Rabu, 30 Desember 2020

Kerajinan

Kerajinan membuat kalo atau irek dari desaku Mirigambar, Tulungagung, Jawa Timur. Kerajinan ini bahan bakunya adalah pohon bambu. Di proses dengan sedemikian rupa dan dianyam. Umumnya yang menganyam adalah para ibu-ibu rumah tangga. 

Kerajinan ini sudah turun temurun dari engkong, kaki, buyut, kakek, nenek hingga cucu sampai sekarang. Seakan di desa kami membuat kerajinan kalo dan irek atau tompo ini adalah satu hal yang harus perempuan  bisa lakukan, selain keahlian lain misalnya di dapur.

Kerajinan kalo, irek atau tompo ini biasanya digunakan untuk wadah. Bisa wadah sayur, buah atau untuk memeras parutan kelapa.

Kerajinan ini cukup membantu perekonomian ibu-ibu. Umumnya mereka menjual dengan hitungan perkodi. Satu kodi bisa mencapai tiga ratus ribu sampai empat ratus ribu. Tergantung dengan ukuran, kehalusan anyaman dan tentu kerapian.

Mbak-mbak, ibu-ibu muda dan ibu-ibu paruh baya bahkan janda atau single parents di desa Mirigambar ini hampir semua bisa dan suka menyanyam. Membuat kalo, irek atau tompo. Butuh ketlatenan, konsentrasi dan konsisten dalam menyanyam. Terasa sulit jika kita belum terbiasa.

Saya sendiri dari SMP belajar sampai sekarang belum bisa. Namun, saya suka membawa hasil kerajinan ini, ke event seperti bazar. Pernah saya bawa dan promosikan di kampus Malang juga. 

Saya bangga dengan ibu-ibu desa saya. Oleh karena itu, waktu saya nikah kerajinan ini, saya buat untuk sovenir. 

Sejak pandemi ini ibu-ibu semakin rajin dan menghasilkan kerajinan dua kali lipat. Tetapi pemasarannya terbatas. Baru-baru ini ada saudara dari Kediri memesan sekitar lima kodi untuk tasyakuran. Allhamdulillah.

Uniknya, ibu-ibu suka juga berkumpul di rumah salah satu dari mereka yang sering buat pangkalan pengepul karo, irek dan tumpo. Kemudian sambil membawa camilan kecil dan disambi dengan momong putra putrinya.

Komunitas dalam membuat kerajinan kalo, irek atau tomp perlu sekali untuk dikembangkan dan  dimaksimalkan. Agar bertambah berkembang luas dan arah pemasarannya semakin tinggi.

Syukron Honey


Atas TakdirNya
Jalan Yang Teramat Indah
Tak Menyangka
Kamu Bukti Doaku

Keluasan Hati
Keluasan Rasa Sabar
Yang Tak Pernah Sama
Menjadi Pelengkap
Kehidupanku

Ya..
Bukan Karena Sama
Memang Karena Perbedaan
Kita DisatukanNya

Kelembutan Tuturmu
Membuatku Luluh Lantah
Tak Bisa Membantah
Apalagi Menolak

Selalu Berusaha
Mengupayakan
Memberikan Segala 
Yang Terbaik Untukku

Engkau Selalu Membimbingku
Menasihati
Mengarahkan
Tanpa Sedikit Mengguruhi

Berangkat Bersama 
Untuk Memulai
Berproses Dari Nol
Membuat Kumengerti Dan Faham
Arti Belajar Dan Perjuangan

Terimakasih Imamku
Terimakasih Suamiku
Banyak Doa serta Harapan
Semoga Keberkahan KeridhoaNya 
Mengiringi Mahligai Rumah Tangga Kita 
Amin....


Jangan


"Jangan merasa soleh karena itu salah"

"Merasalah salah karena itu soleh"

Dua kalimat yang mempunyai arti yang sangat dalam. Kalau manusia merasa salah pasti ada tindak lanjut untuk selalu mengevaluasi, mengoreksi dan akhirnya akan memperbaiki diri.

"salah" jangan diartikan segala tindakan dan keputusan yang kita ambil salah. Bukan seperti itu, memang dimata manusia kadang tidak ada benarnya. Namun, setidaknya hal yang kita lakukan tidak menyakiti, melukai atau bahkan menghakimi seseorang. Maka, berbuatlah sebaik mungkin kepada orang lain.

Berfikir sebelum berbicara, lalu lihatlah lawan kita bicara. Tempatkan diri pada posisinya yang sesuai. Masih, saya ingat saya sedang duduk di salah satu warung sate kambing dengan beberapa keluarga. Disalah satu meja ada sekelompok bapak-bapak tentu sedang makan dan berbincang-bincang dengan keras.  Karena posisi duduk yang tidak jauh otomatis mendengar dong, apa yang dibicarakan.

Salah satu dari mereka menjelaskan dengan percaya diri dirinya akan berangkat haji. Dia bercerita dihadapan beberapa temannya bahwa begini begitu proses daftar haji. Dan bagaimana nanti ibadahnya disana bla bla and bla. Ada dua lawan berbicaranya. Katakan "si A" dan "Si Z". Tetapi mereka terus diam sambil makan dengan mendengarkan secara saksama apa yang dibicaralan "si K".  Dan sesekali melempar senyum dan menganggukan kepala. Tanpa sedikit mencela bahkan memotong pembicaraannya. 

Kemudian salah satu dari lawan bicaranya, yaitu "si Z" bertanya ke "si A" dan  berkata:  "panjenengan niko sampun tindak dateng Makkah, Madinah sampung kaping pinten?" (Kamu, sudah pernah haji berapa kali?)

Dengan sederhana si A menjawab "kersane Allah, sampun diizinkan pengeran meniko tasek peng tigo" (atas izin Allah masih tiga kali)

Lalu si Z bertanya lagi "prosedurnya, apa demikian seperti yang dijelaskan si K?"

Si A menjawab dengan lebih santai dan lembut "setiap tahun niku kadang berbeda sistemnya, tapi kurang lebih begitu"

Karena posisi duduk mereka dihadapan saya. Reflek saya melihat raut wajah "si K" ini berubah dan terlihat makan dengan lahap tanpa melanjutkan perbincangannya.

Namun kedua temannya, sangat santai dan mencoba mencairkan dengan mengalihkan topik berbicara yang berbeda.

Dari cerita di atas, banyak belajar bahwa di atas langit masih ada langit. Ketawadu'an itu penting.


Selasa, 29 Desember 2020

Buah Apa ini?


Buah apa ini?

Bulat kecil, kulit yang bertekstur halus. Membuat ku semakin penasaran. Sekilas menyerupai buah kelengkeng. Tapi, ini bukan. 

Hanya kulihat, kemudian dalam setangkai ku hitung. Berapa isi buah tersebut, sekitar sepuluh sampai lima belas. Benar-benar asing, apakah nama buah itu.

Lalu kucoba mengupasnya. Cara mengupasnya juga cukup unik. Tidak perlu pisau atau alat lainnya. Cukup digigit tengahnya pakai gigi seri. Pecahlah buah tersebut.

Isinya yang berwarna merah keunguan semacam merah fanta tua. Benar, ku kira rasanya manis seperi buah kelengkeng pada umumnya. Istimewa, rasanya sungguh asam tak ketulungan. Tapi sangat segar.

Buah tersebut hanya dihisap dan bijinya boleh di telan, ingat tanpa dikunyah. Tetapi, ku tak bisa makan model demikian. Setelah ku hisap ya sudah ku buanglah bijinya. 

Apa sih nama buah tersebut?

Boleh isi dikolom komentar ya...

Wedding


Dunia pernikahan, manusia mana yang tak bahagia jika mendengar kata pernikahan. Karena pernikahan memulai lembaran baru dan harus dilalui, dijalani dengan sepasang kekasih yang sudah sah dimata Allah dan negara. Banyak sekali motivasi-motivasi, nasehat-nasehat tentang pernikahan kita temukan di media-media sosial seperti sekarang ini. Tentu kita harus memilah dan memilih dan mengoreksi kebenarannya itu. Sehingga keberadaan guru juga penting untuk menanyakan tentang hal tersebut.

Pernikahan banyak yang mengharapkan kesakralan. Kalau menurut saya pribadi, pernikahan sakral dimulai dengan sebuah inti dari pernikahan itu sendiri. Yaitu ijab qobul, antara ayah sang pihak kemanten perempuan dan calon suami. Saya teringat waktu mengaji di pondok dulu dengan Ustadz saya bernama Ustadz Huda, beliau berpesan kepada kami satu kelas, kalau menikah di dalam ijab qobul, hadirkan orang-orang soleh, kalau perlu berbagai profesi dan tempat yang baik. Kenapa demikian? Karena ketika ijab qobul tersebut, semua malaikat  juga hadir ikut menghadiri mengamini, dan  "arsh" bergoncang. Kemudian jika setelah nikah, hamil insyallah putra atau putrinya akan mengikuti jejak orang soleh dari salah satu yang hadir di waktu ijab qobul tersebut. 

Pernikahan memang indah. Pernikahan ibarat sebuah buku. Jika duduk di atas koade atau dekorasi dengan sebuah riasan baju gemerlap itu masih seperti sampul buku yang baru dan harum. Kemudian di dalam buku atau pernikahan itu ada beberapa bab perjalanan yang harus dimulai dan dijalani. Lembar per lembar hari perhari, tahun pertahun. Lalu kesuksesan buku atau pernikahan tergantung bagaimana keduanya menulis perjalanan, pembelajaran dalam setiap bab yang menjalaninya.

Mengingat dawuh-dawuh beliau guru-guru kami, dati instagram Gus Ahmad Kafabihi Lirboyo. Pernikahan yang sakral adalah pernikahan yang harus ada musyawaroh, istikhoroh dan niatan karena Allah. Kedua, pernikahan yang sakral adalah sebuah perjalanan sepasang hamba Allah untuk meraih surgaNya Allah, bukan malah membiarkan dalam kemaksiatan. Ketiga pernikahan sakral adalah dalam sebuah mahabbah (cinta) itu pasti ada bughdu (marah). Marah diartikan bahwa tidak rela jika yang dicinta tersesat dalam kemungkaran.

Maka, sangat benar dalam pernikahan adalah sebuah ladang pahala bagi keduanya, baik suami apalagi istri. 

Saya juga menemukan tulisan perancang busana, designer terkenal Indonesia Ibu Anne Avantie dalam instagram milik pribadinya menulis "tidak ada pasangan suami istri yang cocok, adanya di cocok-cocokan. Dan juga tidak ada yang pas, tapi harus di pas-paskan. Kalau mau langgeng sampai akhir hayat"

Diakhir bulan Desember, penghujung dan penutup tahun ini banyak yang menyelenggarakan pernikahan. Alhamdulillah, bisa hurmat di beberapa acara bahagia sanak saudara dan beberapa teman. Adanya acara seperti itu, ajang untuk mengecas kembali keromatisan, keharmonisan pasangan suami istri yang sudah terlebih dahulu menikah. Agar tetap bahagia seperti kemanten baru.

Senin, 28 Desember 2020

Black Shoes


Black Shoes, lima tahun lalu aku menemukanmu di negeri sebrang. Kau menemani sepanjang perjalananku. Dikala denganmu kumulai mencari dan meniti karir mulai setitik jarum kecil. Memulai belajar apa itu pendidik, bagaimana menjadi pendidik, bagaimana berinteraksi dengan orang lain wali murid dari model A sampai Z dan apa itu tupoksi apa itu SOP. 

Panas hujan kuterjang. Mruput, dimana teman-teman sekos masih menuai mimpi di pulau kasur, aku sudah besiap menuju sekolahan. Klotak-klotak bunyimu. Kadang membuat beberapa teman terbangun.

Perjuangan senin sampai jumat pulang pukul 16.00 WIB. Jam kerja menghiasi jalan-jalan kota Malang dan tentu sudah sangat padat. Seandainya, telat berangkat pasti ketendang macet di lampu merah pertigaan Dinoyo.

Namanya juga masih mahasiswa, keja senin sampai jumat penuh. Cara membayar hutang tidur atau sekedar jalan-jalan ke Matos, MOG, makan di luar dan bersama teman-teman di hari sabtu dan minggu. Tapi tidak lupa, tetap ada jam untuk nugas. Tetap dengan sepatu itu. Kini kamu menjadi sejarah perjalananku. 


Jumat, 25 Desember 2020

Perempuan


Kalau versi lirik lagu yang diciptakan oleh musisi handal Indonesia yaitu Ahmad Dhani, dan dinyanyikan oleh Mulan Jamilah. Perempuan adalah Makhluk Tuhan yang paling seksi. 

Seksi menurut saya masih terlalu luas untuk mendefinisikan perempuan. Karena perempuan tidak hanya sebatas fisik saja. Dan tidak tergantung seberapa tebal make up nya, Selain itu,  perempuan mempunyai banyak hal yang lebih unik untuk dijelaskan secara mendetail.

Perempuan, banyak yang bilang ruwet dari segala macamnya. Dari hal-hal yang sepele, mandi yang cukup lama, makan yang tidak bisa cepat dan baju yang terlalu banyak. Mix and matchnya tas, baju dan sepatu. Selalu lebih rempong dan rumit. Dalam hal baju saja semua dikonsep sedemikian rupa oleh perempuan ini. Mau ke pasar pakai ini, pergi ke resepsi pakai itu. Dan terbukti, semua itu menambah estetika kehidupan. Sekali lagi perempuan itu unik.

Kalau kita menoleh ke sejarah islam, itulah kenapa Allah menciptakan Siti Hawa.  Allah menghendaki bahwa Siti Hawa adalah sosok yang kuat dalam berbagai hal, indah dalam segala pola fikir serta seluruh hatinya. Belum lagi dari sisi perjuangan, perempuan tidak kalah tangguh dengan kaum Adam. Dulu seperti Siti Hawa yang berjuang dan mecari penyeimbang hidupnya yaitu Nabi Adam. Yang tidak mengenal lelah dan arah hanya demi cita-cita untuk memenuhi cinta kepada Khaliqnya. Dengan menemukan sosok Nabi Adam, yang akan menambah cintanya kepada Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.

Maka, perempuan harus multitalent. Multitalent artinya harus berakhlak karimah itu modal utama kemudian cerdas hati, cerdas pikiran. Semua bidang dia mampu mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik. Pekerjaan rumah tangga mahir, selalu taat suami sudah otomatis. Madrasah yang baik buat anak-anaknya. Selalu manfaat menebar kebaikan kepada yang lain. Tangguh di segala terjangan berbagai cobaan. Itulah perempuan versiku.

Bagaimana perempuan versimu?Silahkan di tulis di kolom komentar ya!





The Blonceng


Blonceng adalah salah satu sayur yang cukup enak diolah menjadi berbagai masakan. Tetapi, ada cerita cukup menarik karena blonceng ini. Kebetulan di halaman rumah kami, selain berbagai tanaman bunga hias,  oleh Abah dimanfaatkan untuk menanam berbagai sayuran dan buah-buahan.

Ada blonceng, markisa, pepaya, jambu air dengan jenis yang berbeda, jambu kaget, jambu dersono, jambu citra, sawo, durian, lemon dan beberapa jenis pisang. Juga ada blimbing wuluh, kemangi, kenikir, sawi dan bayam. Baru-baru ini menanam "besaran", mungkin versi Bahasa Indonesianya murbei. Alhamdulillah selalu kami syukuri, kita menanam ini bukan semata mengisi waktu karena pandemi, melainkan sudah lama. Memang, berkebun dan bertani itu bagian dari hobi sekaligus sebagai pekerjaan.

Ketika semua berbuah, Subhanallah sangat indah melihat buah dan daun yang segar. Tentu menambah rasa syukur dan nikmat yang diberikan Allah SWT. Bagaimana tidak indah dan nikmat mereka berbuah dengan bergantian. habis yang pisang, ada pepaya, pepaya habis ada jambu selalu silih berganti dan sedikit kecil kami juga bisa berbagi. Lemon dan markisa bisa kita manfaatkan untuk minuman. Blimbing wuluh, daun kemangi, kenikir, bayam bisa diolah menjadi sayur yang lezat. 

Yang lucu adik kandung laki-laki saya yang sekarang semester satu, di jurusan olahraga Universitas Negeri Malang. Karena hampir enam tahun di pesantren, menu ala pesantren yang seadanya dan selalu blonceng dan blonceng. Dia bilang ketika di meja makan "kulo phobia kaleh blonceng" (saya phobia dengan bloceng). Dengan santai, Abah menanggapi "ya enggak usah dimaem" (ya kalau ada tidak usah di makan).

Tapi karena kita menanam, saya selalu iseng ke dia. Kalau sehabis metik, selalu saya berkunjung ke kamar belajarnya dia. Dengan kebirit-birit dia lari. Dan teriak "mbak, kudu huek aku" (mual aku, mbak..) 

Begitulah phobia melihat saja tidak mau, apalagi megang dan makan. 

Padahal the blonceng kalau diolah atau direbus dan di sajikan dengan sambal santan, rasanya sangat mantab sekali.....



Senin, 21 Desember 2020

Mayoran


Mayoran pertama kali mengenal kata dan istilah itu sewaktu di pesantren. Mayoran adalah kegiatan makan bersama di suatu wadah lengser. Lengser semacam wadah besar.

Biasanya satu lengser terdiri dari lima sampai tujuh orang. Menu dalam mayoran bukan menu yang mewah. Justru dengan menu sederhana dan satu lengser untuk bersama itu yang menjadi mewah.

Menunya sangat amat sederhana, seperti nasi, sambal pecel, aneka sayur rebus dan kerupuk. Menu yang sederhana itu Subhanallah sangat nikmat. Awalnya agak gimana gitu, karena banyak tangan si A, si B tapi tak peduli. Kita semu beralmamater sama, senasib dan seperjuangan tetap lezat dan nikmat.

Mayoran, biasa kita adakan di hari yang istimewa seperti setelah rutinan kegiatan malam jumat dibaan, muhadoroh atau tahlilan bahkan acara besar temu alumni atau Haul. Dulu jiika salah satu dari kita yang ulang tahun, kita juga adakan mayoran. Sekali lagi dengan menu yang sederhana.

Kisah mayoran yang hampir sepuluh tahun lalu, sungguh indah, namhn kali ini berbeda. Mayoran bersama kawan-kawan seperjuangan ditunda dulu, karena musim Pandemi. Untuk mengobati rasa kangen itu, saya dan suami adakan mayoran. Iya, hanya berdua, biasanya pasangan suami istri sepiring berdua. Kali ini, selengser berdua.

Waw... kelihatan banyak selengser berdua. Tapi tenang, lengsernya kecil guys. Menunya apa? Iya nasi wajib ada, kotok gerih (ikan asin, tempe tomat dab cabaibutuh dibumbuhi) dan dadar jagung. Hemm so yummy. Memambah keromantisan pasutri dan mengobati kangennya mayoran di pesantren. Mayoran juga menambah rasa nikmat pada hidangannya. Buktinya suami nambah terus. Allahmdulillah... mari mencoba....




Haming, hmm....


Kuantitas dan kualitas kedua kata yang menurut saya saling berhubungan. Kadang, kita menemukan kata kuantitas dalam sebuah penelitian yang dituangkan dalam sebuah angka . Sedang kualitas bisa kita artikan pada keawetan suatu benda atau nilai benda itu sendiri. 

Ketika berbicara kuantitas akan berujung angka atau hal yang bisa dihitung. Dimulai dari satu sampai nominal tertentu. Banyak suatu benda yang dapat dihitung, maka hal itu termasuk dari suatu kuantitas. Maka, bisa diartikan kuantitas adalah suatu benda yang masih dapat dihitung.

Kuantitas bisa dicontohkan, semisal dalam suatu acara kita membutuhkan sekitar berapa porsi es buah. Hal tersebut masuk dalam suatu kuantitas, karena bisa kita hitung. Kalau undangannya sekitar empat ratusan, maka kita bisa bersiap empat ratus lima puluh atau lima ratus. Hal itu sangat jelas bisa dihitung, tanpa menilai kualitas es buahnya manis atau pahit. Sekali lagi hanya di hitung tanpa memperhitungkan rasa.

Berbeda dengan kualitas, kualitas, akan lari pada suatu nilai yang memberikan makna dan arti suatu benda. Tentu, nilai akan dituangkan sebagai angka. Nilai yang tertera akan melambangkan sebuah makna dan arti. Maka, terbesit pertanyaan kembali, pentingkah nilai, yang dituangkan dalam angka?

Jawabannya penting, misal saja untuk mencari kualitas jenis makanan biasa kita berikan nilai dan makna pada nilai tertentu, misalnya, 

60 < 70 = kurang enak

71 < 80 = enak

81 < 90 = lezat

90 < 100 = sangat lezat

Nah, maka setiap angka yang ditulis akan mengandung nilai, dan setiap nilai akan mengandung makna dan arti pada sebuah benda.

Terlihat mbulet, dan ruwet. Tapi sebenarnya keduanya juga penting dalam kehidupan termasuk diri kita. Timbul pertanyaan lagi dan lagi?

Apakah diri ini bagian dari kuantitas saja? 

Atau

Apakah diri ini bagian dari kuantitas yang berkualitas? Hmm...

Kalau berbicara kuantitas kita sebagai manusia tentu dapat dihitung oleh siapapun. Namun jika diiringi dengan adanya kualitas yang lebih, maka keberadaan kita juga akan lebih berarti, bermakna dan bermanfaat bagi orang lain.

So, jangan lelah untuk terus dan terus berbuat baik. Jangan hanya bagian dari kuantitas saja, tunjukkan kualitas dan arti makna angka nilai itu.


Sabtu, 19 Desember 2020

Dolanan




Masa Kecil 
Yang Tak Pernah Terulang
Duniaku Bermain

Tertawa Bebas
Lepas 
Dan Tanpa Batas
Dengan Teman-Teman

Berlari Kesana Kemari
Tanpa Rasa Takut
Dan Terancam

Bermain Di Alam
Yang Luas 
Petak Umpet Engklek Gobak Sodor
Menjadi Langganan

Aku Bahagia
Meski Kadang Tangis Kecil
Menghiasi Karena Kalah

Tapi 
Itu Sejarah
Tak Akan Terulang

Terimakasih Masa Kecil
Indah Selalu Di Kenang

Jumat, 18 Desember 2020

Mega Mendung


Unik Warna 

Kau Tampakkan

Tak Biasa


Cantik

Elok Nan Anggun

Semua Manusia Mengaguminya


Tak Lupa

Tuk Mengabadikanmu

Momen Yang Tak Terlupakan


Mega Mendung

Orang Jawa Menyebutmu

Candi Ala


Apapun Namamu

Tetap Indah dan Cantik

Sebagai Bukti Sang Maha Indah




Sore Ini


Lantunan ayat-ayat Al Quran di sore hari menjelang maghrib membuat hati semakin merasa tenang. Didukung dengan suasana mendung. Ditemani beberapa gorengan, ada pisang goreng, singkong goreng dan weci. Sungguh betapa nikmatnya. Alhamdulillah.

Menjelang akhir tahun ini, saya meraba dan mengingat kembali sepanjang tahun 2020. Yang secara jelas tahun 2020 ini cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi covid 19 membuat banyak diantara kita yang harus beradaptasi ulang dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Mulai dari aktivitas sekolah yang hanya melalui jaringan, kemana-mana harus memakai masker dan rajin mencuci tangan dengan sabun. Tidak sedikit kegiatan perekonomian yang mendadak menurun drastis bahkan macet. 

Yang menciptakan segala halnya termasuk covid 19 ini adalah Allah. Manusia di bumi ini harus menerimanya dengan lapang dada. Lapang dada bukan berarti tanpa ikhtiar. Harus menerima tetapi wajib mencegahnya dengan segala yang dianjurkan oleh dunia kesehatan.

Banyak di daerah kita yang lockdown demi untuk keselamatan. Dan tidak sedikit  orang yang meninggal, karena kasus covid ini. Maka sudah sangat amat wajib, kita harus menjaga kesehatan.

Rizki yang Allah berikan tidak melulu sebuah materi berupa uang. Ada hal yang wajib kita tahu, di waktu ini rizki yang wajib kita syukuri secara mendalam dan sangat berharga adalah berupa rizki sehat. Sehat merupakan modal utama untuk melakukan segala aktivitas. 

Sehat harus dimulai dari diri kita sendiri. Pertama, pola fikir yang sehat, positif thingking selalu bersemangat melakukan hal yang baik. Kedua, makan-makanan yang sehat, empat sehat lima sempurna. Kandungan protein, baik hewani atau nabati karbohidrat, lemak baik serta vitamin-vitamin minimal kita tahu dan mempraktikkannya. Lalu jangan lupa olahraga.

Kemudian, yang paling utama perbanyak sholawat, istighfar dan senantiasa bersyukur, perbanyak amaliyah ubudiyah kepada Allah. Agar di manapun kita berada selalu dilindungi dan diberikan kesehatan keselamatan dunia maupun akhirat.


Kamis, 17 Desember 2020

Rainbow


Rabu, 16 Desember 2020 pagi-pagi, masih memakai kostum kebesaran "daster". Baru saja beres dari kantor kesejahteraan keluarga "dapur". Ada suara Abah memanggil "Mas Bro...Mas Bro...Mas Bro". Sapaan akrab buat anak tetangga depan rumah mempunyai nama asli Abdau. Abdau sedang bersepeda dengan temannya Azzam. Azzam kalau diurut dari keluarga, dia adalah cucu dari Abah. Mereka seusia kelas tiga madrasah ibtidaiyah. Mereka seperti mimin mintuno kemana saja berdua.

Kemudian, mereka mendengar panggilan Abah, langsung belok ke rumah. Muter-muter dengan sepedanya di halaman rumah. Tiba-tiba mereka manggil dengn siara kelas. "Mbak...mbak... mbak.. ambil kamera fotoin kita, ada pelangi". Sedang saya masih enak membawa sapu lidi. Teriakan lagi "Mbak cepetan" teriak Abdau. Azzam tak mau kalah juga "Selak hilang mbak pelangine" (segera hilang lo mbak pelanginya). Sempat ragu dengan teriakan mereka, masih kuenakkan untuk menyapu halaman. 

Tak lama mereka parkir sepeda dan menarik tanganku untuk melihat pelangi. Ternya betul ada pelangi. Karena masih suasana di pagi hari, dan mendung syahdu pelangi tersebut sangat indah.

Lalu, kuabadikanlah momen langka ini, dengan kenaturalan tingkah Abdau dan Azzam. Setelah berfoto-foto, mereka mecoba mengingat lagu pelangi. Dan menghitung warna-warni pelangi tersebut.

Sambil melanjutkan menyapu, saya mendengar percakapan polos mereka. "Kok apik banget yo pelangine, sopo sing gawe?" Kemudian si Azzam juga bergumam "gek kok ndak mendino enek pelangi, nyapo yo". Berbincang-bincang sambil ngrecoki Abah yang masih sibuk dengan burung-burung kicauannya.Mereka tertawa terbahak-bahak entak bagaimana Abah menjawab gumaman mereka.


Pelangi

Berjuta Warna 

Melukis DilangitMu


Suguhan Yang Indah

Kenikmatan Mata

Yang Tak Tertandingi


Mendung Syahdu

Di Pagi Ini 

Kita Bermain Bersama


Jangan Malu

Untuk Menampakkan 

Wahai Pelangi


Terimakasih Ya Allah

Sungguh Indah 

Pelangi CiptaanMu




Selasa, 15 Desember 2020

Silaturrohim


Sore ini, rutinan jamiah manaqib dan muslimat nurul hikmah mirigambar kebetulan bertempat dirumah tetangga depan rumah pas. Di rumah pemilik toko Bintang gorden, Ibu Martin. Seperti biasa layaknya rutinan di era pandemi, semua ibu-ibu muslimat memakai masker, jaga jarak dan tuan rumah wajib menyediakan temat cuci tangan lengkap dengan sabunnya.

Acara dibuka oleh pembawa acara Budhe Supat dengan menggunakan bahasa Jawa Kromo. Kurang lebih susunan acaranya pembukaan dengan pembacaan surah Fatihah, pengumuman dari pimpinan jamaah, tausiyah singkat, istighostah, pembacaan syiir manaqib serta ditutup dengan doa.

Acara dibuka dengan surah Fatihah yang dipimpin oleh pembawa acara. Kemudian dilanjutkan pengumuman dari pimpinan jamaah. Terdengar tidak asing suaranya. Suami berkata "itu lo suara umi". Saya berkata "hem... pengumumane lak panjang kali lebar". Intinya tetap jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan dan dimohon bantuan sodaqoh nasi kotak untuk acara pelantikan Ipnu Ippnu di ranting Mirigambar. Dan menu yang disepakati adalah lele lalapan sama sambal. Dikumpulkan di hari Minggu, tanggal 20 Desember 2020 pukul 07.00 di rumah. Serentak ibu-ibu menjawab "nggeh setuju".

Nah, baru acara inti yakni tausyiah singkat diisi oleh beliau Bapak Mahmud. Beliau berkata, kali ini perdana mengisi di rutinan ini. Sebelum mengisi,  beliau meminta kesepakan kepada jamaah, berapa waktu yang diberikan. Ibu-ibu menjawab lima belas sampai dua puluh menit. Kemudian beliau meminta hanya lima belas menit. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan tentang "Silaturrohim". 

Betapa pentingnya silaturrohim. Dan banyak manfaat serta faedah dalam silaturrohim diantara di sebutkan dalam hadits Rasullullah :


 مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Yang Artinya: 

Barang siapa yang mau rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan, hendaklah ia menyambung kerabatnya (silaturahim).

Selain itu, silaturrohim juga bernilai ibadah, mana kala kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Beliau juga menyampaikan , sebenarnya mencari pahala itu sangat mudah. Contoh ibu-ibu masak pagi untuk suami, dan anak-anak keluarganya setiap hari bisa diniati ibadah itu sudah bernilai ibadah dan pahala. Namun, membuat dosa jauh lebih mudah tanpa kita sadari. Banyak contohnya itu, awalnya niat silaturrohim bernilai baik dan pahala tetapi tanpa disadari dinodai dengan ghibah kecil, menuju gosip yang digosok makin sip. Seraya semua ibu-ibu jamaah tertawa kecil. Bahkan ada berkata dengan suara lirih "betul juga yo". Lalu beliau mencontohkan ibu-ibu kalau bertemu teman atau tetangganya di jalan kira-kira bertanya apa ya. Semua menjawab "teko ngendi yu?" (dari mana mbak?"). Pasti jawabnya njenengan semua tidak juga cuma satu kalimat. Saya yakin, pasti jawabanya njenengan semua dari pasar, belanja cabai dapatnya macam-macam, lha kok bertemu si A si B dan ini dan itu. Itu lo ibu-ibu dosa yang kadang tanpa kita sadari. 

Kemudian beliau menekankan sekali lagi, betapa pentingnya tentang niat dalam segala tindak langkah kita salah satunya dalam silaturrohim. Kemudian, sebelum beliau tutup beliau menjelaskan inti isi ngaji bersama tersebut. Kalau masih ada waktu hendaknya kita sempatkan silaturrohim kita niatkan untuk ibadah dan menyambung persaudaraan.

Acara selanjutnya adalah istighostah dan pembacaan syiir manaqib seperti biasa, suara ibu-ibu cetar membahana tanpa sedikit falset dalam syiir tersebut. Dan selalu semangat dan terkenal vokalis handalan jamaah ini adalah Bu Kasitun. 

Tak terasa acara dimulai dari pukul 13.00 WIB dan diakhiri pukul 16.00 dengan ditutup doa bersama. Banyak pelajaran yang dapat diambil mengikuti rutinan jamaah ini, bertemu bersosialisasi dengan ibu-ibu yang sudah senior bahkan rata-rata sudah menjadi nenek dan buyut. Kemudian mereka mempunyai semangat yang kuat dan selalu kompak, terlihat dari seragamnya. Semoga rutinan jamaah manaqib ini selalu diridho Allah dan istiqomah manfaat dan barokahi bagi semua.



Senin, 14 Desember 2020

Imout

Glinuk Glinuk Nyepluk

Pipimu Seperti Bakpou

Yang Hangat

Dan Siap Disantap


Memakai Baju Apapun

Selalu Pas

Dari Balita

Terbiasa Berjilbab


Kemanapun Kamu Berpergian

Tak Lepas Dari Gamis

Dan Jilbab Yang Senada

Selalu Percaya Diri


 Anak Seusianya

Dia Tidak Pernah Grogi

Jika Ada Mainan Baru

Selalu Woles


"Terserah"

Itu Kata Yang Dilontarkan

Ketika Ditawari Sesuatu

Dan Tak Pernah Rewel


Jika Teriak

Suaranya Bisa Tembus Tiga Rumah

Imut Sangat Sih

Nak Kecil Syakira


Semoga Menjadi

Anak Yang Solihah

Banyak Menebar Manfaat

Dan Barokah

Salud Sangat Sama Sepupu

Yang Imut Nan Ceriwis Satu Ini

Minggu, 13 Desember 2020

Ibu


Segala tenaga 

Segala waktu

Yang kau punya

Hanya untuk anakmu


Jiwa Ragamu

Kau Korbankan

Tak Peduli Nyawamu

Sekali lagi Hanya Untuk Anakmu


Keringat Dingin

Panas Membakar

Sakit Seribu Sakit

Jadi Satu


Tak sekalipun Kau Mengeluh

Yang Terpancar Hanyalah

Senyum Indah Nan Bahagia

Demi Anak-Anakmu


Sungguh Mulia

Wahai Umiku

Engkau Membesarkan

Mendidik Mengarahkan

Yang Terbaik Untuk Anak-Anakmu


Engkau Rela Menerjang Hujan

Demi Mengayuh Sepeda

Mengantarkanku 

Menuju ruang kesuksesan


Umi....

Terimakasih Atas Semua Pengorbanan

Dan Segala Jerih Payahmu

Umi....

Maafkanku 

Sebagai Anakmu

Belum Memberikan Yang Terbaik Untukmu


Dihadapan Tuhan

Ku Bersimpuh Memohon

Selalu Sehat dan Panjang Umur

Berkah Selalu


Umi...

Terimakasih Sudah

Menjadi Ibu Yang 

Hebat dan Kuat Untukku

Diam-Diam Aku Banyak Belajar Darimu

Oh Umi....



Jumat, 11 Desember 2020

Jantiko Mantab

Jumat Legi, tanggal 11 Desember 2020 dilaksanakan rutinan jantiko mantab. Alhamdulillah bertempat di desa suami, lebih tepatnya di masjid Baiturrohman Keben Aryojeding Rejotangan Tulungagung.  Saya sangat lama tidak mengikuti rutinan jantiko ini. Terakhir mungkin saya masih MI atau SMP.

Ada yang berbeda dari rutinan yang saya tahu. Biasanya jamaah yang hadir dari pagi sampai khataman pasti akan membludak atau banyak. Dan orang jual yang keliling serta membuka gerobak-gerobak mulai dari songkok, tasbih, minyak wangi bahkan gerobak jajan nyaris juga tak terhitung. Namun, kali ini nyaris tidak ada. Saya hanya menemui satu penjual jajanan gipang yang keliling.

Jantiko dimulai dengan hidiyah fatihah bada subuh. Kemudian, dilanjutkan para hufadz untuk melantunkan Kalamullah bil ghoib. Para hufadz memakai pakaian putih. Kami sebagai sami'in/sami'at atau penyimak, pendengar memperhatikan dengan saksama ayat per ayat yang dibaca.

Para hufadz, dalam melantunkan ayat-ayat Al Quran suaranya sangat merdu dan sangat nyaman tenang didengarkan. Ketika ada sebuah kesalahan ayat, kami yang mendengarkan akan membetulkan.

Pada juz-juz awal saya, masih bisa menirukan hitung-hitung untuk nderes. Tapi, berjalannya waktu, mata tak bisa diajak kompromi. Ngantuk melanda, kuputuskan setelah jamah sholat dhuha pulang.

Kemudian, saya dan suami balik lagi pukul 15.00 sholat asar berjamaah. Banyak diantara jamaah putri yang sudah nenek-nenek tapi semangatnya tinggi. Mereka menyimak sambil ngemil gipang. Jadi tak heran, mereka tidak ngantuk seperti saya. Setelah berjamaah Asar melanjutkan pembacaan juz 25 sampai juz 30 sebelum surah Ad Dhuha, dilanjut jamaah sholat Magrib.

Ternyata, setelah sholat magrib, tidak langsung hataman. Ada amaliyah dzikrul Ghofilin. Cukup panjang amaliyah dzikrul ghofilinnya. Saya awalnya tidak melihat barisan belakang saya. Ternyata jamaah putri lumayan banyak sampai ujung serambi masjid. 

Amaliyah selesai dilanjutkan sholat berjamaah isya. Baru setelah itu hataman dari surah Dhuha sampai An Nass. Saya dan Bu Awin, istri dari salah satu hufadz duduk di shof depan panggung kecil para hufadz. Alhamdulillah dihadiri para pemimpin jantiko Almukarrom Mbah Yai Arsyad dari Pondok Pesantren Al Falah Trenceng Sumbergempol. 

Sebelum doa, beliau menyampaikan nasehat singkat tentang perbanyak dzikir istighfar "astagfirullahaladzim". Diwaktu dan kesempatan apapun hati kita harus banyak diajak dzikir mengingatNya. Setelah beliau selesai dawuh, acara ini ditutup dengan doa bersama.

Jantiko Mantab Jamiah Istima'i Quran kali ini  menurut saya sangat berkesan. Tanpa membaca, cukup menyimak dan mendengarkan  dengan saksama insyaallah dinilai pahala oleh Allah SWT. Lalu kegiatan ini biasa dilakukan di tempat yang terbuka dan luas, sehingga kadang membawa tikar sendiri, duduk di atas  rumput dan tegalan milik orang karena saking banyaknya jamaah. Namun kali ini berbeda, saya lebih nyaman di serambi masjid. Tentunya dengan protokol kesehatan, memakai masker dan menjaga jarak. 


Dulu



Sering sekali di masa masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, setingkat sekolah dasar, suka sekali bermain guru-guruan dan dokter-dokteran. Entah apa yang saya cita-citakan di waktu kecil tersebut. Namanya anak kecil kalau ditanya apa cita-citamu masih berganti-ganti menyebutnya. Kadang dokter kadang guru, kadang pegawai. Seenaknya kami sebut karena masih polos.
Seiring berjalannya waktu ketika sekolah menengah pertama suka dan aktif di kegiatan OSIS, Pramuka dan PMR. Sering diajak kegiatan keluar, belajar menjadi kakak pembina di beberapa sekolah dasar, persami, dan lomba-lomba puisi, pidato, bahkan MTQ.  
Atas kehendak Allah, sekolah menengah atas saya harus masuk pesantren. Notabennya, dalam pesantren santri tidak boleh keluar area pesantren. Seluruh kegiatan didalam pesantren itu sendiri. Ikutlah kegiatan kumpulan Master Of Ceremony, OSIS pondok, OSIS Sekolah, Teater, Marawis, dan berbagai kegiatan ekstra intra di pesantren saya ikuti. Alhamdulillah, cukup aktif mengikuti lomba-lomba meski kadang modalnya hanya tekat saja seperti lomba MSQ, Pidato tiga bahasa dan MTQ.
Kenapa kelihatan banyak sekali dan padat dan bagaimana cara membagi waktu. Karena bawaannya senang, happy, bahagia mengikutinya tanpa beban dan paksaan. Jadi, sangat enjoy melakukannya sehingga capek pun kadang tak dirasa.
Di waktu itu masih ingat sekali, saya sangat senang menulis essay, paper dan dilatih membuat makalah. Pada waktu masih kelas sebelas, saya mengikuti salah satu program pertukaran pelajar. Ada salah satu kakak kelas yang sudah berhasil, selama satu tahun ke Negeri Paman Sam. 
Program yang di tahun saya, pertukaran ke Jepang dan Amerika. Tahap yang harus ditempuh pun tidak sedikit. Mulai dari membuat essay, paper pada waktu masih menggunakan tulisan tangan. Tes pengetahuan pertama saya masih ingat, di SMA Wahid Hasyim Tebuireng. Kami satu pondok sekitar sepuluh santri diantar memakai elf. Ternyata sesampai di sana, pesertanya sekitar ratusan santri pilihan dari berbagai sekolah menengah atas negeri atau swasta Sekabupaten Jombang. 
Dalam satu ruangan, ada dua puluh santri, dengan dua pengawas.
Selang lima hari, ada pengumuman untuk tahap kedua, membawa essay yang kita tulis. Pada waktu tes dilaksanakan di Universitas Merdeka Malang, yang berhasil ke tahap dua ini hanya lima santri dari pesantren kami, salah satunya saya.
Kami dipanggil satu persatu dalam ruangan tersebut ada empat dewan juri. Dua orang dosen dan dua orang bule. Pada waktu itu, saya ditanya tentang culture (budaya) asal daerah saya yaitu Tulungagung. Saya mengenalkan dan menjelaskan culture mulai dari masyarakatnya, adat istiadat dan segala ikon yang ada di Tulungagung. Dan saya merasa bangga, bisa mengenalkan kota kelahiran saya kepada para dewan juri yang berkewarganegaraan Australia tersebut. 
Pada tes wawancara tersebut tentu saja bahasa yang digunakan bahasa Inggris. Lagi-lagi modal saya tekad kuat, pangestu dari abah umi dan para guru, bismillah. 
Alhamdulillah tes tersebut saya lewati tanpa halangan apapun artinya sangat lancar, untuk keputusan hasil saya pasrah dan berdoa kepada Allah yang terbaik.
Tahap ketiga ke Jakarta untuk dikarantina, dari lima santri tersebut yang lolos ditahap ini ternyata hanya dua santri. Namun, jalan terbaik untuk saya pada waktu itu, saya belum seberuntung mereka. Saya masih ingat nama teman saya yang lolos ada Mbak Wilda dan Gus Rofiq Hudawi.
Setelah pada tahap tersebut, ada tahap akhir sebelum berangkat ke luar negeri.  Pada akhirnya yang lolos hanya satu Mbak Wilda dan berangkat ke negeri paman sam.
Itulah, sepenggal cerita pengalaman bagaimana perjalanan diri ini, yang masih perlu banyak belajar berbagai hal. Jangan berhenti belajar dan terus berproses.

Kamis, 10 Desember 2020

Jangan Buang Kesempatan

Kesempatan berhubungan dengan waktu. Kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. Kesempatan kadang datang diwaktu yang menurut kita tidak tepat. Justru, karena waktu yang tidak tepat, makannya dinamakan suatu kesempatan. . 

Dalam suatu kesempatan tersebut, kadang membuat kita belajar banyak hal. Sehingga membentuk pengalaman baru. Maka jangan sia-siakan kesempatan yang baik itu datang.

Saya jadi ingat pesan Rasulullah tentang ingat lima perkara sebelum lima perkara. 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: 

1. Sehat sebelum sakit

2. Muda sebelum tua

3. Kaya sebelum miskin

4. Luang sebelum sibuk

5. Hidup sebelum mati

Menggunakan kesempatan sehat kita untuk segala aktifitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan segala kondisi sehat baik sehat dhohir dan batin kita, saya rasa kita akan selalu merasa senang dan bahagia apapun kegiatan kita.

Muda sebelum tua, kadang kita harus buka mata kita untuk melihat yang ada sekitar, seperti orang tua kita, kakek nenek kita, kakak atau adik kita. Hal itu sebagai tolok ukur kita. Dimana posisi kita, muda dibandingkan yang lebih tua. Bagaimana jika kita yang muda berada diposisi nenek atau kakek kita yang sudah mulai menurun segala aktifitas dan kesehatannya. Oleh karena itu, kesempatan muda dan sehat sudah seharusnya dimanfaatkan dengan segala kebaikan. 

Kesempatan kaya, menurut saya kaya bukan suatu materi yang menumpuk, tetapi kaya ketika kita merasa cukup dan selalu bersyukur. Bentuk syukurnya dapat direalisasikan dengan berbagai hal.  Dengan rasa cukup, "kaya" yang kita miliki, kita mampu berbagi dengan orang-orang disekitar kita.

Luang sebelum sibuk, saya sudah menulis sebelumnya tentang sibuk. Sibuk semua orang pasti sibuk, jadi gunakan waktu luang sebaik mungkin, seproduktif mungkin, tentunya bernilai manfaat. Kita harus belajar mengurangi kegiatan yang kurang bermanfaat. Isi waktu-waktu kita dengan sesuatu yang berharga. Menurut saya kegiatan yang positif disekitar kita juga banyak. Luangkan pikiran tenaga kita untuk membuat hal-hal yang baru dan kreatif. Sangat disayangkan jika ada kesempatan dan waktu begitu saja hilang.

Hidup sebelum mati, semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran yaitu:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ 

Artinya: "Setiap yang bernyawa akan mati" (QS Ali Imran ayat 185)

Manusia yang hidup di dunia ini sejatinya hanya mampir untuk menanam. Lalu kapan kita akan memanen? Iya, kelak di akhirat. Kita akan mengetahui seberapa besar panen amal yang telah kita buat. Maka manusia wajib memperbanyak menanam kebaikan dalam segala hal. Selalu menjalankan perintahNya, menjauhi segala laranganNya. Kesempatan hidup yang sangat amat berharga. Nafas yang masih kita rasakan tanpa bantuan alat merupakan nikmat yang sangat berharga. Oleh karena itu, kesempatan hidup yang hanya sekali, harus kita manfaatkan dengan baik sehingga ketika kita sudah tidak berada di dunia ini, minimal dikenal dengan kebaikan-kebaikan yang telah kita ukir. 

Jangan, buang kesempatan yang ada untuk selalu berbuat baik.

Rabu, 09 Desember 2020

Terus Berjuang


Mimpi...

Kau Berulang Kali Muncul

Disaat Aku Sadar

Atau Tidak


Dimulai Dari Itu

Kau Menjadi Citaku

Juga menjadi Citamu

Jangan Berhenti Bermimpi


Mimpi....

Setinggi Angkasa

Sedalam Samudra

Seluas Lautan Tak Bertepi

Seterjal Makadam


Jangan Hanya Jadi Hayalan

Juga Jangan Hanya Jadi Rencana

Mimpi-mimpimu

Harus Dibuktikan

Tak Peduli Jalan Yang Kau Lalui


Karena

Awal Dari Mimpi

Cita-citamu 

Pasti Terbukti


Terimakasih Sudah Mau

Berjuang Memulai

Membangun Mimpi 

Yang Akan Jadi Cita

Dan Kesuksesanmu

Terus 

Jangan Lelah

Mengukir Prestasi



Senin, 07 Desember 2020

Tiga Puluh Dua

 


Tidak terasa sudah tiga puluh dua tulisan yang saya tulis di blog milik saya. Artinya tidak terasa saya sudah menulis di hari yang ke tiga puluh dua. Mungkin, masih dibilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan penulis hebat di luar sana. 

Tak menyangka juga, saya bisa menulis sebanyak tiga puluh dua dengan segala macam isi, ide atau judul yang ada. Kalau ditanya puas? Pasti belum, apakah cukup tiga puluh dua saja? Jawabnya tentu TIDAK.

Tiga puluh dua hasil tulisan ini, setidaknya menjadi sebuah motivasi besar untuk saya melangkah atau bahkan lari untuk lebih menekuni, menggali, mencari ilmu lebih dalam tentang menulis.

Masih ingat sekali, awal menulis karena tuntutan, salah satunya di dunia perkuliahan. Membuat makalah, tugas akhir skripsi dan tesis. Karena dari tuntutan atau paksaan tersebutlah, saya bisa selesai menulis. Menulis tentu tidak akan selesai jika hanya dipikirkan saja. Menulis yang baik, ya lakukan saja menulis dan praktek langsung.

Saya juga tak menyangka, waktu di bangku perkuliahan,  saya membuat dua buku pendamping pembelajaran Sains. Yaitu buku Pseudo Ensiklopedi Hewan dan Pseudo Sistem Pencernaan. Mungkin buku tersebut, tidak akan jadi jika tanpa tuntutan, saran, bimbingan atau bahkan paksaan dari berbagai pihak, seperti bapak dan ibu dosen serta teman-teman seperjuangan.

Membuat buku tersebut, tentu diawali dengan menulis. Mustahil, jika tanpa menulis, bisa terbentuk suatu buku. Kalau dulu saja bisa, kenapa sekarang tidak? 

Jadi hal di atas  sebagai dorongan, dan pengingat serta nasihat untuk diriku sendiri. Jangan lelah untuk menulis, jangan malas menulis. Westo Filza, teruslah menulis.

Keep Fighting

Sibuk?

Saya sibuk,

Saya repot,

Sibuk apa?

Lalu, kapan selesai kesibukan tersebut?

Sering sekali, saya mengatakan pada diri saya sendiri kalimat-kalimat di atas. Saya kira, semua orang akan sibuk dengan kegiatan, aktivitas atau pekerjaan yang dimiliki. Masing-masing orang pasti sibuk atau sering kita kenal dengan kata repot. Kesibukan diciptakan oleh diri kita sendiri.

Saya juga sibuk dengan kegiatan yang saya miliki. Namun, saya tidak tahu sesibuk apa sebenarnya dan nilai apa yang saya dapat dari kesibukan tersebut.

Saya tersentil dengan salah satu caption sosial media adik kelas saya. Kurang lebih "sibuk itu palsu, semua tergantung prioritas". Kalimat tersebut nasihat yang amat dalam. Orang yang tanpa melakukan kegiatan pun kadang mengatakan dirinya sibuk. Jadi, sibuk atau repot boleh tidak, dijadikan suatu alasan?

Lalu prioritas, hal yang lebih utama. Kepentingan-kepentingan setiap individu pasti berbeda. Kepentingan utama setiap orang juga tidak sama. Sesibuk apapun pasti ada yang lebih utama atau diprioritaskan. Sangat mungkin, jika bukan prioritas maka tidak dilakukan.

Sibuk atau repot menurut saya harus spesifik dalam kegiatannya dan seberapa besar manfaatnya. Mari, kita sibukkan diri kita untuk sesuatu yang bermanfaat salah satunya menulis.

Saya  membuat komitmen pada diri saya sendiri. Sejak mengikuti seminar Literasi bulan lalu. Minimal dalam sehari harus ada waktu untuk menulis. Jika tidak bisa memenuhi, saya menganggapnya sebagai hutang. 

Maka, semakin menunda menulis hari ini, maka hutang saya menulis akan semakin menumpuk. Tidak jarang, menulis mengalami kebuntuan dalam mencari ide, topik atau judul. Yang paling pokok, harus menulis dan dilakukan. Benar atau tidak, yang penting menulis.

Sejauh ini, saya merasakan bahwa kegiatan menulis itu sangat menyenangkan dan selalu positif. Entah ada yang membaca atau tidak, yang terpenting menulis. Sesibuk apapun ayo tetap menulis.

Minggu, 06 Desember 2020

Petani


Setiap profesi, pasti mempunyai resiko masing-masing. Salah satunya profesi tersebut menjadi petani. Kalau petani, otomatis akan bekerja di sawah atau ladang. Dan mayoritas sawah, bisa kita temukan di desa desa. 

Petani bekerja tidak seperti profesi pada umumnya,  tanpa kantor, tanpa AC, tanpa  komputer dan tak perlu memakai seragam resmi. Tidak ada ketentuan libur dalam seminggu. Jam yang digunakan pun sangat berbeda. Petani pada umumnya akan berangkat pagi-pagi sekali, kemudian pulang di jam dia inginkan, ambil sajalah,  yang umum pukul 11.00 siang baru mereka pulang. 

Para petani bekerja di sawah memang jauh dari kata bersih. Basah karena keringat atau hujan sudah jadi langganan. Semilir angin alami menjadi pengurang rasa terik panas matahari.  

Namun, bagi mereka sangat menyenangkan. Hal ini bisa dirasakan, pada raut wajah sumringah mereka. Selain itu, mereka tidak sendiri, apapun musimnya pasti mereka bertemu dengan tetangga tanah sawah, samping kanan kiri, depan atau belakang.

Apalagi waktu sarapan tiba, di gubuk kecil sambil menikmati makanan rumahan, di wadah rantang menjadi kekhasan tersendiri. Tentunya, lebih nikmat dan lezat untuk disantap. Diiringi dengan obrolan-obrolan kecil dan candaan. Seperti sekarang ini, sawah di desa saya masih musim panen cabai. Jadi mustahil di pagi hari sawah sepi.

Perjuangan petani dalam memulai mengolah tanah, menanam, merawat, memupuk, mengairi dan memanen, saya rasa semua petani mempunyai cerita masing-masing. Dan antara petani satu ke petani yang lain bisa bertukar pengalaman. Pada umumnya mereka, tidak sekolah tinggi pertanian, tapi cara otodidak dalam praktek bertani serta pengalaman yang ada, terlahirlah sebuah hasil yang tak mengecewakan.

Mulai dari hasil panen cabai yang melimpah dengan harga murah, hasil cabai berkurang tapi harga mahal, sudah mereka rasakan. Musim cabai mulai dari harga 8.000 rupiah perkilogram hingga saat ini perkilonya mencapai Rp 35.000, 00 menjadi suka duka tersendiri. Bayangkan saja, jika mereka setiap hari memanen cabai, bertepatan dengan harga yang bagus. 

Semisal satu hari mendapat 35 kilogram cabai kemudian harga perkilonya Rp 35.000, 00 berapa total hasil keringat mereka? Iya, sekitar 1.220.000 belum dikalikan seminggu jika tanpa libur. Benar-benar seimbang bukan dengan perjuangannya.

Maka, tidak ada alasan profesi apapun untuk tidak bersyukur atas rizki yang Allah berikan. Dan semua hambaNya sudah ditakdirkan memiliki rizki sesuai dengan jatahnya.

Keep Fighting....

I Love Farmers...

Sabtu, 05 Desember 2020

Payung Warna Warni


Alhamdulillah hujan deras turun ketika, saya sedang berada di salah satu toko. Sembari menikmati hujan turun, sesekali ku melihat sekitar dan lalu lalang kendaraan di jalan raya. Akibat hujan yang deras, air dipinggir jalan raya pun menggenang. 
Hujan tetap deras, pemilik toko mempersilahkan saya dan suami untuk duduk. Alhamdulillah, bisa duduk dengan santai. Tiba-tiba mata saya, melihat payung warna-warni. Mungkin sebagian orang menyebutnya payung pelangi. Karena warnanya yang bermacam-macam.
Payung tersebut letaknya dipojok parkiran toko. Karena payung tersebut sangat besar, saya tak melihat, dibawah payung tersebut apa. Terus saja saya berfokus pada payung warna warni yang besar tersebut. Ketika tertempa air hujan yang sangat besar, dia tetap stay strong. 
Awalnya aku tak penasaran, tapi sesekali kulihat meski hujan deras, tetap  ada yang datang silih berganti. Rasa penasaranku makin tinggi, akhirnya saya memutuskan untuk berdiri dan melihat dari jarak yang lebih dekat. Ternyata dibawah payung tersebut ada gerobak kecil. 
Gerobak tersebut mengeluarkan asap, di sisi kanan gerobak itu ada beberapa botol-botol yang warna merah, coklat muda, dan warna hitam. Pantas saja, kamu payung warna warni, tak kenal sepi. Memang di balik payungmu, tenyata kau pentol cilok yang menggoda. Dan tambah enak dinikmati ketika hujan seperti ini.

Kamis, 03 Desember 2020

Eksistensi

 


Eksistensi kata yang sangat sering kita dengar. Eksistensi berasal dari existere yang artinya muncul, ada, atau timbul. Menurut saya, eksistensi juga bisa diartikan sebagai link, networking, atau relasi. Kita sering mengucapkan kata eksistensi, tapi kadang tidak tahu maknanya.
Eksistensi bisa menjurus ke hal positif atau sebaliknya. Eksistensi itu sendiri, kadang diperlukan dalam berbagai hal terutama dalam prestasi. Semua kembali dan  tergantung dengan yang melakukan.
Setiap manusia pun mempunyai hak untuk menunjukkan eksistensinya. Tapi, perlu di ingat bahwa eksistensi berbeda dengan narsis. Menurut saya, narsis bentuk eksistensi yang mengarah kepada hal yang kurang baik. Kadang narsis akan mengarah pada pemaksaan untuk di manapun dia berada, selalu ingin diakui dan diterima.
Mari kita tunjukkan eksistensi kita dengan hal-hal yang baik. Salah satunya prestasi sesuai dengan bidang kita masing-masing. Tekuni, bersungguh-sungguh, terus eksis dalam bidang tersebut, maka kita tidak hanya dihitung tapi juga diperhitungkan oleh orang lain.
Fighting...

Rabu, 02 Desember 2020

Hujan

Suara air berjatuhan

Di semua sisi atap 

Suara merdumu

Tak ada duanya


Lama aku merindu

Bermain bersama

Melepas tawa 

Diiringi dinginmu


Kau mampu merubah

Kering jadi basah

Layu jadi segar

Panas jadi dingin


Hujan

Kau datang dan pergi

Sesuka hatimu

Tanpa ada larangan


Meski hanya sebentar

Seringlah Datang

Menyirami diriku

Yang Layu.


Selasa, 01 Desember 2020

Salam Rindu



Tak Peduli Berapa Lama Kamu Mengenal

Dimana Lalu Kapan

Semua Begitu Mengalir

Atas KehendakNya

Berawaal Dari Anak Rantauan

Di Mulai Dengan Kelas Kecil

Yang Sering Jadi Cibiran

Sesama Angkatan

Internasional Class Program

Hanya Diduduki Tiga Adam

Dan Sebelas Hawa

Betul Hanya Empat Belas

Tangis Tawa Menyertai

Bukti Sejarah Perjalanan Kita

Mengokohkan Menguatkan

Bangunan Cita-cita Dan Komitmen

            Berjaya Dan Sukses

            Go International

            Memakai Toga Bersama

Wahai… Sahabat Icp 2012 ku

Setiap Canda Tawamu

Melukis Kerinduan

Yang Amat Dalam



 

Salam Rindu Untuk Kalian

Safirda Nilam Wardah

Umi Inayati

Suryaningtyas

Silvy Maghfiroh

Azkiya Vitakunnisa

Ulfa Agus Yudha

Erna Mufidatus Solihah

Satria Fitri

Itsna Amaliya

Nur Azizah Irmasari

Mohammad Ali Makhrus

Mokhammad Khoirul Anwar

Mohammad Ali Farhan


Wanginya

  aku melihat di awal lalu aku mendekatinya dia pun mulai menyadari wangi itu tidak asing namun  perlahan aku menepisnya dan tidak memperdul...