sambil makan jajanan. Banyak juga di temui ibu-ibu muda bersama balitanya sekedar jalan-jalan dan berfoto. Alhamdulillah hari ini bisa melepas penat dengan melihat banyaknya tumbuhan hijau dan pohon-pohon besar di Blitar.

Rabu, 12 Januari 2022

Kerja Cari Enaknya Saja?



Manusia di muka bumi ini untuk memenuhi kebutuhannya pastilah bekerja. Tetapi bekerja juga suatu pilihan. Dan tak memandang apapun jenis pekerjaan, yang utamanya halal, baik dan benar cara memperolehnya dan akan menghasilkan.

Kita tahu jenis pekerjaan pun sangat banyak dan dijadikan sebuah profesi yang dilakukan dengan profesional. Pedagang, petani, nelayan, karyawan kantoran, dosen, pilot, masinis dan seterusnya.

Kadang pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang yang kita lihat itu sangat nyaman. Perlu diingat bahwa rasa nyaman dan tidak terhadap suatu pekerjaan itu tergantung kepada yang melakukan. Setiap pekerjaan pasti ada enak dan tidak enak, ada resikonya.

Coba kita pikirkan, jika cari suatu pekerjaan yang enak? Enaknya setiap individu, juga tidak akan sama. Lalu apa ukuran pekerjaan enak itu? Apakah berAC, bersepatu, tidak mau berkeringat, wangi sepanjang waktu. Sekali lagi manusia itu "sawang sinawang". Ada yang pekerjaannya guru, yang mungkin seorang pedagang dalam benaknya berkata  "enaknya jadi guru, tempat kerjanya bersih, duduk manis, rapi bertemu siswanya". Sebaliknya guru mengatakan "enak ya jadi pedagang, setiap hari ada uang masuk" dan seterusnya.

Kalau kerja hanya cari enaknya, tidak mau usaha, tidak mau menerima resiko, tidak bertanggung jawab artinya tidak punya semangat, tidak serius ya sudah, enak tidur di rumah. Jika bekerja tidak ada nilai terdalamnya atau nilai kemanfaatan feed back bagi diri kita sendiri, pasti akan sering ngeluh, lelah, sering izin tak jelas dan mencari beribu alasan.

Bekerja bagi sebagian orang kadang tujuan utamanya bukan sebuah materi. Ada tujuan mulia lebih dari pada itu. Karena mereka meyakini, pekerjaan yang ia lakukan dengan tulus, ikhlas akan memberikan suatu kebaikan bagi dirinya sendiri dan keluarga.

Kesimpulannya, apapun pekerjaan  yang kamu jalani kali ini, tekuni, telateni, teguhkan niat, lakukan sebaik mungkin, seprofesional mungkin, dan syukuri nikmat karena banyak yang menginginkan seperti pekerjaan yang kamu jalani. Bisa kan??

Yuk bisa yuk?

Selasa, 11 Januari 2022

Sadar Menyadari Kesadaran



"Sadar" satu kata dasar yang belum mendapatkan suatu imbuhan baik di awal maupun di akhir. Ketika sudah mendapatkan imbuhan baik awalan dan akhiran. Misalkan mendapatkan imbuhan awal atau awalan me, ter, ber, di, dan seterusnya, dari segi arti tentu akan berubah. "Sadar" merupakan kata sifat. 

Makna sadar sendiri bisa kita lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Makna sadar diantaranya insaf, merasa tahu dan mengerti. Namun, kata sifat ini, bisa berubah menjadi kata benda jika mendapatkan imbuhan. Misalnya sadar menjadi kesadaran, karena mendapat imbuhan ke-an.

Itulah secuil uraian yang menggabarkan Bahasa Indonesia itu sangat kaya, satu kata bisa kaya akan maknanya. Saya melihat betapa orang asing di luar sana, sangat semangat untuk belajar Bahasa Indonesia. Bahkan ada orang berkebangsaan Korea Selatan, namun di negaranya ketika kuliyah dia malah mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Menurutnya, Bahasa Indonesia itu unik dan keren. Begitu juga negaranya.

Ini salah satunya, tidak menutup kemungkinan, bahwa negara lain pun juga demikian. Bahkan sudah lama juga negara-negara lain memasukkannya dalam proses belajar mengajar atau sekolah. Contoh di Thailand, persis cerita teman yang mengajar di sana. Bahasa Indonesia dijadikan mata pelajaran.

Betapa bangganya akan Bahasa Indonesia ini. Pertanyaan besarnya, mengapa kita yang di negara aslinya yakni Indonesia, kadang malu menggunakannya dalam keseharian? Lalu mengapa masih salah dalam pengucapan? Dan masih bingung, ketika hendak menuliskannya, dengan struktur yang benar, mengapa? 

Ini "PR", mungkin sudah terbiasa menggunakan bahasa keseharian atau bahasa daerah. Itu juga bagus, sebab bahasa daerah juga bukti kekayaan Indonesia. Namun, ketika sudah dalam situasi yang formal, hendaknya menggunakan Bahasa Indonesia juga diperlukan. 

Sehingga kita harus, memberikan contoh atau latihan kepada anak-anak kita, bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik, selain mempelajari teorinya. Praktek juga harus kita latih. Misal dalam upacara, lomba pidato Bahasa Indonesia, membaca Puisi, memberikan pengumuman dan lain sebagainya. Pasti semua menggunakan Bahasa Indonesia. Kalau dulu sewaktu di pesantren, kami upacara menggunakn tiga bahasa yakni Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. 

Bahasa Indonesia itu kaya. Seperti negerinya kaya akan suku, adat istiadatnya. Tidak akan habis jika dipelajarinya. Maka banggalah kepada Bahasa Indonesia dan Negara Indonesia.

Salam semangat. 

Minggu, 09 Januari 2022

Sehat


Sehat adalah suatu anugerah yang tiada ternilai. Sehat jasmani maupun rohani. Sehat jasmani yang semua badan bisa digerakkan dengan mudah melaksanakan segala aktifitas. Kerja, main, nonton, membaca buku, menulis, masak, menyapu dan lain sebagainya.

Sehat rohani, yang selalu bahagia hendak menghadapNya. Tenang, nyaman, damai, banyak bersyukur atas segala kenikmatan yang diberikan Allah. Namun, sering sekali kita lupa jika sudah sehat untuk  menjaganya dan merawatnya. Menjaga kesehatan itu juga sangat penting. Menjaga artinya siap-siap jika kemungkinan terburuk, jangan sampai datang pada tubuh kita.

Tubuh kadang memberikan sinyal kepada kita, namun sering kita mengabaikannya. Misal sinyal lapar, haus, lelah, letih, dan pusing sinyal demikian jika tidak diolah dan direspon dengan benar, artinya begitu saja terlewatkan dan terabaikan. Lama- kelamaan akan numpuk, dan tiba-tiba sakit dan mengharuskan istirahat atau jangan terlalu beraktifitas. 

Misalnya, karena terlambat untuk makan, nanti akan bermasalah dengan lambung. Jarang minum, tetapi suka makan makanan yang pedas dan dingin. Jika diare, akan sangat mudah untuk dehidrasi. Sakit, juga bisa faktor dari luar, apalagi di musim pandemi seperti sekarang ini. 

Lalu, tugas utama kita, terhadap diri sendiri adalah bagaimana kita menjaga dan merawat tubuh kita. Pola makan yang benar, olahraga teratur, memperbanyak minum air putih, patuhi dan laksanakan protokol kesehatan, bermasker dan sering-sering mencuci tangan. 

Utamanya iringi semua aktivitas kita dengan nama Allah, dan niat untuk ibadah. Apapun yang akan terjadi ke depan, insyallah kita akan selalu positif thinking dan selalu bersyukur kepada Allah. 

Salam sehat selalu.

Selasa, 04 Januari 2022

Senam Dan Makan Sehat


Menyambut pembelajaran di semester genap, kami melaksanakan senam sehat. Rangkaian senam ada empat jenis senam. Diantaranya, senam NU, senam kewer-kewer, senam Paud, dan senam huruf hijaiyah. 

Mengapa demikian, sebab peserta senam dari mulai siswa paud sampai anak kelas VI. Semua siswa tidak asing dengan tiga jenis senam. Namun, dengan senam kewer-kewer, mereka asing. 

Meskipun asing, mereka sangat senang, antusias dan semangat dengan senyum sambil ada yang tertawa. Alhamdulillah, semua semangat begitu juga dengan Bapak/Ibu gurunya. Setelah senam kita lanjut untuk makan sehat.

Menu makan sehat kali ini lontong bakso dengan sayuran dan kontimen lainnya. Siswa kelas satu yang masih lucu-lucu, banyak permintaan, "Bu saya tak pakai sayur, Bu saya tak pakai lontong, Bu saya tak pakai bawang goreng" dan sebagainya. Sangat seru, meski kerepotan gurunya dipanggil siswa sana dan siswa sini. 

Semua Ibu-ibu guru turun tangan, bawa lengser ke mana ke mari. Operkan saos, sambel, kecap ke barat, ke timur. Semua guru mengecek, bahkan saya juga keliling untuk memastikan semua siswa mendapatkan jatah makan sehat ini. Dan saya juga mencoba menertibkan siswa yang memang mempunyai kecerdasan kinestetik. Sampai makan pun, pengennya sambil lari ke sana ke mari. 

Semua siswa terkondisikan mendapatkan bakso, tapi entah apa yang terjadi dari dua ratus lima puluh porsi atau mangkok untuk semua siswa, ternyata ada satu yang belum mendapatkan. Pertanyaannya, kenapa satu siswa tersebut tidak memanggil dan meminta kepada gurunya? Dan mengapa teman-teman yang lain di sampingnya tidak memintakan ke gurunya? Pertanyaan besar menggelayut.

Ketika saya berkeliling ada dua siswa yang tidak mau makan, dan sudah konfirmasi bahwa dia sudah kenyang karena sarapan di rumah. Bahkan jatahnya ada yang diberikan kepada teman yang duduk di sampingnya. Namun, satu siswa ini menurut saya tidak wajar, mengapa tidak mau bersuara.

Lalu, wali kelasnya pun bertanggung jawab. Karena ada pesan melalui WA, bahwasannya si Fulan ini belum mendapatkan jatahnya. Akhirnya oleh wali kelas di antar ke rumahnya.

Setalah senam, lalu makan sehat dan dikondisikan untuk balik ke kelas masing-masing. Dikondisikan oleh wali kelas dan di pulangkan. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar. Semoga sehat selalu. Salam semangat.

Senin, 03 Januari 2022

Kegiatan Hari Ini



Senin, 3 Januari 2022 semester genap di mulai. Di awali dengan pengambilan Rapor. Ini merupakan agenda wajib sebagai pertemuan silaturahmi dengan wali santri.

Selain itu, sebelum di jam undangan pengambilan rapor. Ada agenda mengikuti upacara Kemenag melalui virtual. Kami pun mengikutinya.

Setelah itu baru, masuk ke ruangan kelas masing-masing untuk persiapan. Kelas sudah dalam kondisi bersih, absensi pengambilan sudah siap, rapor sudah lengkap. Kemudian menunggu para undangan hadir.

Konsep dari pengambilan rapor, apalagi di kelas akhir seperti kelas VI bukan datang ambil dan pulang saja. Namun, ada beberapa informasi yang harus di sampaikan. Setidaknya ada lima hal, diantaranya:

1. Pencapaian akademik dan nonakademik

2. Penilaian sikap dan motivasi

3. Pengumuman jam masuk serta pengambilan buku pegangan dan jadwal

4. Mematangkan pilihan sekolah atau pondok pesantren untuk melanjutkan

5. Titipan bendahara, rekapan administrasi

Pengambilan rapor, salah satu rasa tanggung jawab, kepedulian, perhatian, sebagai orang tua terhadap anaknya. Karena di kesempatan berharga inilah, kita bisa menemukan informasi terbaru, atau pengumuman penting. Khususnya perkembangan putra-putri kita, baik secara akademik atau nonakademik.

Jika memang ada udzur yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan, sangat bisa diwakilkan kepada budhe, pakdhe, kakak, bulek, om, tantenya dan etisnya konfirmasi terlebih dahulu. Lalu kemudian hari bisa bertemu langsung dengan wali kelasnya dan misalnya menanyakan perkembangan putra-putrinya. Kurang pas jika yang mengambil rapor, anaknya langsung, sedangkan yang lainnya adalah wali. Dalam hal ini untuk menghindari kesenjangan.

Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua yang sudah hadir di kesempatan ini. Semoga selalu kompak dan 

semoga di semester genap ini, semua semakin meningkat prestasinya. Salam semangat

Sabtu, 01 Januari 2022

Kubertanya, Takut?


Mengapa harus takut berpendapat, dalam suatu diskusi, jika ada kesempatan?

Mengapa merasa malu untuk bersuara, jika mempunyai ide dan gagasan?

Mengapa merasa lemah dan tak berdaya, jika kamu mempunyai hak?

Mengapa hanya berani bersuara, jika hanya ada dia?

Apakah kamu hanya sebagai pendengar, lalu bisanya mengomentari setelah semua terjadi?

Apakah tidak punya mental kuat, dan tidak punya pendirian, sehingga membuatmu demikian?

Pertanyaan sederhana itu, setidaknya berguna untuk melihat kita berada pada kualitas mana ketika berkumpul dan bersosial dengan orang lain. Menjadi manusia yang kuat, itu perlu latihan. Menjadi manusia hebat tentu juga banyak perjuangan.

Instan, jalan tol apapun istilahnya jika secara tiba-tiba datang suatu hadiah, pasti kita kaget. Maka di situlah perlu adaptasi. Adaptasi terhadap barang baru, mungkin tidak akan lama, kurang lebih tiga sampai empat bulan dan merawatnya sebagus mungkin. Kalau sudah hampir dua tahun, kualitasnya tetap bahkan cenderung menurun, bisa diartikan gagal.

Biasanya tanda orang yang demikian mempunyai kecenderungan, susah mengambil keputusan, kurang bijaksana dalam memberikan solusi, ragu-ragu dengan keputusannya sendiri, tidak peka terhadap lingkungan istilah Jawa "kunu-kunu", minta diorangkan, hanya orang terdekat yang di ajak diskusi dan lebih menjengkelkan lagi jika tidak dianggap keberadaannya sering merasa kecewa dan marah. Artinya mengaggap bahwa "jika tanpa dirinya, ini tidak akan berjalan".

Apa solusinya, jika menemukan manusia seperti itu? Ajak dia keliling dunia, tak usah jauh-jauh, ajak dia keluar kota dan kunjungi tempat yang seprofesi dengan dia. Kenalkan kepada orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih jauh dibandingkan dia, kalau perlu traktir dia sepuasnya. Berikan kesempatan dia untuk mencoba berkomentar dengan lisan atau tulisannya.

Jangan merasa sungkan, jika itu tidak pada tempatnya. Jangan merasa tidak pantas, jika itu sudah menjadi kenyataan. Jangan hanya menjadi pemberani di kandangnya sendiri. Jangan jadi penakut, untuk sekedar berpendapat. Jangan merasa tidak bisa, jika belum melakukan. 

Bangunlah kepercayaan dirimu, bentuklah mental yang kuat, tegakkan kewibawaan dirimu, dari kebijakan-kebijakan yang kamu ambil. Ukir segudang prestasi, jangan hanya karena tuntutan profesi. Berjalanlah dengan penuh tanggung jawab tanpa menunggu dan mengandalkan orang lain. Buktikan bahwa dirimu memang layak dan pantas untuk melakukannya.

Rezeki



Hari ini mendapatkan sebuah nasihat. Nasihat itu seperti halnya segelas air yang diminum ketika kita haus. Artinya, sebagai penerima nasihat, kita harus mengosongkan botol yang kita punya. Sehingga nasihat itu benar-benar akan membekas.

Nasihat apa yang saya dapat hari ini. Tadi malam banyak dhawuh Abah dan Umi saya sendiri, berkaitan dengan kehidupan. Nasihat beliau sampaikan tidak dengan sebuah penekanan, sambil santai menonton TV dan ngobrol itu cara yang menurut saya sangat pas. Sebab nasihat itu sendiri jika disampaikan dengan suatu kondisi atau situasi yang menegangkan, maka hati kadang-kadang sulit menerima.

Inti dari nasihatnya sama dengan yang disampaikan oleh pimpinan rapat hari ini. Yakni tentang "Rezeki". Kita tahu rezeki itu sudah bagian takdir pada setiap manusia. 

Rezeki juga memiliki takaran tersendiri bagi setiap makhluk ciptaanNya. Kadang manusia terlalu menghawatirkan takaran rezekinya. Padahal kalau sudah bagian takdir, pasti akan kita dapatkan.

Rezeki itu datangnya pun macam-macam. Ada yang secara langsung kita dapatkan. Ada juga yang harus kita usahakan. Jadi, tidak ada kata malas atau tiduran saja akan datang uang seperti sulapan.

Namun, juga tidak boleh terlalu menghawatirkan bahkan ragu akan rezeki yang datang. Ketika kerja mati-matian namun tak ada hasil nyata, bahkan ada kata meremehkan terhadap sesuatu, ini jangan sampai dibuat sepele. Hendaknya dihindari. Maka kita sangat perlu untuk melakukan koreksi, introspeksi dan muhasabah. Bahasa Jawanya "graitho awak e".

Banyak yang bisa kita jadikan pelajaran disekitar kita. Misalnya ada dua guru ngaji, yang satu tidak terlalu menghawatirkan rezeki, beliau bekerja dengan istiqomah sebagai pedangan klontongan. Tak pernah absen ketika jam mengajar mengaji, karena menyadari bahwa ngaji itu berharga. Beliau sangat disiplin, tepat waktu dan istiqomah. Tetapi, satunya, sukanya terlambat, jatahnya dua jam, dia sengaja berangkat tiga puluh menit sebelum berakhir dengan alasan gajinya lebih menjanjikan dari usaha ternak ayamnya. Tidak memungkiri, kalau dilihat secara materinya akan tentu berbeda.

Segala hal tidak bisa diukur dengan angka. Rezeki juga tak melulu angka dan uang. Sehat, bahagia, tenang, keluarga yang aman, tentram ,juga bagian rezeki. Intinya, rezeki itu sudah ada yang menjamin. Kita juga memerlukan usaha dan ikhtiar untuk mendapatkannya. Jangan meragukan kuasa Allah. Yang paling utama, jangan meremehkan orang lain, apapun profesinya. Dan ingat, mungkin hitungan Allah akan berbeda dengan manusia. Sehingga tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...