Rabu, 30 November 2022

Berteman Bersahabat



Pernah tidak berfikir bahwa segalanya menurut kita tidak sengaja? Padahal Allah sudah mengaturnya. Seperti pertemanan, persahabatan bertemu berkenalan dengan siapapun. Rasanya indah sekali jika mampu memaknai dengan rasa syukur. 

Pernahkah juga berfikir, mengapa harus kita? Sebetulnya, jawabannya pun simpel, sebab kita mampu menurut Allah. Bukan ukuran manusia harusnya yang menjadi patokannya. Lalu mengapa harus mengeluh kepada sesama manusia. Jalan satu-satunya adalah berjalan seiringan dengan penuh ikhtiar dan usaha.

Intinya manusia hanya wayang. Hanya melakukan lelakon atas jalan cerita yang diberikan Allah. Terima kasih dan syukur tiada henti, diberikan kesempatan bertemu mereka. Disatukan dengan keadaan dan lingkungan yang mulia. Layaknya pertemanan dan persahabatan dibangun sebab ilmu itu sangat indah. Berbagi pengalaman di berbagai bidang itu menyenangkan. Semoga pertemanan, persahabatan sampai menjadi membangun persaudaraan mengarah dan memberikan kemanfaatan, kebaikan satu sama lainnya.

Terlepas dari banyaknya kekurangan dalam pertemanan, diambil saja hikmah dari kekurangan tersebut. Cara menjaganya pertemanan, persahabatan bisa memahami karakternya. Kesukaan dan ketidaksukaannya harus kita ketahui. Intinya, kompak saja, jangan terlalu "ceklekan" gampang tersinggung dengan guyonan. Justru kadang  dari guyonan sesama teman ada bahan buat renungan untuk sebuah nasehat bagi diri sendiri. 

Mengenal banyak orang itu perlu. Berteman dengan siapapun juga perlu. Sejak dari sekolah sampai saat ini pasti memiliki teman bahkan sahabat. Bahkan sahabat menjadi layaknya saudara juga banyak. Alhamdulillah harus disyukuri. Semoga pertemanan, persahabatan menjadikan persaudaraan semakin dekat dan baik. Seperti hari ini, terima kasih disatukan oleh waktu. Mencocokkan waktu, janjian sampai bertemu dan diskusi pelajaran hidup. Membahas karir serta cita-cita ke depan. Bahkan belajar menjadi ibu yang baik dari salah satu dari kita yang sudah menjalaninya langsung, itu menyenangkan. 

Jangan menutup diri. Mari terus belajar dengan membangun persaudaraan. Terima kasih banyak kepada sobat-sobatku ini, sudah terima dengan baik, terlepas dari banyaknya kekuranganku. Sister Ulvia yang selalu ter-upadate segala hal, Sister Sevia, yang always higenis segala hal, Sister Retno, yang anggun, murah senyum dan strong akan segala hal. Saya beruntung sekali memiliki kalian. 

Senin, 28 November 2022

Foto Juga Bentuk Sebagai Laporan



Kegiatan apapun hari ini seperti suatu yang wajar untuk selalu diabadikan. Menjadi sangat penting dan menjadi bukti yang kuat untuk mendapatkan suatu fakta. Bagi saya pribadi mengambil foto di kegiatan yang sedang berlangsung hari ini, sebagai bukti bahwa kita mengikuti kegiatan tersebut. 

Sebetulnya bukan untuk tujuan lain apalagi untuk pamer. Jauh sekali benak demikian. Yang ada justru sebaliknya, sebagai bukti dakwah atau syiar bagaimana kita melakukan kegiatan yang positif. Penafsiran foto memang akan kembali kepada siapa yang menafsirkan dan memaknainya. Dan hal demikian adalah hal yang wajar. Sebab setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya. 

Nah, apa masalahnya? Mengapa masih ada, yang menganggap foto itu bentuk narsis? Dan bahkan ada yang menganggap tidak penting. Menurut saya kita harus bisa menempatkan diri saja. Foto sesuai kebutuhan dan kepentingan. Foto yang memberikan manfaat, seperti berbagi informasi dan motivasi dari foto sangatlah mudah.

So Be Nice With Your Picture. Ambil positifnya, tidak jarang orang berbagi foto di suatu tempat makan misalnya, sebab penasaran kita bisa mengikuti dan bertanya untuk ketempat tersebut. Melalui foto pun kita bisa mengenang segala kejadian di balik foto tersebut.

Minggu, 27 November 2022

Hadir Di Haul Pondok Pesantren Ngunut






Hadir di tengah-tengah ribuan bahkan puluhan ribu jamaah di Haul Mbah K.H Ali Shodiq Umman dan Ibu Nyai Hj. Siti Fatimatuz Zahro. Bertepatan di hari Ahad, 27 November 2022 bersama suami, Umi, dan teman STAI MAS Bu Retno. Hadir di haul beliau, Alhamdulillah bukan yang pertama kali. Biasanya kami hadir dan bertempat di PDAM, sebab jamaah yang sangat banyak. Namun, kali ini sedikit berbeda, saya bertempat di depan panggung.

Meskipun beralaskan tikar seharga lima ribu, tidak mengurangi kehurmatan, kekhusyu'an, dan semangat mengikuti acara puncak haul ini. Acara puncak haul diisi oleh Habib dari Solo. Sebelum acara inti, ada pembacaan sholawat diba'. Tidak terlalu lama kami datang Mahalul Qiyam. Sungguh berbinar-binar rasanya hati ini.

Keberuntungan serta keberkahan bagi kami di awal yakni, suami saya Mas Hafidz Alhamdulillah di ajak oleh Pak Zamah, melalui jalur VIP. Jalur tersebut akan dijamu makanan layaknya undangan. Sedangkan jamaah umum diberikan nasi kotak di awal pintu masuk. Subhanallah sungguh luar biasa. Dan kami mengucapkan terima kasih.

Sedangkan kami bertiga, sudah beruntung di depan panggung dan nyaman. Tentu jelas sekali memandang semua yang ada di panggung. Semakin siang semakin padat, bahkan saya bertukar informasi dengan sesama teman yang bertempat di lantai dua, lantai tiga semua penuh tuturnya.

Di majlis haul ini ada beberapa hal yang saya catat. Pertama, sambutan Abah K.H. Muhammad Fathurrouf mewakili dzurriyah yang sekaligus beliau adalah Ketua Perguruan Tinggi Islam K.H. Muhammad Ali Shodiq (STAI MAS). Beliau menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran semuanya. Beliau, juga menyampaikan bahwa di pondok ngunut ini, berdiri sekolah tinggi, yang memiliki tiga program studi, diantaranya PBA, MPI dan IAT.

Kedua tentang biografi beliau almaghfurrllah Mbah K.H Ali Shodiq Umman dan Ibu Nyai Hj. Siti Fatimatuz Zahro, yang disampaikan oleh Kyai Nashih. Nama putra putri beliau yang ada sembilan. Lalu, Awal berdirinya lembaga-lembaga. Perjuangan beliau hingga dzurriyahnya sampai sekarang ini. Semoga semua dzurriyahnya, diberikan kesehatan.

Ketiga adalah isi tausyiah Habib dari Solo beberapa hal yang saya garis bawahi. Diantarnya, menjadi manusia yang beruntung adalah mereka yang mampu mengoreksi dirinya sendiri. Hal ini untuk membenahi segala kekurangan diri sendiri, mulai dari ubudiah, akhlak dan seterusnya. Lalu Hikmah sholat berjamaah, dari kisah Sya'ban sahabat Rasul. Kemudian, jimat terbesar kita adalah orang tua, menjadi anak sholih solihah adalah harapan terbesar orang tua. Terkahir adalah doa yang beliau pimpin yang tak terasa membuat saya mengucurkan air mata.

Alhamdulillah sungguh luar biasa hari ini. Terima kasih Ya Allah, sudah memberikan banyak kenikmatan, keberkahan dan kesempatan. Rasanya sangat terharu dan terus nderek dephe-dephe ngalab berkahnya para Kyai dan Bu Nyai Mbah K.H Ali Shodiq Umman dan Ibu Nyai Hj. Siti Fatimatuz Zahro. Subhanallah, kami juga diberikan kesempatan mengabdi di STAI MAS, berjumpa beliau-beliau dzurriyah dzurriyah beliau, untuk senantiasa belajar dan terus belajar. Mugi terus keluberan keberkahan. Amin

Jumat, 25 November 2022

Rujakan Untuk Menambah Semangat



Bersama santri-santri Sanggar Yatim Mandiri Mirigambar, Sabtu 19 November kemarin kami mengadakan rujakan bersama. Rujakan yang sangat sederhana, dengan bahan yang seadanya, seperti bumbu rujak saja beli jadi, krupuk goreng wedhi, buah mangga pencet, timun dan tahu goreng. Semua bahan telah saya siapkan. Awalnya rujakan dilaksanakan di hari Jum’at ternyata saya lupa tidak menyiapkan dan membawakan bahannya. Otomatis mundur satu hari di hari Sabtu.

Rujakan ini dilaksanakan bertujuan untuk menggali semangat mereka untuk istiqomah masuk di sanggar. Entah sebabnya apa, ketika di waktu ngaji atau Al Quran mereka sangat sedikit yang masuk dari enam belas santri. Bahkan pernah hanya ada satu santri. Lalu keesokannya hanya empat, dan beberapa kali pertemuan juga terjadi hal yang sama. Padahal sebelumnya, tidak demikian, mereka masuk paling sedikit enam atau tujuh santri. Pada pelajaran Matematika juga demikian.

Karakter guru antara satu dengan yang lain memang tidak sama. Begitu juga di sanggar ini, mungkin saya sedikit tegas. Sehingga kadang-kadang salah satu dari mereka menyalah artikan. Ujungnya, mereka tidak ingin masuk sebab hal demikian. Anak yatim atau piatu adalah pilihan Allah, saya sadari hal tersebut. Sebagai guru pun, tentu saja memiliki treatment yang berbeda dengan pada umumnya siswa di sekolah. Menyentuh hati mereka bukan hal yang mudah, menerapkan metode dan strategi juga harus melihat situasi dan kondisi.

Kegiatan sanggar ini sudah hampir tiga tahun, namun untuk bidang ngaji, membaca Al Quran mungkin masih butuh proses serta perjuangan. Masih sekitar lima santri yang benar-benar bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar. Hal tersebut, dibuktikan juga dengan salah satunya ketika lomba di tingkat kabupaten Omatiq, masih belum mendapatkan kesempatan juara. Tidak menyalahkan siapapun sebetulnya, mulai dari gurunya atau santrinya. Mereka yang sudah mau datang, bergabung dan mengaji di sanggar itu bagi saya pribadi sudah sangat baik dan saya meyakini mereka datang dengan tujuan yang mulia.

Keadaan akan berbanding terbalik, ketika sanggar ini mengadakan dan melaksanakan sebuah acara. Mereka berenam belas, pasti masuk dan penuh semangat sebab tidak pelajaran. Mereka meluangkan waktunya, untuk mengikuti acara, tetapi jika tidak acara mereka seakan belum memprioritaskan kegiatan di sanggar. Padahal kehadiran sangat berpengaruh dengan beasiswa yang diberikan oleh pusat. Oleh sebab itu, rujakan yang sederhana ini dilaksakan, agar mereka lebih semangat lagi dan kompak untuk hadir.

Dari cerita ini saya sangat belajar mulai dari hikmah dan ada terbesit kata bahwa manusia itu penuh dengan kekurangan. Kadang tidak sadar yang bermanfaat malah ditinggal, kadang yang merugikan tanpa disadari dilakukan. Semoga kedepannya kami semua diberikan kesabaran, keistiqomahan untuk terus belajar, berjuang, menyanyangi, membimbing semua santri yatim atau piatu yang ada. Dan mereka senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah, dan menjadi generasi Al Quran solih solihah. Amin

Salam Semangat Untuk Semuanya


Kamis, 24 November 2022

Upacara Hari Guru Nasional 2022







Alhamdulilah di Hari Guru Nasional (HGN) 2022, Jumat 25 November pagi ini, bisa melaksanakan upacara dengan lancar dan cukup baik. Tiga hari berturut-turut untuk latihan. Tapi masih banyak yang harus dibenahi. Semua petugasnya adalah Bapak dan Ibu Guru di lembaga. Kami sangat kompak, menggunakan seragam putih hitam untuk Bapak-Bapak sedangkan untuk Ibu-Ibu menggunakan kerudung nuansa pink salem.

Petugas upacaranya, diantaranya:

Protokol : Bu Filza

UUD 1945: Bu Azizah

Doa : Pak Bashori

Pemimpin Upacara: Pak Edi

Pembina Upacara: Pak Nur

Dirigen: Bu Shely

Pengibar Bendera: Bu Diah, Bu Ela, Bu Hanif

Dokumentasi: Bu Ulva dan Pak Rohmat

Semua guru Tahfidz, Madin, formal dan murid dari paud, RA, Mi, Mts mengikuti upacara tersebut. Ditengah-tengah anak-anak sedikit kurang disiplin dan sempat umek karena kepanasan, sebab di amanat pembina upacara, cukup lama waktu untuk menyampaikan pesan. Petugas upacara pun juga demikian, bahkan tim paduan suara di lagu terakhir kurang semangat, sebab kepanasan. Lalu standmic juga tidak ada, katanya dipinjam oleh orang entah kemana belum dikemblikan, penghormatan juga sempat lama sebab salah paham, pembina tidak segera menurunkan tangannya, sehingga pemimpin juga belum bilang "grak", pembaca puisi juga kurang keras dan tidak sesuai latihan.  Hal itu bagian dari evaluasi di upacara saja. 

Kemudin dilanjutkan mushofahah dan foto bersama. Selanjutnya sholat dhuha dan tasyakuran perkelas dengan wali kelas masing-masing. Saya cukup terkejut, kelas IV ternyata sangat kompak. Kondisi kelas tanpa sepengetahuan saya, telah mereka hias sedemikian rupa. Lalu banyak kado, yang sebetulnya hanya bentuk simbolis sebagai tanda terima kasih mereka. Ah.... justru hal tersebut membuat haru biru hati ini. Sebab saya merasa, menjadi guru untuk mereka, masih banyak kekurangannya.

Saya sungguh mengucapkan terima kasih banyak kepada semua yang terlibat untuk HGN 2022 kali ini. Terutama siswa-siswi dan wali murid, yang sudah kompak untuk memeriahkannya. 

HGN 2022 harus dimaknai dengan rasa syukur dan terus berbenah demi kemajuan untuk anak bangsa. Profesi guru, tidak seperti profesi yang lain. Nilai-nilai keprofesionalan dalam mendidik dan mengajar harus dikedepankan. Utamanya kedisiplinan. Guru juga menjadi pemimpin serta teladan bagi muridnya. Sehingga, sebagai guru harus mawas diri.

Mari saling mendoakan siswa mendoakan gurunya, gurunya juga mendoakan siswanya dan walinya bekerja sama dengan kompak, untuk mendidik putra putrinya. Sekali lagi "Selamat Hari Guru" untuk semu guruku, terima kasih dan salam ta'dzim kepada beliau semuanya. Saya mustahil bisa berdiri seperti sekarang ini, jika tanpa doa guru. Semoga selalu dalam lindungan Allah dan diberikan umur panjang barokah. 

Selasa, 22 November 2022

Berbekal Pengalaman Saja

 


Sebenarnya, bukan hal baru membuat teks pidato. Akan tetapi, tetap menjadi tantangan dalam membuatnya jika kita tidak terbiasa untuk membaca banyak buku tentang keilmuan dan informasi serta keadaan dunia hari ini. Ada beberapa hal penting yang harus terlebih dahulu dipahami oleh pembuat teks pidato, diantaranya: kita harus tahu topik atau tema yang akan ditulis dan benar-benar harus kita fahami secara mendalam. Lalu untuk keperluan apa kita membuatnya, siapa yang akan membacanya dan seberapa besar yang akan mendengarkannya.

Pidato bukan hanya sebuah teks singkat dan dibaca begitu saja, artinya pidato memiliki pesan informasi, ilmu yang disebarkan dan didengarkan oleh orang banyak. Maka tentu saja dalam penyampaiannya terdapat teknik tertentu. Tujuannya agar pesan atau informasi tersebut benar-benar sampai kepada yang mendengarkan. Diantaranya adalah suara, artikulasinya, pembawaan, mimik, penekanan pada kata dan kalimat serta gaya bahasa. Hal tersebut harus dikuasai oleh pembawa pidato.

Berekal pengalaman sejak dini di usia sekolah sampai perkuliahan senang mengikuti beberapa jenis lomba seperti pidato, puisi atau teater, tilawah hal tersebut ternyata sangat memberikan bermanfaat. Dan Allah menempatkan diri ini sampai detik ini diberikan kesempatan untuk tetap belajar menjadi penulis pidato, membimbing dan pendamping siswa untuk mengikuti lomba tersebut. Hal demikian wajib kita syukuri, dengan tidak hanya mengucapkan Alhamdulillah, namun bagaimana terus exsis dan mempertahankan prestasi dan berkarya. Ketika di kota Malang pernah membimbing, mendapingi dan mengantar siswa sampai pada tingkat sekota Malang. Alhamdulillah juara, begitu juga ketika pulang ke kampung halaman Alhamdulillah merambah di pidato tiga bahasa Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris juga mendapat juara, meskipun masih di tingkat kecamatan dan antar kecamatan.

Kini waktunya untuk berkembang lagi, mengorisinalkan sebuah karya. Salah satunya menulis teks pidato, setelah teks jadi hal rutin yang saya lakukan adalah meminta beberapa teman, guru bahkan suami, Om saya untuk membacanya. Tujuannya, agar ketika menemukan sebuah dalil sudah tepat apa belum, penulisan juga sudah sesuai apa belum, utamanya mudah di pahami atau tidak. Intinya sebagai editing dari teks pidato tersebut.

Setelah itu, baru mempraktikkan untuk membacanya. Bisa dilakukan dihadapan kaca jika sendiri. Namun, yang lebih membantu membacanay di depan orang seperti dilihat oleh keluarga, guru atau teman. Lalu, jangan lupa meminta pendapat mana yang kurang mana yang lebih, mana yang di tambah. Hal ini berfungsi ketika kita melatih, tidak hanya sekedar melihat dan mendengar kita bisa merasakan sampai dimana kefahaman yang teknik yang benar. Utamanya untuk melatih mental yang kuat dan percaya diri. Itulah beberapa hal yang dapat dilakukan ketika membuat teks pidato dan melatih pidato. Mari terus mengembangkan diri dengan cara jangan lupa berkarya.

Salam semangat

Sabtu, 19 November 2022

Siaga Beraksi




Barung Warna Warni Kelompok Mereka

Mengenalkan Siaga Pramuka

Raut Wajah Yang Amat Bahagia

Mengikuti Prosesi Dengan Saksama


Bermain Berkreasi

Tanpa Beban Yang Penting Unjuk Gigi

Bernyanyi Suara Lantang

Penuh Kekompakan 


Kami Pramuka Sejati

Jangan Batasi Ruang Kreasi

Siaga Pun Beraksi

Berbekal Dwi Satya dan Dwi Darma


Siaga Pasti Bisa

Siaga Patuh Ayah dan Bunda

Siaga Berani dan Tak Kenal Putus Asa

Salam Pramuka

Jumat, 18 November 2022

Arti Kejujuran



Sepertinya peristiwa ini tidak bisa kami lupakan begitu saja. Koperasi Syariah Al Ikhlas Mirigambar, sudah berdiri sejak 2016. Alhamdulillah setiap tahun kami bisa RAT, artinya koperasi ini sehat. Selama ini, tidak ada masalah apapun.

Setiap bulan agenda musyawarah, rapat rutin, rapat tahunan, bulanan, diskusi  apapun memang bertempat di rumah. Tidak ada masalah dan ini memang sesuai mufakat bersama. Setiap tanggal lima belas, ada agenda rutin untuk berkumpul salah satu kegiatannya menabung, dan waktunya setelah maghrib sesuai kesepakatan. Namun, kali ini ada kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Peristiwa ini juga tidak diharapkan terjadi dan tidak diinginkan oleh siapapun. Pertama kalinya, kehilangan uang beserta kartunya. 

Semua pengurus segera bertindak malam itu juga. Mulai dari mencari disekelilingnya, menelfon semua anggota yang hadir dan biasanya pukul sembilan selesai karena ada peristiwa ini, kami para pengurus koperasi sampai pukul sepuluh malam mencarinya. Tetap, belum ketemu. Kami sebagai pengurus pun, memberikan informasi dan menanyakan lewat grup WA, mungkin saja ada yang kebawa secara tidak sengaja. Kami berasumsi, jika saja barang ghaib yang membawa, tidak mungkin beserta tiga kartu, satu buku tabungan, amplop berisi uang seplastik-plastiknya.

Kejadian ini kali pertama sejak koperasi berdiri, baru kehilangan seperti ini. Kami tidak mencurigai siapapun di kala itu. Kami berusaha terus menerus mencarinya. Tetap belum ketemu, akhirnya kami menyusun musyarawah kecil dengan mendatangkan semua anggota yang hadir di Selasa malam itu. Rabu sore kami adakan musyawarah kecil tersebut. Sekitar dua belasan ibu-ibu anggota yang hadir di Selasa malam, Rabu sore turut hadir kembali mengikuti rapat kecil tersebut sebab rapat tersebut bersifat sangat penting dan wajib. Dan satu persatu mengutarakan kronologi yang terjadi. Ternyata, ada salah satu yang bersaksi melihat dengan mata kepala sendiri. Keberadaan kartu, posisi awalnya dia bercerita secara detail. Dan mengarah kepada si dia.

Kasus seperti ini sangat kami sayangkan. Abah saya sebagai sesepuh dan tuan rumah pun, ikut terjun, merasa dilecehkan. "Kok beraninya mencuri di rumah saya, anggota koperasi, juga jamaah sehingga Abah memiliki tanggung jawab". Beliau tetap menghendaki jalur hukum, dan masih diberi waktu untuk mengembalikan. Tetapi, namanya pencuri tidak akan semudah itu mengakuinya. Si dia terus mengelak. 

Ibu-ibu semua umpyek, marah, curiga mengarah ke si dia. Sebetulnya ibu-ibu akan memaklumi jiak dia mau jujur mengakui. Memang track recordnya si dia, sudah tidak begitu baik, beberapa kejadian sudah menyebar di masyarakat sekitar. Waktu musyawarah kecil itu, keterangan si dia, berubah ubah, jika dilihat dari bahasa tubuhnya, sudah terlihat jelas. Didukung data lagi sejak kejadian malam itu si dia sudah sibuk mencari pembenaran di sana sini. Seandainya tidak melakukan, pasti santai dan tidak perlu mencari pembenaran cukup diam san santai. Sampai detik ini saya menulis, uang beserta kartunya belum ketemu. Kami semua berharap dikembalikan, entah bagaimana caranya. Memang, alot sekali mengakui, yang mananya pencuri tetap pencuri, sekali lagi itu bukan hal terpuji. Jika di dunia mungkin tidak terasa balasannya, tunggu saja di akhirat kelak, dan rasakan. Itu uang milik orang lain bukan hakmu. Semoga dibukakan pintu hidayah oleh Allah.

Oleh sebab itu kawan, mari terus berusaha untuk jujur kepada siapapun terutama diri sendiri. Jujur dengan hal-hal kecil, apapun itu. Tidak perlu menyalahkan orang lain. Lihat diri kita sebenarnya. Orang lain, tetangga masyarakatlah yang menilai. Jangan hanya cari pembenaran. Itu ada saksi melihat, apalagi jika tidak ada saksi. Allah Maha Tahu segalanya. Hati-hati semuanya. Jujur bakalan muju. Ora jujur ajur. 

Rabu, 16 November 2022

Indonesia-Kamboja




Sekolah Tinggi Agama Islam KH. Muhammad Ali Shodiq (STAI MAS), Ngunut Tulungagung kedatangan tamu dari luar negeri yakni negara Kamboja. Beliau adalah presiden YASMA Bapak Prof. Dr. Mohamad Zain Musa bersama istrinya Ibu Aminah Magister Pendidikan Bahasa Arab, yang baru kemarin di wisuda di UIN SATU. Kami menyambutnya dengan bahagia. Kunjungan ini adalah salah satu bentuk kerja sama di bidang pendidikan.

Bersama seluruh pimpinan Pondok Pesantren Ngunut, ada beliau Abah Ibnu Shodiq Ali, Abah Muhson, lalu Abah Rouf sekaligus Ketua STAI MAS, Kak Ghulam, Pak Zamah serta Bapak Ibu dosen semua menyambut kedatangan beliau. Persiapannya kami cukup singkat dari pagi pukul sembilan. Sebab berdasarkan informasi, beliau datang pukul sepuluh. Alhamdulillah segalanya berjalan lancar. 

Pertanyaan yang muncul ketika itu, nanti menggunakan bahasa pengantar apa? Indonesia atau Inggris, ternyata beliau bisa menggunakan bahasa melayu. Setelah beliau sekitar lima belas menit di ruangan beserta pimpinan, Prof Ahyak datang, dan kami berbincang-bincang masalah pendidikan. Pendidikan di Kamboja dan di Indonesia persamaan sampai pada perbedaan. Perjalanan Prof. Musa mendirikan suatu lembaga dan mengelola sekolahnya di sana. Saya dan Bu Fahma juga berkesempatan berbincang dengan Ibu Aminah, beliau menjelaskan sekolahnya masih kecil dan siswanya juga belum terlalu banyak sebab keadaan geografis yang berada di desa kecil serta minoritasnya Islam di sana.

Kemudian dilanjutkan untuk penandatanganan dan penyerahan surat kerjasama. Saya dan Bu Fahma mendampingi beliau sampai ke acara ramah tamah. Saya berkesempatan menjelaskan menu yang ada yakni menu berbagai macam bothok, sayur asam dan krupuk. Lalu ada jamu tradisional kunyit asem, serta buah-buahan. Setelah itu, beliau menghendaki foto di halaman dengan background bangunan Pondok. Kunjungan beliau dimulai pukul dua belas siang sampai sekitar satu jam. 

Setelah acara selesai, banyak harapan serta doa, semoga lain waktu kita juga bisa bersilaturrohim ke Kamboja. Selain itu semoga kerja sama ini memberikan nilai kemanfaatan dan kebarokahan bagi semuanya, khusunya civitas akademika STAI MAS Ngunut, Tulungagung.

Terima kasih semua tim yang bekerja sama, tim perlengkapan, tim konsumsi dan tim teknis semuanya. Salam semangat

Hasil Seleksi Menulis


Hasil seleksi menulis hari ini sudah diumumkan. Awalnya saya sangat ndredek menyiapkan mental untuk siap di segala kemungkinan. Tetapi, sekali lagi menulis di tingkat nasional adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Dan sebelum saya sudah mendapatkan motivasi dari Prof Naim dan Pak Nurhadi. Seperti di bawah ini.


Kata Prof Naim, hanya dua kemungkinan yang bisa didapatkan yakni pengalaman dan menang. Kesempatan emas sudah diambil. Pak Nurhadi juga berkata bahwa dikatakan sudah juara, sebab berhasil mengirim tulisan. Apapun hasilnya tetap saya syukuri. Dan ternyata setelah saya buka link yang dibagikan. Dari provinsi Jawa Timur, ada yang dari Sumenep, Kediri, Jember, Blitar. Tulungagung belum ada yang masuk di seratus sebelas besar. 

Tetap saya ucapkan Alhamdulillah bersyukur serta evaluasi untuk kedepannya. Salah satunya, jangan mengirim tulisan di tanggal akhir. Bagi saya itu sebuah kekurangan, sebab seperti kurang persiapan dan kurang disiplin. Mari tetap semangat belajar dan terus menulis. Intinya, belum rejeki.

Senin, 14 November 2022

Arti Sahabat




Apakah anda punya teman?

Apakah semua teman anda, juga sahabat anda?

Siapa sahabat anda?

Berteman dengan siapapun bagi saya menyenangkan. Diantara teman yang begitu banyak, diberbagai lingkungan bertemu dengan orang. Saya yang termasuk tipikal manusia yang cepat akrab dan bawel, tentu saja membuat renyah suasana. Kadang-kadang rasa untuk berteman dekat sekaligus menjadi sahabat itu muncul, tapi kadang-kadang juga sebaliknya. Tiba-tiba ada rasa hanya biasa saja, bahkan seakan ada bisikan hati kecil tidak usah terlalu dalam dan dekat nanti kecewa.

Hal tersebut membuat seakan membangun pembatas ketika berteman. Sahabat biasanya ruang lingkupnya lebih sempit ketimbang berteman atau hanya berkenalan. Jangan sampai kita mengaggap dia sahabat, tapi ujungnya kita hanya dianggap teman biasa. Itu menyakitkan, sehingga ketika memilih dan menentukan sahabat benar-benar harus klop di berbagi lapisan serta karakter yang kita miliki. Kekurangan yang dimiliki dia dan kita miliki harus dibangun kesepakatan untuk saling memahami dan ditutupi.

Komunikasi juga menjadi kunci utama, bahkan ketika persahabatan yang tulus akan merambah kepada orang tua masing-masing. Orang tua kita menganggap orang tua sahabat kita bersaudara. Intinya kedekatan tersebut terbangun menjadi saudara dan keluarga. Sahabat juga tidak akan pernah sungkan dan menasihati jika kita salah. Lalu, tidak pernah perhitungan artinya ketika kita sulit pasti dia peka untuk membantu. Mengenalkan berbagai hal baru, memahami hobi kesukaan dan ketidak senangan keduanya.

Kemudian mau berproses untuk sukses bersama. Misalnya komitmen untuk lulus bersama, mencari pekerjaan bersama dan  saling membantu. Saya pun memiliki sahabat, yang demikian. Dia menularkan hobi yang menurut saya, saya belum pernah miliki. Bahkan kami dipersatukan di tempat kerja yang sama. Saya sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia. Bahkan warna baju, kerudung, warna lipstik sering seragam.

Orang lain mungkin memaknainya dengan sebuah chemistry. Namun, sebetulnya itu alami, seperti contoh tanpa terencana memakai baju warna senada. Itu sangat menyenangkan, tertawa bersama. Jika pun kita sedih dia berusaha menguatkan bahkan membuat tertawa agar lupa dengan segala masalah yang kita hadapi. Dalam persahabatan pernahkah berselisih faham? Tentu saja, namun tetap saja akan mencari. Sekalipun berdebat diwaktu itu, sejam kemudian pasti mencari dan WA nan ada aja yang dibahas. Itulah kehangatan sahabat. 

Minggu, 13 November 2022

Bukan Kado Materi Untuk Guru




Menjelang hari guru di tanggal 25 November, saya sedikit bercerita suatu malam saya didatangi salah satu santri di Madrasah. Dia memang aktif cukup berprestasi di Madrasah dan kerap mewakili beberapa ajang kompetisi. Sebut saja nama santri tersebut dengan samaran Zubaidah.

Ketika selesai berjamaah sholat Isya' dia duduk di serambi masjid, sengaja menunggu salah satu Ustadzahnya. Setelah saya keluar tiba-tiba dia sungkem dan berkata "Ustdzah, mohon waktunya sebentar boleh?"

Saya pun menjawab "Monggo, Mbak? Ada masalah?" Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, sambil berkata "Ustadzah, apakah betul suatu keharusan ketika Hari Guru memberikan kado kepada salah satu guru disini?" Dari pertanyaan dia, rasanya serasa tertampar, bahkan sebelumnya tidak ada anjuran hal demikian. Tradisi sebelumnya juga tidak ada kado-kadoan.

Zubaidah mulai menceritakan dan membeberkan alasannya salah satunya ketika dia memberi kado kepada guru yang dianggapnya "paling", dia merasa mengurangi sebuah kemanfaatan keilmuannya. Sebab di Madrasah, guru tidak hanya satu dalam membimbingnya. Zubaidah bercerita bahwa ketika satu guru mendapat kado, maka menurut dia semuanya juga mendapatkan kado. Namun, dia menyadari hal tersebut tidak mungkin sebab tidak mampu dam takut membebani orang tuanya. Zubaidah ini memang seorang santri yang menurut umur masih MTs, namun pemikiran sangat kritis.

Ketika menemukan cerita seorang santri atau siswa yang demikian, saya harus berfikir dan bijaksana untuk menjawab serta mencoba memberikan pengertian dan memahamkan dia. Memang, sejatinya Hari Guru Nasional bukan identik dengan kado untuk guru. Kado atau bingkisan adalah sebatas simbolik rasa terima kasih kepada guru. Tetapi, yang perlu diingat setiap guru saya yakin bahwa hal demikian bukan suatu keharusan. Bahkan sewaktu saya di Malang, ketika salah satu mendapat bingkisan dari wali murid, ada SOP untuk dikumpulkan lalu akhir tahun akan dilelang. Mungkin salah satu tujuannya, adalah untuk keadilan dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial.

Ketika saya menulis hal demikian bukan berarti fanatik untuk menerima atau bahkan menolak mentah-mentah pemberian. Hanya saya tidak ingin santri, siswa atau peserta didik terbebani dan menyalah artikan Hari Guru Nasional identik dengan kado kepada guru, kemudian imbasnya ketika di kelas seenaknya berbuat kepada guru bahkan tidak peduli jika ditegur. Sebab mereka bisa berpikiran "Bu guruku, sudah diberi banyak kado dariku, pasti bu guruku tidak berani menegurku". Ini adalah konsep yang salah.

Kemudian menjadi guru, jangan sampai mengharapkan kado apalagi mengharuskan siswanya untuk membawa kado. Hal demikian, menurut saya menurunkan marwah sebagai pendidik. Lalu bagaimana menyikapinya? Jika Hari Guru Nasional memberikan kado hanya simbolik, isinya pun bisa dibagi di kelas atau untuk inventaris lembaga. Memberikan pengertian makna terdalam yang Hari Guru Nasional.

Guru tidak mengharapkan materi atau kado dari siswa. Namun, bagaimana esensi makna keberadaan guru dimata siswa, siswa di mata guru. Bagaimana karakter, sikap, akhlak, itu utama. Ta'dzimnya siswa, menghormati, menghargai, toleransi dan tidak perlu diperbandingkan guru satu dengan guru lain. Perubahan yang awalnya belum baik menjadi baik. Contoh kecil, belum bisa menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil, mereka komunikasi dengan yang lebih tua sudah menggunakan. Hal demikian, membahagiakan guru. Sebaliknya, juga demikian menjadi guru, bagaimana berlaku adil, menghargai siswanya yang memiliki karakter yang bermacam-macam dan saling bertoleransi. Sehingga, kebarokahan dari doa serta ridho gurunya bisa menghantarkan kemanfaatan ilmu.

Saya juga santri, saya juga murid, saya juga masih anak-anak yang masih mengharapkan doa dan ridho para guru saya. Tidak ada mantan guru begitu juga tidak ada mantan santri. Jika kita mampu memelihara segalanya dengan baik dan memposisikan diri. Guru tetaplah guru sampai kita nanti tua. Guru adalah orang tua kedua kita. Ketika bertemu, jangan malu, sapa saja, sungkem dan minimal menanyakan kabar dan utamanya meminta doa. Hal tersebut juga saya dapatkan dari guru saya. Semoga guru-guru kita senantiasa diberikan kesehatan dan panjang umur. Dan untuk guru yang sudah mendahului kita, maka senantiasa kita doakan semoga mendapatkan maghfiroh dan surgaNya. Amin

Jumat, 11 November 2022

Guru Madrasah Menulis


Dalam rangka Hari Guru Nasional tahun 2022 Direktorat GTK Madrasah Kementrian Agama RI menyelenggarakan Guru Madrasah Menulis. Informasi tersebut saya dapatkan melalui Bapak  Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI yang beliau share di salah satu grup yakni Ma'arif Menulis. Selain itu, saya juga mendapatkan informasi dari salah satu story teman dosen Bu Ana STAI MAS. Link pendaftaran yang ada langsung saya cek beberapa persyaratan mulai saya kumpulkan untuk persiapan. Utamanya adalah artikel sesuai tema.

Penulis bisa memilih salah satu tema yang disediakan. Ada sepuluh tema yang diangkat diantaranya:

1. Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah

2. Transformasi Pendidikan Islam

3. Pendidikan Vokasi Pada Madrasah

4. Reformasi pendidikan Islam

5. Pendidikan Islam Secara Umum

6. Implementasi Kebijakan Pendidikan Islam

7. Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Lokal

8. Penelitian Tindakan Kelas

9. Pengembangan Pembelajaran

10. Pengembangan Profesi Pendidik

Sepuluh tema itu, awalnya saya memilih tema ke tujuh, namun setelah saya membuat kerangka pikiran, masih terlihat ruwet dan referensi yang saya kumpulkan belum terlalu kuat. Kemudian saya urungkan pilihan ke tujuh. Dan jatuh pilihan ke tema sembilan, yakni pengembangan pembelajaran. Di pengembangan pembelajaran, saya rasa lebih mudah sebab saya melakukannya di lapangan. Menurut saya di pengembangan pembelajaran juga lebih mudah menemukan referensi. Ketika di tugas akhir kuliah skripsi dan tesis pun saya mengambil penelitian pengembangan. Sehingga beberapa buku serta jurnal penguat bisa diambil untuk menambahkan, jika konteksnya berkesinambungan.

Perbedaan dengan penelitian dan artikel yang saya buat kali ini adalah, pengembangan pembelajaran lebih membahas proses serta langkah pembelajaran sampai menghasilkan sebuah produk berupa buku. Sedangkan di skripsi dan tesis saya lebih condong pada pengembangan bahan ajar atau media pembelajaran.

Perbedaan kedua pada artikel tersebut, saya mengambil Bahasa Indonesia materi tentang puisi di kelas empat. Pada materi puisi siswa diharapkan tidak hanya bisa membaca, memahami ciri atau struktur puisi. Melainkan mereka bisa menciptakan puisi melalui kegiatan literasi. Dimana kegiatan literasi di Madrasah belum terlalu dibiasakan bahkan nyaris tidak ada. Disinilah letak pengembangan pembelajaran yang saya lakukan kemudian saya tulis. Sedangkan, pada skripsi dan tesis, saya mengembangkan di materi sains dan Al Qur'an. Untuk kelas sama yakni di kelas empat.

Setelah menulis, dan tulisan jadi, sempat tidak percaya diri. Saya meminta suami untuk membacanya serta memberikan masukan, kritik dan jika ada typo dalam penulisan. Bismillahirrohmanirohim meskipun ditanggal yang terakhir batas pengirimannya, tetap saya kirim. Setelah saya cek, foto buku hasil dari pengembangan pembelajaran tersebut belum saya cantumkan. Namun, tidak terlalu menjadi masalah. Menjadi masalah jika sampai tanggal terakhir pengiriman tulisan belum jadi. Jadi, tetap semangat menulis. 

Yatim Mandiri Mirigambar Sanggar Al Qur'an Dan Matematika



Sanggar Al Quran Yatim Mandiri yang bertempat di desa Mirigambar, tepatnya di Masjid Al Hikmah Mirigambar memberikan kemanfaatan bagi santrinya. Santri sanggar ini memang diperuntukkan untuk mereka yang yatim atau piatu disekitar desa Mirigambar, ada yang berasal dari desa Domasan Kalidawir. Dan sangat boleh jika ada desa lain untuk bergabung. Sanggar ini tidak hanya fokus di Al Qur'an tetapi juga ada pelajaran Matematika. Sanggar Yatim Mandiri ini, memang cabang dari Yatim Mandiri Tulungagung.

Santri sanggar ini ada lima belas santri. Enam hari mereka masuk dengan jadwal hari  Senin, Jum'at dan Sabtu jadwalnya Al Qur'an. Selasa, Rabu dan Kamis jadwal Matematika semua di mulai pukul 13.30 sampai 15.00 WIB. Yatim Mandiri memiliki agenda setiap tahun bernama OMATIQ. Omartiq adalah olimpiade Matematika dan Al Qur'an. Setelah mendapat yang terbaik di cabang akan diajak ke Jakarta dilombakan di pusat.

Pada saat OMATIQ 2022 bulan September kemarin, sanggar kami belum ada yang lolos di babak selanjutnya. Artinya, masih banyak hal yang perlu ditingkatkan mulai dari kedisiplinannya. Setidaknya memberikan pengalaman untuk mereka. Di cabang Al Qur'an ada Mbak Zahra, Mbak Sania dan Mbak Anggun. Sedangkan di cabang Matematika ada Mbak Tivara, Mbak Elsa dan Mbak Risa.

Ngaji bersama anak-anak yatim, memberikan kesan dan pesan yang sangat berbeda. Banyak pelajaran serta hikmah yang dapat saya ambil dari mereka. Mulai dari celotehan murninya mereka, cerita dengan nuasa hati mereka, bahkan tidak jarang kami bermain bersama. Selain itu, melatih hati untuk lebih sabar dalam menghadapi mereka.

Harapan kami, semoga semua santri tetap semangat mengaji dan belajarnya. Dan mampu menerapkan segala ilmu yang telah kami pelajari bersama. Dan di kegiatan tahunan OMATIQ selanjutnya bisa mewakili Yatim Mandiri Tulungagung di Jakarta. Oleh sebab itu, jangan sering izin, jika tidak ada udzur yang darurat. Berapa pun santri yang hadir, sekalipun hanya satu, tetap akan kami layani dengan baik.

Motivasi saya berbagi dan mau belajar bersama dengan mereka adalah tentu saja untuk mengikuti sunnah Kanjeng Nabi Muhammad Saw, seperti dawuhnya. Selain itu, menularkan ilmu tidak ada ruginya. Sekalipun hanya sedikit, semoga memberikan manfaat dan keberkahan bagi saya ataupun mereka. Maka tidak ada alasan untuk tidak semangat.

Kamis, 10 November 2022

Menularkan "Virus" Menulis






Memiliki potensi untuk menulis diusia muda, harus kita kembangkan. Jangan pernah dipendam. Minimal kita berikan ruang untuk mengungkapkan bahasa hati mereka melalui tulisan. Mengajak kepada kebaikan seperti halnya menularkan "virus" menulis kepada mereka yang masih di MTs, memberikan nilai yang berarti bagi saya. 

Mereka yang masih duduk di kelas tujuh, semangat menulisnya luar biasa. Kelas tujuh di Mts Al Qur'an Jabalkat angkatan pertama, memang didominasi oleh alumni Mi Al Qur'an Jabalkat . Mereka memiliki buku antologi puisi ketika di bangku Mi, sehingga seperti "ketagihan" untuk memiliki karya lagi. Saya pun memberikan waktu untuk mereka bertanya, sekaligus memberikan buku solo ketiga saya "Jejakku Menulis" untuk dibaca sekaligus memotivasi bahwa menulis itu mudah. Membaca dan menulis itu satu kesatuan dalam dunia literasi.

Ada diantara mereka bertanya "Bolehkah Bu, saya menulis cerpen? "saya pun menjawab "sangat boleh". Ada juga berkata "setebal buku ini, apakah mungkin kita bisa menulis Bu?" "Tidak ada yang tidak mungkin, jika kita mau melakukan dan berusaha". Dilanjutkan kembali, dukungan dan cerita mereka yang alumni ketika dulu, bisa menerbitkan puisi antologi.

Tidak hanya sebatas keinginan, mari kita lakukan. Untuk mengawali menulis di kelas tujuh ini, saya tidak mengharuskan di buku tulis untuk menulis. Mereka bisa menulis di aplikasi hp/note/catatan, bisa melalui WA yang bisa dikirim di grup. Tidak masalah jika panjang, nantinya akan saya proses di ketikan laptop yang lebih baik.

Mengapa tidak langsung di blog, dan lebih efektif serta ringan? Ketika masih mengawali suatu hal untuk peserta didik, hendaknya kita kawal terlebih dahulu agar lebih terorganisir dan terkoordinasi. Kadang, ada kekhawatiran jika langsung kepada mereka, yang tidak suka menulis atau belum ada kemauan untuk menulis, pasti tidak mau mengumpulkan. Sehingga muncul gagasan sementara di grup WA, agar lebih terpantau. 

Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pimpinan di lembaga ini atas kesempatan yang diberikan untuk mengenalkan literasi dan buku-buku saya. Semoga dapat memberikan nilai kemanfaatan serta keberkahan dalam mengharumkan nama lembaga. Utamanya menghantarkan peserta didik kita untuk lebih maju, berprestasi dalam segala bidang.

Keep Fighting

Salam Literasi Salam Semangat

Rabu, 09 November 2022

Hari Pahlawan 2022



Sepuluh November kita peringati sebagai hari Pahlawan. Pasti kita semua tahu, bagaimana sejarah menuliskan terjadinya peristiwa sepuluh November di Hotel Yamato kala itu, di Surabaya. Sekarang tak terasa kita sudah menjadi negara yang merdeka dan bangsa yang besar. Kita pun harus bangga dengan apa yang telah kita miliki seperti suku, budaya, bahasa yang kaya, sumber daya alam serta generasinya.

Kebanggaan itu tidak cukup disalurkan melalui suara di udara tanpa adanya tindakan secara nyata. Saya menjadi teringat salah satu lagu yang dibawakan oleh grup legendaris "Sheila On Seven" vocalisnya yang masih awet muda yakni Mas Duta. Salah satu lagunya memiliki lirik "Pasti Kubisa Melanjutkannya". Kalimat tersebut bisa menjadi pernyataan dan pertanyaan bagi diri saya sendiri. 

Pernyataannya, di hari Pahlawan ini, kita harus bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan bukti yang nyata. Kalimat tersebut memberikan semangat serta dorongan optimisme bahwa kita sebetulnya bisa. Misalnya saja, dalam profesi yang kita tekuni sehari-hari haruslah memiliki kesungguhan dan tingkat profesional yang tinggi. Apalagi sebagai pendidik, haruslah semangat mengantarkan anak bangsa menjadi generasi yang unggul dalam berbagai bidang. Zaman sekarang semua fasilitas dengan mudah kita temui, sehingga tidak ada alasan untuk tidak sungguh-sungguh.

Pertanyaan dari kalimat tersebut "Apa yang saya bisa untuk melanjutkan perjuangannya?" Rasanya pertanyaan tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan di atas. Akan menohok bagi yang hanya jalan di tempat dan tidak tahu menahu arah serta tujuan atau cita-citanya. Sehingga sebagai generasi muda kita harus terus semangat untuk mengukir prestasi. Apapun bidangnya harus tetap dilaksanakan dengan baik. Serta memiliki nilai kemanfaatan bagi orang lain.

Bung Karno pernah berkata "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya". Oleh sebab itu, tetapkan tujuan serta cita-cita yang tinggi. Tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia negara yang makmur, negara yang generasinya bisa diperhitungkan segala skill dan bakatnya. Marilah terus memupuk rasa saling menghormati, menghargai, bertoleransi dalam segala perbedaan.

Selasa, 08 November 2022

Dosen Bukan Sembarang Dosen



Setiap orang memiliki cita-cita yang tinggi. Setiap orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam menjalani kehidupannya. Salah satunya memilih untuk sebuah profesi. Menurut saya profesi bukan hanya yang menghasilkan materi, namun bagaimana di profesi tersebut bisa sebagai ladang ibadah, pengabdian kepada masyarakat dan bermanfaat bagi orang lain.

Mengajar di perguruan tinggi atau di sekolah tinggi salah satu cita-cita yang lama telah saya impikan. Mungkin awalnya saya merasa jenjang karir saya berhenti di guru Mi, namun saya salah. Ketika ada suatu niat yang kuat, usaha yang maksimal serta ikhtiar yang kencang bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Daftar list cita-cita yang sejak duduk di pesantren saya tulis, satu persatu terwujud. Mungkin memang tidak semua yang saya tulis terwujud di waktu yang singkat, namun saya yakini saja dengan berjalannya waktu yang tepat menurut Allah, pasti akan Allah akan mengijabah atau mengabulkan dan semua terbukti benar. Perjalanan saya sampai di titik ini memang tidak terlepas dari banyaknya do'a-do'a keluarga besar, saudara, guru-guru bahkan teman atau orang lain di luar sana.

Maka, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Kadang-kadang manusia biasa pasti ada rasa lelah. Ingat kembali perjuangan awal, lihat kembali pada tokoh inspirator serta motivasi yang ada, semangat itu kembali membara sampai lelah bukan alasan. Jika lelah solusi utamanya buat tidur atau makan yang enak versi saya. Misalnya, es cream, coklat bahkan ayam geprek sambel bawang yang pedasnya nampol. So satisfiyed guys.

Mungkin sebagian orang berpendapat dosen dan guru sama saja yakni mengajar, sebagai pendidik untuk generasi muda. Tetapi, setelah berada di posisi sebenarnya yakni dosen, sangat berbeda. Salah satu teman mengeluarkan joke "dosen singkatan dari penggaweane sak dos, bayarane sak sen" lalu ada yang memandang sebelah mata dengan suara ketusnya "sek dosen anyar, perguruan tinggi swasta, pisan! Alah jadi dosen, sebab ini itu" Nyinyiran-nyinyiran seperti itu, saya anggap orang tidak berpendidikan yang tuntas, jadi saya anggap angin lewat. Bisa jadi, mereka yang nyinyir begitu, ingin diposisi kita, tapi sayang belum bisa. Jangan hiraukan, terus jalan saja.

Cukup dibuktikan dengan profesionalitas yang tinggi. Lebih disiplin dan utamanya persembahkan dan tunjukkan prestasi. Bercerita ketika awal menjadi dosen, banyak sekali ilmu, serta pengalaman yang belum pernah saya rasakan. Mulai dari proses dokumentasi yang harus dibuat, proses pembelajarannya, berhadapan dengan mahasiswa, publik speaking, body languages yang harus tertata dengan baik, cara berinteraksi dengan teman sejawat. Belum terkait keilmuan, sangat berbeda jauh, lingkungannya yang selalu membawa nilai kebermaknaan adanya keilmuan bagi saya. Alhamdulillah Tsumma Alhamdulillah.

Pesan guruku "cintai pekerjaanmu dan jadikan sebagai ladang untuk menggapai ridho illahi". Yang masih memandang remeh profesi ini. Mohon Maaf, Sampean Mainnya Kurang Jauh.

Finally,

Yuk, Bro And Sis Sekolah Lagi.


Minggu, 06 November 2022

Bahagia Yang Sederhana




Bahagia yang sederhana, kutandai dengan senyuman. Berbinar-binar saya tersenyum dikelas pagi ini ketika melihat siswa berebut buku. Buku tersebut adalah karya saya yang pertama sewaktu di bangku kuliah. Mereka seakan benar-benar seperti editor dan validator paling jujur. Ada dua judul buku yang saya bawa untuk mereka.  Pertama berjudul "Pseudo Ensiklopedi Hewan Berdasarkan Makanan dan Al Quran"   

Kedua "Pseudo Ensiklopedi Metabolisme Pada Manusia dan Al Quran". Pada judul kedua inilah, buku saya sudah memiliki sertifikat HAKI (Hak Kekayaan Intelektuan).

Mereka sangat penasaran dengan isinya. Mulai mereka lihat satu persatu halaman, perlembar dari gambarnya, warnanya tulisan keterangannya dan diskripsi materinya semua ditanyakan. "Mengapa gambar hewannya begini dan begitu bu?""Mengapa semuanya ada ayatnya bu?" "Mengapa warnanya buku harus begini bu?" "Mengapa perlu bu belajar melalui buku ini?" "Fotonya Bu Filza, kok beda bu?"

Terlihat sederhana pertanyaan mereka, namun sebetulnya pertanyaan itu seperti dikala itu mengahadapi para penguji skripsi. Saya mencoba menjelaskannya dengan runtut, keterkaitan materi serta tujuan pembelajarannya. 

Saya mencetaknya hanya tiga buku, sehingga satu kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Mereka memang terlihat lebih fokus pad gambarnya. Namun, saya pribadi melihat mereka yang biasanya acuh dengan buku. Kali ini berbeda mereka justru mencari dan berebut. Selain jumlah yang terbatas, dari opini mereka, ungkapan lebih penasaran.

Kemudian saya lontarnya pertanyaan "pernahkah kalian melihat buki ensiklopedi misalnya tentang hewan, tumbuhan?" Serentak satu kelas menjawab "belum". Disitulah saya mulai menyimpulkan, mungkin buku saya kali ini, membuat mereka tertarik dan pengalaman pertama mengenal istilah ensiklopedi. Meskipun banyak pertanyaan dan beberapa kritik ala mereka. Saya betul-betul mengucapkan terima kasih kepada semua anak-anak di kelas ini, sudah antusias untuk belajar bersama secara tidak langsung mereka melakukan kegiatan literasi. Kapan-kapan semoga ada kesempatan untuk mengunjungi perpustakaan kota, agar kalian lebih mengetahui jenis-jenis ensiklopedi lainnya.

Keep Fighting

Belajar Dari Kesalahan



Belajar adalah salah satu proses untuk menuju kepada hal yang lebih baik. Belajar apapun pasti diawali dengan adanya proses. Proses yang dimiliki setiap orang tidak sama. Kadang-kadang sebagai pendidik menuntut peserta didik untuk bisa dihari itu juga. Hal demikian, harusnya menjadi suatu kesadaran. Peserta didik yang dinyatakan bisa pasti juga melalui proses.

Orang awam menyatakan bahwa kalau tidak diawali dengan proses yang salah berarti dia sudah mahir. Rasanya konteks tersebut berlaku untuk hal-hal tertentu. Jika diterapkan untuk peserta didik hari ini, berat rasanya. Satu kelas yang terdiri dari banyaknya karakteristik, serta model belajar yang variatif, membuat kemampuan mereka yang beragam. Mengolah dan menyeragamkan suatu pengetahuan butuh keahlian dan strategi tertentu.

Proses menjadi baik, dari yang awalnya belum baik atau kurang baik membutuhkan waktu. Maka harus kita hargai proses tersebut. Salah satunya dengan upaya latihan-latihan bisa melalui soal atau praktek. Kedua bentuk latihan tersebut menurut saya yang paling efektif adalah praktek. Apakah semua jenis pelajaran bisa dipraktekkan? Jawabannya, bisa dengan melihat konteks materinya. Misalnya saja, SBDP, PJOK memang ada teori yang membekali awal pembelajaran, setelahnya sangat perlu untuk dipraktekkan.

Kemudian di pembelajaran Sains atau IPA, kita sangat perlu untuk tahu secara langsung. Bagian-bagian tumbuhan juga ditunjukkan dengan baik, satu persatu dengan detail. Rasanya sangat kurang jika menggunakan ceramah saja, jika dilingkungan sekitar ada tumbuhan atau taman sangat bisa untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

Begitu juga belajar nilai-nilai pancasila salah satunya melalui upacara. Jika upacara hari ini masih ditemukan kesalahan diberbagai sudut. Jadikan semua pembelajaran dan pengalaman. Lalu jangan berkecil hati, masih ada kesempatan untuk berbenah dengan latihan. Namun, jika ada kesalahan, seakan "ya sudahlah" hal tersebut akan membuat cenderung malas dan tidak mau belajar serta berproses.

Poin utamanya jika di tahap belajar dan proses belajar, jangan malu untuk berbenah. Jangan takut salah. Jangan kecil hati menerima kritik atau saran. Tunjukkan dengan semaksimal mungkin bahwa semuanya bisa. Keep fighting

Sabtu, 05 November 2022

Kopi Darat Ma'arif Menulis Dan Gubug Literasi

Alhamdulillah Berkesempatan Memberikan Buku Solo Ketiga Saya, Untuk Bapak Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI


Sesi, foto bersama "Salam Literasi" 


Kopdar literasi bersama Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI di LP Ma'arif Tulungagung memberikan manfaat serta ilmu yang luar biasa. Kegiatan hari ini Sabtu, 5 November 2022, bertempat di kantor LP Ma'arif Tulungagung kami berkesempatan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Diawal kami datang, ada Bapak Dr. Ahmad Supriadi, M.Pd sebagai sekretaris LP Ma'arif Tulungagung sekaligus membuka acara dan Bu Dr. Eti Rohmawati, M.Pd Kepala Madrasah Tsanawiyah Arrosyidiyah Sumberagung-Rejotangan.

Saya datang bersama teman di STAI MAS yakni Bu Retno, yang ingin belajar serta mengawali dunia literasi khususnya menulis. Sekitar pukul sembilan seperempat acara dibuka sebab guru besar literasi beliau Prof. Naim sudah datang. Ada beberapa sambutan, pertama disampaikan oleh sekretaris LP Ma'arif, lalu ketua LP Ma'arif Tulungagung beliaunya Bapak Kozin, M.Pd.I. Pada kedua sambutan tersebut, saya menggaris bawahi bahwa literasi itu penting dan harus tetap dibangun serta dikembangkan.

Selanjutnya pada acara inti bersama Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI seakan beliau memberikan energi baru untuk tetap semangat berliterasi. Pengalaman yang beliau paparkan, seakan menggugah kembali semangat menulis bahkan memulai menulis. Saya menuliskan catatan penting diantaranya: Ada doa khusus untuk menulis "Allahumma Mekso Awak". Hal ini terkait dengan komitmen dalam menulis, agar bisa istiqomah atau berlanjut. Kedua, menulis itu warisan. Jika ingin menulis, lakukan saja. Tidak perlu berbicara mutu atau kualitas, jika ujung-ujungnya tidak menulis. Jadi lakukan saja meskipun tulisan-tulisan yang dihasilkan ringan. Kadang menurut kita remeh, tapi menurut orang lain sangat luar biasa.

Ketiga, menulis adalah bukti rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dari kisah yang beliau ceritakan, seorang yang harus menyandang difabel sebab sakitnya di usia muda, mampu menghasilkan puluhan buku. Bagaimana kita yang dikaruniai Allah kesehatan, kesempurnaan? Tentu harusnya lebih mampu untuk menulis dan menghasilkan buku. Keempat, dengan menulis bisa melampaui diri kita. Artinya kadang kita tidak percaya bahwa kita bisa, faktanya jika dilakukan bisa. Kelima, menulis itu berkah dan kita yakini bahwa manfaatnya sangat besar.

Di poin kelima inilah, banyak sekali cerita inspiratifnya beliau, baik secara langsung dialami, baik yang dialami kawan atau teman beliau bahkan mahasiswanya yang semua berangkat dari menulis. Energi-energi baru inilah, harus kita buktikan, jangan hanya sekedar motivasi bijak tanpa ada gerakan.

Problem atau masalah yang sering dihadapi adalah ketidak percayaan diri, ketidak kuatan mental ketika menerima kritik. Hal tersebut tidak memungkiri akan mempengaruhi psikologi kita. Tetapi, psikologi yang ada, sebetulnya berangkat dari asumsi, yang kadang-kadang asumsi dari luar kita hiraukan. Sehingga membuat minder untuk menulis. Solusinya, jangan biarkan asumsi menguasai terus optimis. Toh yang berpendapat, suka mengkritik biasanya tidak menulis. Yuk, tetap semangat untuk menulis.

Tersenyumlah

(Meskipun bermasker tetap senyum)


Pernah dikatakan bahwa "senyuman adalah ibadah teringan". Senyum juga bagian dari treatment untuk mencegah penuaan dini. Artinya secara tidak langsung, senyum memiliki manfaat yang banyak. 

Tersenyum untuk orang-orang di sekeliling kita, memberikan kesan bahwa menunjukkan keramahan dan saling menghargai. Namun, jangan sampai tersenyum sendiri, ketika tidak orang sama sekali, hal ini bisa berbahaya. Apalagi dibarengi dengan melamun. Sebaiknya dihindari melamun.

Melamun dan berimajinasi itu akan berbeda. Melamun cenderung pandangan yang kosong. Sedangkan berimajinasi lebih kepada membayangkan yang di sana ada konsep jalan cerita atau angan-angan. Berimajinasi atau membayangkan kadang-kadang juga membuat tersenyum namun, dibarengi dengan ada satu atau dua orang teman yang mungkin diajak diskusi kala itu. Intinya tidak dalam keadaan sendiri. Mari bermurah senyum kepada siapapun, sekalipun belum terlalu kenal. 

Manfaat tersenyum juga menggambarkan suasana hati dan pikiran kita. Kadang pekerjaan yang terlalu menumpuk, membuat pusing. Rasanya ingin marah, bahkan ingin sekali meninggalkannya, meskipun belum selesai. Nah, perlu sekali jika sudah suntuk seperti itu, mencari hiburan ringan yang membuat tersenyum dan tertawa ringan. Sehingga, setelah beberapa menit kembali bekerja sudah menaikkan semangat lagi.

Keep Semangat

Keep Smile

Kamis, 03 November 2022

Pemuda Yang Terus Berkarya



Kupikir hanya kalangan yang lanjut cinta dengan tanah air. Dibuktikan dengan segala yang telah dilakukan dan diperjuangkan terdahulu. Keberadaannya yang selalu dinilai berpengaruh, namun dibalik itu semua ada banyak pemuda yang berperan sebetulnya. Namun, seperti tidak terlihat tertutupi entah oleh apa.

Hari sumpah pemuda kali ini menjadi tanda bahwa sebagai pemuda harus hidup. Hidup yang bukan hidup hanya bernapas saja. Namun, bagaimana hidup yang bermanfaat untuk orang banyak. Jika mengaku muda tapi masih malas, perlu dipertanyakan, fisiknya saja muda tapi jiwanya jompo.

Seperti contoh banyak sekali hari ini guru yang kategorinya masih terhitung muda. Harusnya mereka lebih enerjik dibandingkan dengan guru yang senior.

Pemuda harusnya lebih produktif. Produktif memiliki makna yang luas. Pemuda yang memiliki kemampuan tanpa batas, di berbagai bidang harusnya dikembangkan. Tetapi, yang perlu digaris bawahi adalah bidang yang kreatif, inovatif dan positif. Ditunjukkan melalui suatu karya yang bernilai. Misalnya, pemuda yang berani mengembangkan bakat memasak, menari, menulis, menyanyi, bertanam, beternak, kemampuan berdebat dalam bahasa asing dan masih banyak lagi.

Mengembangkan usaha juga bagian dari kreativitas di bidang ekonominya seorang pemuda. Sekarang banyak sekali pemuda yang memilik gerobak kecil sederhana lalu berjualan di samping kampus, sekolahan. Apa yang dijual? Tentunya makanan ringan disukai dan diminati oleh siswa. Hal demikian menurut saya, sangat positif, ada kegiatan yang mereka jalankan untuk kesibukan. Dimana kesibukan tersebut bisa menghasilkan uang. 

Pemuda yang berani kreatif dengan hal tersebut, saya rasa memiliki jiwa berjuang dan tanpa gengsi. Mari terus menjadi pemuda yang produktif, sekalipun tidak muda jiwa tetap harus muda. Demi kemajuan bangsa. Tetap semangat para pemuda bangsa.

Selasa, 01 November 2022

Mental Sehat Untuk Membangun Karakter

 



 

Pengertian pendidikan karakter dikalangan pendidik sudah tak asing lagi. Namun dalam implementasinya masih ada kendala. Kendala yang terjadi, bisa terjadi dari faktor dari luar dan faktor dalam. Faktor dari luar, berasal dari lingkungan peserta didik atau latar belakang mereka tinggal dan berasal. Faktor dari dalam salah satunya bisa berasal dari keadaan mental yang dimiliki peserta didik tersebut.

            Zaman yang semakin maju serba teknologi seperti sekarang akan memberikan suatu pengaruh yang luar biasa bagi peserta didik terutama dengan kesehatan mentalnya. Semakin mereka bisa memanfaatkan dengan pendampingan dan perhatian oleh orang sekitar seperti orang tua maka hasilnya akan maksimal. Sebagai contoh ada salah satu peserta didik yang selalu mengikuti lomba puisi atau pidato di berbagai even. Mereka mengetahui informasi dari berbagai laman. Apapun hasilnya, yang penting mengikuti lomba tersebut sebagai latihan dan pengalaman.

            Mengikuti kegiatan seperti diatas, salah satu cara membentuk mental. Mental kuat tidak akan terbentuk secara instan. Artinya perlu latihan yang berulang-ulang. Menyiapkan mental kuat dan sehat juga butuh proses, bisa dari diri sendiri dan motivasi dari orang terdekat. Cara sederhana membangun mental dari diri sendiri misalnya dengan berkata “saya bisa”, “apapun hasilnya, saya memberikan, menampilkan yang terbaik” “saya harus kuat” “saya yakin dapat”. Intinya membangun pikiran yang positif dari segala yang dilakukan.

            Mereka yang memiliki mental kuat akan tidak malu dalam mengasah potensinya dalam setiap kegiatan. Berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Ketika ada kritik cenderung mengambil yang membangun untuk bahan evaluasi. Sebaliknya, jika keadaan mental yang dimiliki kurang sehat, akan cenderung hanya memikirkan tapi tidak akan ada perubahan. Mudah tersinggung, susah uintuk diajak maju.

            Mari terus menjaga kesehatan mental kita dengan baik. Jangan terlalu memaksakan jika tidak sanggup, berkatalah jujur pada diri sendiri. Jangan cepat puas dengan pencapaian yang sudah didapatkan. Jangan stagnan mari mencoba dengan terus berkembang sebagai manusia yang lebih baik.

Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...