Prof.
Dr. Ngainun Naim, M.H.I, nama beliau tadinya asing bagi saya. Mungkin karena
saya juga bukan alumni IAIN Tulungagung. Sempat minder ketika dalam kesempatan workshop
literasi bersama beliau, tak begitu tahu, bahkan belum kenal dengan beliau
sedangkan sebagian besar peserta mengenalnya, karena alumni kampus IAIN
Tulungagung yang sekarang menjadi UIN SATU.
Dulu
ketika masih di bangku kuliah tepatnya di UIN Maliki Malang ketika S1 di pertemuan
awal, ada sesi perkenalan, kalau di tanya asal daerah selalu bangga menyebutkan
Tulungagung. Beberapa dosen menanyakan, kecamatan apa, desa apa, kenal Pak Ngainun
Naim? Jawabku, belum, bahkan tidak tahu, walau kita tetangga desa. Mengapa
demikian? Faktanya pada waktu itu, saya memang belum tahu.
Dosen
saya bercerita, bukunya sudah banyak, silahkan kalau mau baca karya beliau.
Seusai jam kuliyah berakhir, saya penasaran, sehingga saya tanya salah satu
judul buku beliau, yang cocok buat bahan makalah dan memastikan apakah betul
beliau asli orang Tulungagung. Dan masih saya ingat betul judul bukunya "Rekontruksi Pendidikan Nasional".
Setelah itu saya tidak terlalu mengikuti karya beliau selanjutnya.
Skenario
Allah sangat indah, disisi lain saya memang bukan mahasiswa beliau tapi ada
kesempatan untuk bertemu melalui workshop tentang literasi. Dan ketika itu saya
sudah boyong dari Malang, menetap serta bekerja di Tulungagung. Baru sadar,
ketika workshop itulah, oh inikah namanya Bapak Ngainun Naim. Dan melalui workshop
literasi tersebut, saya mencoba, memberanikan diri untuk menulis dan menulis. Mulai
mengikuti menulis bersama atau antologi yang beliau infokan, sekaligus ada yang
langsung beliau koordinir. Lalu mengikuti lomba menulis, dan beliau juga salah
satu jurinya. Dan tak menyangka saya mendapatkan juara pertama. Dan pengalaman
barupun saya peroleh dan tentu membuat hati senang.
Lebih
mengejutkan lagi bagi saya, ternyata beliau adalah putra pertama dari guru
sekaligus kepala sekolah saya di waktu saya masih Madrasah Ibtidaiyah yakni
beliau Bapak Surjadi. Flasback cerita Bapak Surjadi dulu, beliau sering
memberikan nasihat kepada kita, untuk rajin membaca dan menulis. Dan beliau
bercerita bahwa anaknya menjadi guru dari murid-murid yang sudah dewasa
(mahasiswa). Setiap lebaran pun, kami bersilaturrohim ke rumah Bapak Surjadi, ada
foto keluarga, sambil bercengkrama beliau membacakan enam putra-putrinya yang
nama depannya semua Ngainun.
Bapak
Ngainun Naim, beliau adalah pelopor literasi. Dengan segudang karya melalui
buku-bukunya. Beliau selalu menyerukan "pokok e nulis". Dan dalam
seminar pertama kali itulah, saya menggaris bawahi dawuh beliau bahwa
"menulis adalah sebuah perjuangan dan mampu merubah hidup kita" dan
betul semua saya rasakan. Ini merupakan awal bagi saya juga untuk mewujudkan,
melanjutkan cita-cita dan harapan untuk lebih baik.
Beliau
juga adalah sosok yang sangat welcome kepada siapapun yang mau belajar menulis.
Dan jarang saya menemukan sosok seperti beliau yang selalu memberikan semangat,
dorongan kepada penulis pemula seperti saya. Bahkan, beliau sering memberikan
apresiasi positif di grup-grup menulis. Beliau sangat membantu kami,
mengantarkan tulisan-tulisan menjadi sebuah buku. Dan ini benar, saya alami.
Buku solo saya pertama juga atas bimbingan, bantuan beliau.
Workshop
literasi perdana bersama beliau, pada waktu itu saya sangat menikmati. Sebab beliau
membawakan workshop dengan santai, serius dan iringan jokes atau candaan
"guyon" yang tak membuat kita bosan dan mengantuk untuk mendengarkan
materinya. Kalau dari fisik, pasti tidak menyangka kalau beliau suka guyon.
Bahkan postingan-postingan di storynya selalu membuat pembacanya ikut
tertawa.
Bapak
Ngainun Naim sebagai pakar literasi dan sekaligus inspirasi bagi saya untuk
terus menulis. Melalui FB, WA, Instagram, blog pribadinya https://www.spirit-literasi.id/, channel youtubenya beliau selalu istiqomah
menyerukan literasi membaca dan menulis. Saya masih ingat betul, buku perdana
antologi tentang “Sejuta Cerita Tentang
Ibu” tulisanku pun tidak karuan, terlihat sekali jika penulis pemula, namun
kata beliau “santai wae, nulis saja”.
Di grup kami beliau juga memberikan tantangan dan semangat jika mampu istiqomah
menulis dalam waktu ditentukan beliau akan memberikan hadiah berupa buku.
Alhamdulillah saya mendapatkan dua buku, salah satunya karya putra beliau.
Beliau juga menuliskannya di atas tanda tangan beliau bahwa “Hal sederhana akan bermakna ketika ditulis”.
Itulah
Bapak Ngainun Naim yang kiprahnya dalam dunia literasi tidak diragukan lagi dan
tak pernah surut. Selalu istiqomah menyerukan literasi menulis. Dan seebagian
besar dari kami, sudah lama memanggil beliau dengna sebutan “prof” dan jauh
sebelum surat keputusan turun. Inilah bukti, bahwa beliau bergerak di dunia
literasi benar-benar nyata dengan segudang karya tulisannya dan buku-buku
beliau.
Saya menyambut dengan sangat gembira ada undangan
dan kesempatan menulis buku antologi tentang kiprah intelektual Bapak Ngainun
Naim. Sebab beliau sangat berperan bagi saya dalam menumbuhkan kembali mimpi
dan cita-cita saya dalam bidang menulis yang awalnya di Malang dan kini lebih
berkembang di kota kelahiranku. Saya bisa tetap melanjutkannya bahkan lebih
baik. Tentu saya turut senang mendengar kabar
surat keputusan bahwa beliau menjadi professor. Saya pun berdoa semoga saya
bisa mengikuti jejak beliau. Semoga gelar profesor ini membawakan keberkahan bagi
Bapak Ngainun Naim.